Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2015

Air Mata Pengantin

Nyanyian alat-alat dapur bersahutan. Bertalu-talu di sepanjang sudut rumah. Suara ibu-ibu bercengkerama menambah riuh. Nampak ibu-ibu setengah berbisik. Sesekali tawa terbahak yang tertahan terdengar.
Mata Lisa masih tampak jelas bengkak. Tak terhitung berapa banyak bulir bening yang tumpah dari peraduannnya. Tak tertakar seberapa perih sakit di dadanya. Tersenyum ikhlas pun nyaris ia lupa. Namun ia tetap berusaha tersenyum meskipun kecut tak bisa di pungkiri.
Sepekan lagi acara yang harusnya sakral dalam hidup Lisa akan diadakan. Kehidupan berumah tangga bersama lelaki yang tak pernah ia kenal sebelumnya hampir di depan mata. Tak ada pilihan baginya untuk memilih pasangan hidup. Adat perjodohan di keluarganya memaksa Lisa menurut.
Lelaki yang datang tiga bulan yang lalu untuk melamar Lisa ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Keluarganya tak biasa mendapati seorang lelaki yang datang melamar langsung. Apalagi untuk lelaki dengan jenggot dan celana cingkrangnya. Meskipun ditolak, lelaki itu dan Lisa tidak patah hati. Toh, mereka tidak ada hubungan asmara sebelumnya. Yang mereka sesalkan hanya alasan penolakannya.
“Kasihan bapak, fobia islam masih menggerogotinya” batin Lisa
Selang beberapa bulan setelahnya ada gelagat aneh di rumah Lisa. Tak ada yang memberi tahunya tentang itu. Dua kali di rumahnya ada acara tapi Lisa tak tau jelas dalam rangka apa.
“Syukuran motor baru kakakmu, Indra nak” jawab ibunya saat ditanya Lisa.
Lisa merasa ada yang janggal dari jawaban ibunya. Bukan kebiasaan ibunya memanggil keluarga besarnya hanya untuk sykuran motor baru. Kecurigaan Lisa memuncak saat tidak sengaja ia temukan undangan di depan komputer, lalu buru-buru Indra menyebunyikannya.
Baru beberapa hari yang lalu Lisa di beritau yang sebenarnya terjadi. Itupun dari sepupu dan adik perempuannya. Mereka tak tega melihat Lisa terlalu lama menyimpan tanya. Jika bukan karena ibunya yang melarang mereka sudah memberi tahu Lisa dari dulu. Lisa meradang. Tangisnya pecah. Kecurigaannya selama ini terbukti.
Beberapa hari Lisa mengurung diri di kamar. Meratapi kesedihannya. Lisa masih bisa menerima jika dijodohkan. Yang sulit ia terima adalah sikap orangtuanya yang tidak memberitahukan sejujurnya pada Lisa jauh-jauh hari.
“Ma, kenapa tidak di kasi tau memang dari dulu sama Lisa bilang mauki jodohkanki” tanya adik Lisa pada ibunya.
“Kenapa mesti dikasi tahu, kita juga dulu tidak dikasi tau jaki” jawab ibunya.
***
Tak ada pilihan lain bagi Lisa selain menerima perjodohannya. Dui mendre sudah keluarganya terima. Undangan telah disebar. Keluarganya akan malu jika ia menolak. Bakti kepada orangtuanya jadi alasan kuat dia menerima. Meskipun belum sepenuhnya.
“Jadi bagaimana nak, maumi ini acara pernikahanta” basa-basi ibu Lisa
“Iye, kuterimami. Tapi mauka minta tolong, boleh?” tanya Lisa
“Iye apa nak?” jawab ibunya
“Janganmaka di kellu. Baru di pisah juga pengantin sama tamu laki-laki dengan perempuannya” pinta Lisa
“Bagaimana bisa, adatta itu. Tidak bisa di buang”
“Iye ma, tapi kukira dalam islam tidak boleh orang cukur alis. Nabita bilang” Lisa menjelaskan dengan santun
“Inimi na takutkan bapakta, makanya natolak orang yang dulu datang. Tapi kenapa sekarang masih beginiki”
Lisa hanya menanggapi perkataan ibunya dalam hati. Ia tak ingin berbicara lebih banyak. Takut ibunya tersinggung dengan kata-katanya dan merasai digurui.
***
Ayah Lisa marah besar setelah mendengar permintaan Lisa dari ibunya. Ia tetap akan melaksanakan adat seutuhnya. Tidak peduli Lisa setuju atau tidak. Sebagai anak Lisa harus mengikuti keinginan orangtuanya.
Lisa kembali menangis. Ia berlutut memohon pada ayahnya agar mengabulkan permintaannya. Namun Ayahnya tetap bersikeras menolak.
Ayah Lisa menarik kakinya lalu pergi meninggalkannya. Derai air mata Lisa makin membuncah.
Baru saja ibunya juga hendak meninggalkannya. Buru-buru ia cegah. Menarik tangan ibunya. Lisa meletakkan keningnya di tangan ibunya. Ia memohon agar membujuk ayahnya. “Ma, saya mohon. Kasi tahu bapak. Saya takut dosa, ma”
Lisa tak henti-hentinya memohon. Bulir asin yang tertahan di mata ibunya kini benar-benar tumpah. Ia tak tega. Baru kali ini ia melihat anaknya memohon seperti itu. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan ayah Lisa.
“Sudahlah, terserah kamu saja. Kalau keluarga besar kita marah. Kamu tanggung sendiri” Lisa tersentak dengan suara ayahnya yang tetiba muncul.
Seketika rona wajah Lisa berubah. Lisa lega izin ayahnya telah ia genggam meskipun seperti terpaksa. Selanjutnya ia harus menyiapkan mental karena tau jelas prinsip keluarga besarnya terhadap adat. Ia harus siap dengan segala resikonya. Toh memang seperti itulah sejatinya perjuangan.
Seseorang akan sulit lepas sepenuhnya dari bayang-bayang adat dan budaya. Dimanapun ia berada. Lisa menyadari itu. Ia berjuang untuk meyakinkan keluarganya bahwa adat dan budaya tak boleh memakan keyakinan kita. warisan nenek moyang kita tak perlu di musnahkan seutuhnya. Hanya butuh disesuaikan pada keyakinan agama kita.


Om Google

Selasa, 11 November 2014

Dua Wajah Revolusioner

Bahan bakar minyak untuk sekian kalinya akan dinaikkan. Sebanyak kali itu pula mahasiswa turun kejalan untuk menolak kenaikan tersebut. Jalan protokol tumpah ruah oleh air bah lautan manusia yang katanya memperjuangkan nasib rakyat. Suara pendemo bersahutan dengan deru kendaraan yang sejak tadi tersendat jalannya. Asap hitam tak kalah ramainya mengepul akibat ban yang sengaja dibakar oleh para pejuang rakyat tersebut. Lalu ocehan para pengguna jalan menambah lengkap aksi mereka. Sayangnya para demonstran itu nampaknya harus kecewa karena ocehan mereka bukan untuk pemerintah melainkan untuk orang yang "memperjuangkan nasibnya". Mereka tak mendapat dukungan dari warga. Bahkan ditempat lain warga malah balik melawan para pejuang rakyat tersebut. 

Menyandera SPBU jadi aksi andalan para pendemo tiap kali rencana kenaikan BBM. Kali ini giliran truk tangki minyak pertamina yang disandera. Mungkin mereka mengira, cara ini bisa mengancam para dedengkot pemerintahan untuk segera mengurungkan niatnya menaikan harga BBM. Sayangnya cara inipun tak berhasil.
Sementara di barisan lain tak kalah ramainya. Mereka juga datang berkumpul untuk meyuarakan dengan lantang penolakan mereka terhadap rencana kenaikan BBM. Bedanya aksi mereka tidak dihiasi kepulan asap ban. Juga tidak menyandera tangki atau SPBU pertamina. Mereka membawa bendera yang bertuliskan Lailaha Illallah. Ada yang berwarna putih dan ada pula yang berwarna hitam. Mereka menyebutnya sebagai bendera islam, karena Rasulullah dan para sahabat selalu memakainya termasuk saat perang.
"Allahuakbar" pekik salah seorang dari barisan yang membawa bendera islam. Segera diiukuti seluruh peserta dibelakangnya sambil mengangkat tangan kanan yang dikepal. 
"Hidup mahasiswa" teriak barisan kiri tak mau kalah. Mereka juga mengangkat kepalan tangan. Bedanya mereka mengangkat tangan kiri. 
"Omong kosong jika Jokowi tidak tahu bahwa jika BBM naik rakyat semakin sengsara" tegas salah satu orator aksi di barisan kanan. Tetiba depan gedung wakil rakyat dibuat panas dengan orasi yang membara.
“Rezim Jokowi tak berbeda dengan rezim – rezim sebelumnya.” tambahnya
Barisan kiri tak mau ketinggalan menghantam pemerintah dengan lemparan kata-kata tegas. "Jangan naikkan harga BBM, hentikan penindasan terhadap rakyat" teriak salah seorang diatas truk tangki minyak pertamina. 
"Kenaikan harga BBM akan semakin mempersulit kehidupan rakyat jelata, harga sembako dan ongkos transportasi akan semakin mahal dan tidak terjangkau daya beli masyarakat," ujar orator tersebut.
Suara lantang menolak rencana kenaikan BBM bertalu-talu di telinga para pengguna jalan. Lambat laun suara tersebut pun akan sampai ditelinga presiden. Bahkan jauh sebelumnya presiden sudah bisa menebak gelombang penolakan ini pasti terjadi. Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya. Toh, hampir seluruh presiden pernah merasakannya. Namun selalu saja mereka tetap menaikkan harga BBM.
***
Om Google
"Buang-buang waktu saja ini semua mahasiswa. Bukannya pergi belajar, malah demo tidak jelas. Mengganggu perjalanan orang saja" komentar salah satu penumpang pete-pete tepat disamping duduk Riska.
"Trus gimana dong bu. Di keritik begini saja mereka tetap naikkan harga BBM, apalagi kalau tidak dikeritik sama sekali. Lagian mengkritik itu tugas kita. Ya rakyat ini" Riska menimpali
"Mengkeritik sih, mengkeritik. Tapi kan bisa tidak membuat macet seperti ini. Kita hargai niatnya memperjuangkan nasib rakyat. Tapi caranya ini, bikin emosi" keluhnya
"Tapi kata mereka, ini salah satu strategi untuk menunjukkan kemarahannya pada pemerintah" 
"Buat apa. Kalau begini, warga malah ikut marah sama mereka" 
Riska tersenyum tanda setuju 
"Saya kiri depan fly over yah pak" teriak Riska kepada pak sopir.
"Mau kemana dek?" tanya ibu disampingnya penasaran
"Saya ikut barisan aksi damai yang sebelah kanan sana bu"
"Ini bu, saya ada buletin berisi penolakan kami terhadap kenaikan BBM" tambahnya sambil menyodorkan selebaran berwarna biru. 
"Kiri" teriak Riska agak pelan tapi cukup jelas oleh pak sopir.
***
Kebijakan ini harus segera di hentikan, dan sebagai gantinya, Migas dan SDA dikelola sesuai tuntutan syariah untuk kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh rakyat, baik muslim maupun non muslim. Dengan penerapan syariah Islam secara Kaffah dalam naungan Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwah. 

Ia baca dengan pelan baris-baris terakhir dari buletin yang baru saja ia dapatkan. "Khilafah" pikirnya mengingat kata yang pernah ia dengar sebelumnya. Masih samar.


Maros, 11 November 2014 / sehari sehabis hari pahlawan

Kamis, 09 Agustus 2012

Hilal di Musim Hujan

Langit hitam. Meski begitu. Bintik-bitik terang menjadikannya indah. Lingkaran putih terang menambah keelokannya. Iffah terus mengutak-atik laptopnya. Sejenak meninggalkan tulisannya yang sejak tadi tak kunjung selesai. Mencari hiburan dengan membaca status-status yang ada diberanda fesbuknya.
Ada pemandangan aneh tepat didepan matanya. Wajah yang ada di depannya mengingatkan pada sesorang. Lama tak ia lihat wajah itu meski hanya di dunia maya.
“Masyaallah” lirihnya. Ia melihat seorang perempuan cantik berfoto berdua dengannya. “Astagfirullah, jangan suudzan fa” lirihnya kembali.
“Atau mungkin itu istrinya?” pikirnya kecewa.
Penyesalan tiba-tiba terbersit dalam hatinya. Ia teringat bagaimana dulu ia mengabaikannya. Ia menjauh. Menghindar karena tak ingin ada fitnah di antara mereka.
 “Ya, Allah ada apa denganku. Kenapa hatiku terasa sakit” batinnya. Ia kembali mengucap istigfar. Penuh kekhusukan.
Ifah menutup dinding facebook Aris. Menerawang jauh. Pikirannya terhenti pada sosok Aris. Bagaimana Ia dulu menikmati setiap senyum darinya.  Membalas setiap surat sebelum ia berkomitmen hijrah menjadi seorang muslimah seutuhnya. Mendapati sikap salah tingkah Aris maupun dirinya. Meraba kembali kata pada surat terakhir Aris untuknya. “Aku berjanji insyaAllah aku akan datang memintamu menjadi pendampingku kelak”.  Namun sosok Aris tiba-tiba berubah buram. Tak lagi ia kenal. Wajah perempuan bersama objek lamunannya kembali membuyarkan pikirannya. Ia merasakan sakit yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
*
“In, aku sakit” Ifah membuka pembicaraan, memecah keheningan. Indah sejenak meninggalkan bacaannya.
“Kamu sakit  apa fa?” serbu Indah kaget dengan ucapan sahabatnya.                    
“Aku bingung sakit apa In. Sejak semalam hatiku sakit sekali. Apa mungkin aku telah merasakan hal yang orang-orang diluar sana agungkan” curhat Ifah membuat mata indah melongok.
“Maksud kamu, cinta?” pungkas Indah menambah dalam tusukan duri di hatinya.
“Maybe” singkat Ifah sebelum menjelaskan apa yang selama ini rasakan hingga foto itu ia temukan. Indah menyimak setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.
Indah menarik nafas dalam. Baru kali ini ia dengar sahabatnya mengutarakan perasaannya tentang laki-laki padanya. “Hati-hati dengan satu kata itu Fa. Jangan terlalu memporsir tenaga untuk memikirkannya. Cinta itu fitrahnya manusia. Allah tak melarang kita jatuh cinta. Tapi ingat perasaan itu sebelum di ikat dengan ikatan suci pernikahan, ada banyak hal yang mampu menjatuhkan kita ke lubang maksiat. Jika wanita itu istrinya mungkin Ia memang bukan jodohmu. Jika itu pacarnya jawabannya sudah jelas. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Tindakan kamu menjauhinya dulu aku rasa sudah tepat” jelas Indah membuka mata hati Iffah.
“Mungkin Allah rindu dengan rintihanmu Fa, kau terlalu sibuk dengan duniamu. Allah rindu dengan cintamu hingga Ia sedikit mencubit hatimu. Sambutlah kerinduan-Nya. Dekatkanlah hatimu pada-Nya” tutup Indah. Hati  Iffah tersentak mendengar setiap kata tulus dari sahabatnya.
Iffah terdiam. ”Cinta. Mencinta karena berharap cinta dari pemilik segala cinta. Ya, itulah kata yang paling tepat untuk mendefinisikan cinta” jelasnya dalam hati.
*
Dua mangkuk bakso terhidang di meja kayu tepat dihadapan Iffah dan Indah. Asapnya mengepul. Siap untuk di santap. Pun baunya sangat menggoda tenggorokan.
“Ngomong-ngomong tumben kamu traktir aku” ujar Iffah sambil menuangkan sambal di mangkuknya. Indah tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin merayakan kembalinya serpihan diri sahabatku ini yang sempat hilang” pungkasnya.
“Ah kau ini” ujarnya menahan  tekanan hatinya. “Salah in, aku belum sepenuhnya menemukan diriku. Dalam hatiku masih ada baying-bayangnya. Butuh waktu. Tapi aku akan segera melupakannya. Meskipun berat, tapi saya yakin bisa ” lanjutnya dalam hati.
“Kak iffah…”Ia mendengar seseorang memanggil namanya.
Ia tersentak melihat wajah seorang yang memanggil namanya. Di lihatnya kembali baik-baik orang itu. Mencoba mencocokkan dengan wajah yang pernah ia kenal. Jantungnya berdebar kencang. Ada desiran aneh yang ia rasakan. Cemburu. Ia mulai yakin menyebutnya meski masih dalam hati.
“Kak Iffah kan, teman SMA kak Aris?, aku Lina.
“Tunggu dulu. Aris setiawan maksud kamu?”  potongnya kaget.
“Iya kak. Dia kakak kandungku satu-satunya. Oya, ini kak Aris nitip surat untuk kakak. Sudah lama  tapi baru kali aku menemukan kakak.
*
Iffah membuka surat dari Aris. Matanya berkaca-kaca membaca setiap kata yang tertulis untuknya. “Bertahun-tahun aku mencari seorang wanita solehah untuk mendampingiku dalam menapaki perjuangan ini. Meski hatiku sudah menemukannya. Bagiku menemukan sosoknya di tengah system kapitalis hari ini sangat sulit. Dia seperti HILAL awal ramadhan di musim hujan. Semua menantinya. Tapi tak semua orang mampu menemukanya. Dan, aku berharap akulah orang yang beruntung itu. Maaf kalau cara ini mungkin salah di matamu. Agar tak terjadi fitnah seperti yang selama ini kau takutkan. Aku akan  melamarmu” butir-butir bening bahagia akhirnya tumpah dari peraduannya yang selama ini menunggu waktu yang tepat untuk bersua dengan alam.

