Kamis, 09 Agustus 2012

Hilal di Musim Hujan

Langit hitam. Meski begitu. Bintik-bitik terang menjadikannya indah. Lingkaran putih terang menambah keelokannya. Iffah terus mengutak-atik laptopnya. Sejenak meninggalkan tulisannya yang sejak tadi tak kunjung selesai. Mencari hiburan dengan membaca status-status yang ada diberanda fesbuknya.
Ada pemandangan aneh tepat didepan matanya. Wajah yang ada di depannya mengingatkan pada sesorang. Lama tak ia lihat wajah itu meski hanya di dunia maya.
“Masyaallah” lirihnya. Ia melihat seorang perempuan cantik berfoto berdua dengannya. “Astagfirullah, jangan suudzan fa” lirihnya kembali.
“Atau mungkin itu istrinya?” pikirnya kecewa.
Penyesalan tiba-tiba terbersit dalam hatinya. Ia teringat bagaimana dulu ia mengabaikannya. Ia menjauh. Menghindar karena tak ingin ada fitnah di antara mereka.
 “Ya, Allah ada apa denganku. Kenapa hatiku terasa sakit” batinnya. Ia kembali mengucap istigfar. Penuh kekhusukan.
Ifah menutup dinding facebook Aris. Menerawang jauh. Pikirannya terhenti pada sosok Aris. Bagaimana Ia dulu menikmati setiap senyum darinya.  Membalas setiap surat sebelum ia berkomitmen hijrah menjadi seorang muslimah seutuhnya. Mendapati sikap salah tingkah Aris maupun dirinya. Meraba kembali kata pada surat terakhir Aris untuknya. “Aku berjanji insyaAllah aku akan datang memintamu menjadi pendampingku kelak”.  Namun sosok Aris tiba-tiba berubah buram. Tak lagi ia kenal. Wajah perempuan bersama objek lamunannya kembali membuyarkan pikirannya. Ia merasakan sakit yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
*
“In, aku sakit” Ifah membuka pembicaraan, memecah keheningan. Indah sejenak meninggalkan bacaannya.
“Kamu sakit  apa fa?” serbu Indah kaget dengan ucapan sahabatnya.                    
“Aku bingung sakit apa In. Sejak semalam hatiku sakit sekali. Apa mungkin aku telah merasakan hal yang orang-orang diluar sana agungkan” curhat Ifah membuat mata indah melongok.
“Maksud kamu, cinta?” pungkas Indah menambah dalam tusukan duri di hatinya.
“Maybe” singkat Ifah sebelum menjelaskan apa yang selama ini rasakan hingga foto itu ia temukan. Indah menyimak setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.
Indah menarik nafas dalam. Baru kali ini ia dengar sahabatnya mengutarakan perasaannya tentang laki-laki padanya. “Hati-hati dengan satu kata itu Fa. Jangan terlalu memporsir tenaga untuk memikirkannya. Cinta itu fitrahnya manusia. Allah tak melarang kita jatuh cinta. Tapi ingat perasaan itu sebelum di ikat dengan ikatan suci pernikahan, ada banyak hal yang mampu menjatuhkan kita ke lubang maksiat. Jika wanita itu istrinya mungkin Ia memang bukan jodohmu. Jika itu pacarnya jawabannya sudah jelas. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Tindakan kamu menjauhinya dulu aku rasa sudah tepat” jelas Indah membuka mata hati Iffah.
“Mungkin Allah rindu dengan rintihanmu Fa, kau terlalu sibuk dengan duniamu. Allah rindu dengan cintamu hingga Ia sedikit mencubit hatimu. Sambutlah kerinduan-Nya. Dekatkanlah hatimu pada-Nya” tutup Indah. Hati  Iffah tersentak mendengar setiap kata tulus dari sahabatnya.
Iffah terdiam. ”Cinta. Mencinta karena berharap cinta dari pemilik segala cinta. Ya, itulah kata yang paling tepat untuk mendefinisikan cinta” jelasnya dalam hati.
*
Dua mangkuk bakso terhidang di meja kayu tepat dihadapan Iffah dan Indah. Asapnya mengepul. Siap untuk di santap. Pun baunya sangat menggoda tenggorokan.
“Ngomong-ngomong tumben kamu traktir aku” ujar Iffah sambil menuangkan sambal di mangkuknya. Indah tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin merayakan kembalinya serpihan diri sahabatku ini yang sempat hilang” pungkasnya.
“Ah kau ini” ujarnya menahan  tekanan hatinya. “Salah in, aku belum sepenuhnya menemukan diriku. Dalam hatiku masih ada baying-bayangnya. Butuh waktu. Tapi aku akan segera melupakannya. Meskipun berat, tapi saya yakin bisa ” lanjutnya dalam hati.
“Kak iffah…”Ia mendengar seseorang memanggil namanya.
Ia tersentak melihat wajah seorang yang memanggil namanya. Di lihatnya kembali baik-baik orang itu. Mencoba mencocokkan dengan wajah yang pernah ia kenal. Jantungnya berdebar kencang. Ada desiran aneh yang ia rasakan. Cemburu. Ia mulai yakin menyebutnya meski masih dalam hati.
“Kak Iffah kan, teman SMA kak Aris?, aku Lina.
“Tunggu dulu. Aris setiawan maksud kamu?”  potongnya kaget.
“Iya kak. Dia kakak kandungku satu-satunya. Oya, ini kak Aris nitip surat untuk kakak. Sudah lama  tapi baru kali aku menemukan kakak.
*
Iffah membuka surat dari Aris. Matanya berkaca-kaca membaca setiap kata yang tertulis untuknya. “Bertahun-tahun aku mencari seorang wanita solehah untuk mendampingiku dalam menapaki perjuangan ini. Meski hatiku sudah menemukannya. Bagiku menemukan sosoknya di tengah system kapitalis hari ini sangat sulit. Dia seperti HILAL awal ramadhan di musim hujan. Semua menantinya. Tapi tak semua orang mampu menemukanya. Dan, aku berharap akulah orang yang beruntung itu. Maaf kalau cara ini mungkin salah di matamu. Agar tak terjadi fitnah seperti yang selama ini kau takutkan. Aku akan  melamarmu” butir-butir bening bahagia akhirnya tumpah dari peraduannya yang selama ini menunggu waktu yang tepat untuk bersua dengan alam.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca