Hilal di Musim Hujan
Langit hitam. Meski begitu.
Bintik-bitik terang menjadikannya indah. Lingkaran putih terang menambah
keelokannya. Iffah terus mengutak-atik laptopnya. Sejenak meninggalkan
tulisannya yang sejak tadi tak kunjung selesai. Mencari hiburan dengan membaca
status-status yang ada diberanda fesbuknya.
Ada pemandangan aneh tepat didepan
matanya. Wajah yang ada di depannya mengingatkan pada sesorang. Lama tak ia
lihat wajah itu meski hanya di dunia maya.
“Masyaallah” lirihnya. Ia melihat
seorang perempuan cantik berfoto berdua dengannya. “Astagfirullah, jangan
suudzan fa” lirihnya kembali.
“Atau mungkin itu istrinya?”
pikirnya kecewa.
Penyesalan tiba-tiba terbersit dalam
hatinya. Ia teringat bagaimana dulu ia mengabaikannya. Ia menjauh. Menghindar
karena tak ingin ada fitnah di antara mereka.
“Ya, Allah ada apa denganku.
Kenapa hatiku terasa sakit” batinnya. Ia kembali mengucap istigfar. Penuh
kekhusukan.
Ifah menutup dinding facebook Aris.
Menerawang jauh. Pikirannya terhenti pada sosok Aris. Bagaimana Ia dulu
menikmati setiap senyum darinya. Membalas setiap surat sebelum ia berkomitmen
hijrah menjadi seorang muslimah seutuhnya. Mendapati sikap salah tingkah Aris
maupun dirinya. Meraba kembali kata pada surat terakhir Aris untuknya. “Aku
berjanji insyaAllah aku akan datang memintamu menjadi pendampingku kelak”.
Namun sosok Aris tiba-tiba berubah buram. Tak lagi ia kenal. Wajah perempuan
bersama objek lamunannya kembali membuyarkan pikirannya. Ia merasakan sakit
yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
*
“In, aku sakit” Ifah membuka
pembicaraan, memecah keheningan. Indah sejenak meninggalkan bacaannya.
“Kamu
sakit apa fa?” serbu Indah kaget dengan ucapan sahabatnya.
“Aku
bingung sakit apa In. Sejak semalam hatiku sakit sekali. Apa mungkin aku telah
merasakan hal yang orang-orang diluar sana agungkan” curhat Ifah membuat mata
indah melongok.
“Maksud
kamu, cinta?” pungkas Indah menambah dalam tusukan duri di hatinya.
“Maybe”
singkat Ifah sebelum menjelaskan apa yang selama ini rasakan hingga foto itu ia
temukan. Indah menyimak setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.
Indah
menarik nafas dalam. Baru kali ini ia dengar sahabatnya mengutarakan
perasaannya tentang laki-laki padanya. “Hati-hati dengan satu kata itu Fa.
Jangan terlalu memporsir tenaga untuk memikirkannya. Cinta itu fitrahnya
manusia. Allah tak melarang kita jatuh cinta. Tapi ingat perasaan itu sebelum
di ikat dengan ikatan suci pernikahan, ada banyak hal yang mampu menjatuhkan
kita ke lubang maksiat. Jika wanita itu istrinya mungkin Ia memang bukan
jodohmu. Jika itu pacarnya jawabannya sudah jelas. Perempuan yang baik untuk
laki-laki yang baik. Tindakan kamu menjauhinya dulu aku rasa sudah tepat” jelas
Indah membuka mata hati Iffah.
“Mungkin
Allah rindu dengan rintihanmu Fa, kau terlalu sibuk dengan duniamu. Allah rindu
dengan cintamu hingga Ia sedikit mencubit hatimu. Sambutlah kerinduan-Nya.
Dekatkanlah hatimu pada-Nya” tutup Indah. Hati Iffah tersentak mendengar
setiap kata tulus dari sahabatnya.
Iffah
terdiam. ”Cinta. Mencinta karena berharap cinta dari pemilik segala cinta. Ya,
itulah kata yang paling tepat untuk mendefinisikan cinta” jelasnya dalam hati.
*
Dua
mangkuk bakso terhidang di meja kayu tepat dihadapan Iffah dan Indah. Asapnya
mengepul. Siap untuk di santap. Pun baunya sangat menggoda tenggorokan.
“Ngomong-ngomong
tumben kamu traktir aku” ujar Iffah sambil menuangkan sambal di mangkuknya.
Indah tersenyum kecil.
“Aku hanya
ingin merayakan kembalinya serpihan diri sahabatku ini yang sempat hilang”
pungkasnya.
“Ah kau
ini” ujarnya menahan tekanan hatinya. “Salah in, aku belum sepenuhnya
menemukan diriku. Dalam hatiku masih ada baying-bayangnya. Butuh waktu. Tapi
aku akan segera melupakannya. Meskipun berat, tapi saya yakin bisa ” lanjutnya
dalam hati.
“Kak
iffah…”Ia mendengar seseorang memanggil namanya.
Ia
tersentak melihat wajah seorang yang memanggil namanya. Di lihatnya kembali
baik-baik orang itu. Mencoba mencocokkan dengan wajah yang pernah ia kenal.
Jantungnya berdebar kencang. Ada desiran aneh yang ia rasakan. Cemburu. Ia
mulai yakin menyebutnya meski masih dalam hati.
“Kak Iffah
kan, teman SMA kak Aris?, aku Lina.
“Tunggu
dulu. Aris setiawan maksud kamu?” potongnya kaget.
“Iya kak.
Dia kakak kandungku satu-satunya. Oya, ini kak Aris nitip surat untuk kakak.
Sudah lama tapi baru kali aku menemukan kakak.
*
Iffah
membuka surat dari Aris. Matanya berkaca-kaca membaca setiap kata yang tertulis
untuknya. “Bertahun-tahun aku mencari seorang wanita solehah untuk
mendampingiku dalam menapaki perjuangan ini. Meski hatiku sudah menemukannya.
Bagiku menemukan sosoknya di tengah system kapitalis hari ini sangat sulit. Dia
seperti HILAL awal ramadhan di musim hujan. Semua menantinya. Tapi tak semua
orang mampu menemukanya. Dan, aku berharap akulah orang yang beruntung itu.
Maaf kalau cara ini mungkin salah di matamu. Agar tak terjadi fitnah seperti
yang selama ini kau takutkan. Aku akan melamarmu” butir-butir bening
bahagia akhirnya tumpah dari peraduannya yang selama ini menunggu waktu yang
tepat untuk bersua dengan alam.

0 komentar:
Posting Komentar