Jumat, 06 Juli 2012

Rantai Sesal



Langit mendung. Awan hitam. Perlahan tapi pasti butiran air mulai jatuh menimpa kulit Rani. Ia tak beranjak. Ia tetap di sana menikmati kesedihannya. Menikmati keterpurukannya. Mengingat nasib kakaknya, lemparan kerikil itu semakin jauh. Danau di hadapannya punya sejarah sendiri bersama kakak dan sahabatnya. Mereka bertiga terbiasa menikmati sore bersama di sana. Ada banyak cerita di balik danau itu. Impian, harapan, serta kesedihan mewarnainya.
“Tidak…..dia bukan seorang sahabat!” pikirnya sembari melempar krikil tuk kesekian kalinya. Jauh melewati lemparan sebelumnya.
“Assalamu’alaikum.” terulur tangan Nana tepat di depan tangan kanan Rani yang baru saja melemparkan kerikil.
Rani mencoba mengingat suara yang baru saja di dengarnya, sebelum melihat siapa pemilik suara itu. “Wa’alaikumussalam.” jawabnya lirih hampir tak terdengar.
“Kamu kenapa Ran, ada masalah? Katakan padaku…” Nana memegang pundak Rani ragu.
“Kamu yang kenapa datang ke sini, pergi sana aku tidak kenapa-kenapa. Aku bahagia.” pundaknya ia jauhkan dari tangan Nana. Nana mencari mata sahabatnya yang tak pernah lagi Ia temukan berpapasan dengan matanya.
“Kenapa, apa kamu pikir aku berbohong. Aku sangat bahagia. Hahahahhaha.” ia tertawa seperti terpaksa. Nana diam tak percaya.
“Aku kangen sama kamu Ran, aku rindu kedekatan kita dulu. Meski aku tak ingin kembali ke masa itu. Masa yang menurutku sangat suram.” ucap Nana dalam.
“Apa maksudmu masa suram, kamu pikir aku yang telah membawamu ke masa suram itu. Aku tahu Nan, sekarang kamu sudah punya teman yang lain. Kamu anggap aku ini tak lebih dari syaitan yang mengajarimu berbuat dosa. Iya kan, itu maskudmu?”
“Bukan begitu Ran, mungkin aku menyesal karena pernah menghabiskan waktu hanya untuk perbuatan yang sia-sia bahkan dilarang islam. Tapi….” Belum sempat Nana melanjutkan penjelasannya, Rani memotong.
“Tapi apa, sudahlah aku kecewa sama kamu. Sangat kecewa.” ucapnya lirih menahan air mata yang hampir tumpah. Ia beranjak dari tempat duduknya. Nana hanya memandang diam, tak kuasa menghalanginya pergi. Ia ingin sekali memeluk sahabatnya . Ia urungkan niatnya karena tahu kondisi yang tak mendukung.
Baru beberapa langkah Rani berjalan, ia berhenti. “Inikah yang namanya pengemban dakwah?” ucapnya sebelum melanjutkan langkahnya.
Deg, jantung Nana serasa tertusuk pedang hingga menembus tulang sumsumnya. Nana, terdiam. Ingin Ia panggil Rani kembali menjelaskan apa maskud perkataannya. Mulutnya membisu. Tak sepatah katapun yang mampu keluar. Hatinya menangis. “Ya Rabb, ampuni dosa hambamu ini jika ternyata perkataan hamba kepadanya ada yang salah.” doanya dalam hati. Ia hanya bisa memandangi Rani dengan sejuta tanda tanya. Tanya yang ingin segera ia temukan jawabannya langsung dari mulut Rani.
*
“Inikah maksudmu?” ada butir-butir bening yang jatuh dari mata Nana memandangi layar laptopnya. Ia terisak. Kerah depan bajunya basah karenanya. Ia tengok album foto hijau di depannya. Isakannya semakin keras.
Nana menyender lemas. Kata “DAKWAH hanya sebuah KEDOK” kini menghantuinya. Ia ingin berlari menemui Si empu kata itu. “Tak mungkin keluar, sudah jam sepuluh malam.” pikirnya kecewa.
*
Keduanya membisu. Tak ada kata. Hanya tatapan tajam.
“ Datang tanpa sepatah kata. Aneh…” ujar Rani menusuk mengawali pembicaraan.
“Dakwah hanya kedok.” hanya tiga kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Nana. Air asin yang selama ini ia tahan kembai tumpah.
Rani mulai sadar status yang Ia posting  telah dibaca. Mulutnya terkunci tapi bergerak. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Pandangannya tajam pada Nana.
“Ya, aku memang sengaja tulis itu untukmu. Aku tak habis pikir kau paksa aku memutuskan Arwan. Aku sudah tahu semuanya, Arin  telah menceritakannya padaku. Kau menyuruhnya memberi tahu padaku untuk menjauhi Arwan dengan alasan yang tidak masuk akal.  Aku tahu kau tak mau pacaran. Tapi kenapa kau paksa pula aku meninggalkannya. Dia baik Na, dia tak seperti laki-laki lain. Dia pula yang membantuku membayar biaya rumah sakit kakak aku. Dia bahkan mengajariku agama. Tak seperti dirimu, orang bilang kau pendakwah. Tapi tidak bagiku. kau….fitnah dia, itukah yang namanya seorang pengemban dakwah?” jelas Rani sebelum Ia tutup pintu kosannya, bertambah derai air mata Nana.
Nana hancur, hatinya terasa tercabik-cabik. baru saja orang yang paling ia sayangi membuangnya. Membuang harga dirinya. Paling tidak dimatanya sendiri. pun ia pulang dengan kesakitannya.
Belum lama Nana berlalu, ponsel Rani bergetar. Segera ia buka inboxnya. “Maaf  Ran, aku harus bilang kalau Nana benar. Arwanlah yang jadi dalang dibalik hilangnya keperawanan kakakmu. Aku tahu setelah aku mendengar percakapannya dengan pacar aku. Kalau kamu tak percaya aku akan kirimkan rekaman pembicaraan mereka berdua” Rani tersentak membaca pesan singkat dari salah satu teman kelasnya. Ia membuka pintu kamarnya. Berharap masih ada Nana disana. Sayangnya ia terlambat. 
“Arggggg, aku tak percaya. Bodoh sekali aku. Laki-laki bajingan itu telah merusak semuanya. Merenggut keperawanan kakak, merebut kepercayaanku yang tak layak untuknya dan….merusak  persahabatanku” katanya menekan kepalanya. Sangat keras. Ia tersungkur, jatuh bersama penyesalannya.  



Jumat, 22 Juni 2012

Indonesia Vs Malaysia


Semua rama meneriakkan Indonesia …Indonesia… Indonesia . Larut dalam keheningan menanti hasil pertandingan. Siapa yang akan mnejadi pemenang menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu malam ini. bagaimana tidak selama ini Indonesia dan Malaysia sangat sering terseret masalah sengketa. Entah itu sengketa pulau, lagu daerah, tarian daerah serta beberapa warisan budaya yang lain. Malaysia menjadi musuh bubuyutan Indonesia.
Gol... gol…gol… yah, satu gol diciptakan oleh gunawan mengawali pesta kemeriahan di Stadion Bung Karno. Semuanya larut dalam selebrasi kemenangan. Ada yang meniup terompet dan yang lainnya memukulkan botol air mineral hingga terdengar suara gaduh di seluruh penjuru stadion. Tak terkecuali aku dan teman-teman tetangga kamar kost. Meski hanya menonton pertandingan lewat layar kaca Hp. Aku dan teman-teman tetap bahagia. Berharap Indonesia, garuda muda bisa mempersempahkan emas untuk Indonesia.
Namun kesenangan itu tak bertahan lama. Beberapa menit kemudian Malaysia berhasil menyamakan kedudukan. Kini giliran Malaysia yang merayakan kemenangannya. Cara mereka tak jauh berbeda dengan cara penonton garuda merayakan kemenangannya. Haya saja suara yang dihasilkan mereka tidak seberapa dengan Indonesia. selain karena jumlah penonton kita memang jauh lebih banyak. Juga karena semangat kita memang lebih tinggi dari mereka. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pecinta sepakbola di Indonesia sangat besar jika dibandingkan dengan Negara lain. Jadi wajar saja jika kita melihat antusias penonton tiap kali ada pertandingan sangat besar. Sampai rela berdesak-desakan hanya sekedar membeli tiket pertandingan sudah jadi berita biasa buat Indonesia. lihat saja saat David Becham bertandang ke Indonesia.
Menit- menit akhir pertandingan di babak pertama, skor tetap pada posisinya. Kedudukan seimbang hingga pluit wasit dari Australia menandakan babak pertama telah usai.
Babak kedua kemudian disambut hangat oleh para pemain Indonesia. permainan mereka sangat baik. Melihat permainan kita mulai baik, Malaysia pun kembali memperbaiki permainannya. Hingga akhirnya tidak ada yang mampu mengubah kedudukan sampai berakhirnya babak kedua.
Ternyata pertandingan belum berakhir. Kini wasit menambah waktu limabelas menit. Kedua tim kembali menampilkan kebolehannya dalam memainkan bola. Lengak-lenggok kaki mereka sangat jelas menampakkan kemahirannya dalam mengoper bola. Kedua tim bermain imbang. Tak ada yang mau menyerah. Skor masih setia di posisinya. Berkali-kali pemain garuda menembakkan bola ke gawang lawan. Namun tetap saja bisa dibendung oleh penjaga gawang Malaysia. Begitupun lawanny tak hanya satukali pemain mereka menendang bola kearah gawang. Namun keberuntungan msih belum berpihak padanya.
Hingga detik-detik terkhir penambahan waktu masih belum ada yang ebrhasil menjebol gawang lawannya satu-sama lain. Penambahan waktu limabelas menit keduapun di berikan oleh wasit berkulit putih itu. Peluang demi peluang berdatang untuk Indonesia. Tapi masih tak ada yang mampu menembus gawng lawan. Teriakan kecewapun sering terdengan di tengah para penonton. Tak terkecuali di kosku. Gol…gol…gol..yah. ketika ada peluang semua kompak berteriak menyemangati pahlawan lapangan hijau kita. Padahal bagaimanapun kami berteriak tak akan terdengan oleh pemain kita. begitulah bentuk antusias kami mendukung pejuang bola Indonesia. dan penambahan limabelas menit kedupun berakhir. Belum ada yang beruntung menembuh pertahanan penjaga gawang baik Indonesia maupun Malaysia.
Tendangan finalty jadi pilihan terakhir untuk mengubah skor. Indonesia mendapat giliran pertama. Tibo jadi penendang pertama. Tidak sulit baginya menembus pertahanan gawang Malaysia. Kini giliran lawan. “Yah gol” suara kecewa penonton terdengar. Skor kembali sama, sama lagi dan sama lagi hingga skor tiga sama. dan dua tendangan penentupun ditunggu-tunggu. Kini giliran kesempatan Indonesia untuk merubah posisi skor. Ternyata, harapan tinggal harapan. Indonesia hanya bisa kecewa dan tak sedikit menghujat penendang bola tersebut.
Kesempatan kembali diberikan ke pemain Malaysia. Semua mata tertuju pada proses tendangan bola. Gol. Indonesia kembali harus menerima kekalahan dari negeri tetangga. Negeri serumpun. Lagi, lagi dan lagi Indonesia kecewa.
Parangtambung, 22 Juni 2012

Jumat, 01 Juni 2012

Layar Impian untuk Ayah


 “Pak, bapak punya uang tidak ? aku mau kuliah di arab” ucapku dengan penuh harap pada ayah. Seketika rona wajahnya berubah sejak kalimat itu ku keluarkan. Desahan nafasnya tak terdengar, seperti tertahan.  Cukup lama ku menunggu ada kata yang keluar dari mulut mungilnya. Tapi ayah hanya memandangi buku yang sejak tadi di bacanya. Lelaki yang satu ini memang suka membaca. Terlebih selama ayah tak  lagi mendapat tawaran untuk mengurus tanah milik orang lain yang butuh bantuan jasanya. Ayah lebih senang mengisi hari-harinya dengan membaca. Berkat hobi itu, pengetahuannya tak kalah hebat dengan para wakil rakyat di pemeritahan, bahkan bagiku ayah masih lebih pintar dari mereka. Padahal ayah hanya tamat Sekolah Dasar.
Bukan karena bodoh ayah tak melanjutkan sekolah, justru karena terlalu pintar lantas dia tak melanjutkan sekolah. Mungkin kedengaranya agak aneh, kok ada orang pintar malah berhenti sekolah?. Aneh memang, tapi itu kenyataanya. Kalimat yang sering ibu ucapkan untuk menyinggung ayah. Ternyata dulu, ayah memutuskan untuk berhenti sekolah di saat dia dan teman-temanya ujian sekolah.
Saat itu dia sangat marah pada gurunya karena soal yang di berikan ke dia berbeda dengan teman-temanya yang lain dan soalnya pun jauh lebih sulit. Lantas karena merasa diberikan ketidakadilan dia ngambek dan memutuskan tak mau lagi melanjutkan ujian.Tak henti-henti gurunya membujuk tapi dasar ayahku ini sangat keras kepala. Ya itulah salah satu sifat ayah, yang kadang aku tak mengerti. Satu yang paling dia tak suka, ketika melihat ketidakadilan di muka bumi ini. Seperti ada yang mendorong, dengan spontanitasnya dia lngsung bertindak. 
Hampir satu jam aku menunggu jawaban dari lelaki keras nan penyayang ini. Tak ada satupun kata yang terucap dari bibirnya. Akhirnya ku berani menarik kesimpulan, ayah tak punya uang. Aku juga tak berani memaksa, karena ku tahu kondisi keuangannya. Dia bukan pengusaha dengan segala keberlimpahan hartanya. Dia bukan anggota DPR dengan mobilnya yang mewah, dia bukan pengacara dengan rumahnya yang megah. Ia hanya lelaki tua dengan segala ketulusan memberikan cinta untuk keluarganya.
Betapapun minimnya uang ayah, tak pernah  rasa bangga itu pudar. Bagiku  tak ada yang mampu menyaingi kehebatan ayah yang satu ini. aku ingin sekali mengatakan di depan ayah betapa bangganya aku memilikinya, betapa cintanya aku denganya. Tapi kalimat itu hanya bisa kupendam dalam hati. Karena aku tahu aku bukan laki-laki yang romantis.
Aku mulai gelagapan, aku tak mau berhenti hanya sampai disini. Apa yang bisa ku dapatkan hanya dengan ijazah madrazah ini”kataku mulai memberontak dalam hati. Aku ingin melanjutkan sekolahku. Ditengah kacaunya pikiranku, tiba-tiba ku teringat Doni dan Indra. Mereka sahabatku sejak SD sekaligus saingan terberatku di sekolah. Sebelum pembagian raport kami selalu taruhan. Taruhan siapa yang peringkatnya lebih rendah akan mentraktir.
Bagi mereka mungkin taruhan seperti ini bukan masalah besar karena mereka berasal dari keluarga yang mapan. Sedangkan aku?, aku hanya anak dari makelar tanah yang tak tentu gajinya. Kadang sebulan hanya ada satu proyek, itupun selesainya tidak menentu, kadang sampai setahun baru dapat hasil. Itupun kalau di kasih kalau tidak, ya mau bagaimana lagi palingan ayah hanya dapat  ucapan terimah kasih.
Aku kasihan lihat ayah. Ia sudah peras keringat memikirkan pengurusan sengketa tanah orang lain, tapi ujung-ujungnya yang didapat hanya sedikit atau hanya sekedar ucapan terimah kasih. Tiap kali ku tanya ibu akan hal itu, ibu hanya berkata “yah begitulah bapakmu, maunya membantu terus. Katanya hitung-hitung amal. Di dunia ini kan kita bukan hanya mencari uang tapi yang paling penting adalah kita mencari amal” kata ibu sembari tersenyum kecil.
Aku kagum dengan mereka begitu ikhlasnya membantu orang lain ditengah kedaan keluarga kami. Salut buat mereka. Aku makin bangga memiliki orangtua yang hatinya sangat tulus. Mungkin diluar sana ada segelintir orang tua  yang sangat di banggakan oleh anaknya tapi bagiku, mereka tak ada apa-apanya di banding orang tuaku. Mereka heroku, teriakku dalam hati. Suatu saat nanti aku harus menjadi hero mereka. Ya, entah kapan waktu itu akan tiba tapi ku yakin dan sangat yakin saatnya kan tiba. Ku ingin membuat mereka bersyukur di titipkan anak sepertiku.
Pikirku mulai melayang , melayang entah kemana. Ku kembali memikirkan masalah pendidikan yang tengah kuhadapi. Pokoknya aku harus sekolah. Tidak peduli di tanah Arab atau dimana, yang jelas aku tidak mau berhenti di sini tanpa hasil. Doni bisa melanjutkan sekolahnya di fakultas kedokteran, Indra sejak tiga tahun yang lalu di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).
Kalau aku tak melanjutkan sekolahku, aku sudah dipastikan kalah dari pertandiran ini. Aku tak mau. Cukup tiga tahun yang lalu aku malu karena tak melanjutkan pendidikan di sekolah menengah atas (SMA). Kali ini aku tak mau lagi kejadian itu terulang. Aku yang dulu selalu unggul dari mereka. Walau aku hanya berasal dari keluarga yang sangat sederhana, aku juga tak mau mesti menelan kekalahan dalam pendidikan.
“Iwan, kamu lanjut dimana?” kalimat itu terus berkecamuk dalam pikiranku. Aku harus jawab apa kalau mereka bertanya padaku. Haruskah aku bilang didepan mereka “aku tidak lanjut dimana-mana, aku berhenti sekolah”. Ah tidak, pokoknya tidak boleh. Tapi sudahlah, kubiarkan ayah berpikir sebentar tentang nasib pendidikanku selanjutnya. Aku yakin dia juga pasti tak rela melihat anaknya putus sekolah.
Ku tinggalkan ayah dengan bacaanya, bergegas menuju kamar, berusaha menenangkan diri dari kekacauanku ingin segera mendapat restu kuliah di tanah Arab. Negeri yang selalu ramai tiap tahunya di kunjungi oleh orang-orang muslin di seluruh penjuru dunia. Guna memenuhi panggilan Ilahi. Mengenal lebih dekat tanah kelahiran Rasulullah.
Tak sabar rasanya mendengar keputusan bapak, mengizikan sekolah di tanah suci itu. “ mengingat kondisi bapak saat ini, sangat sulit izin itu di ucapkan” pikirku pesimis. Tapi aku tak boleh menyerah, aku harus berjuang mengejar impianku. Kalaupun bapak tak sanggup membiayaiku, aku rela meski harus bekerja sebegai tenaga kerja Indonesia (TKI) asal aku bisa kuliah di sana. Yang aku butuhkan hanya restunya.
Ingatanku masih sangat jelas dengan pesan ayah padaku sebelum masuk madarzah. “jadilah kakak yang bermanfaat bagi adik-adikmu”. Kalimat itulah yang selalu menyuntikkan semangat di saat ku haus motivasi. Motivasi untuk terus bertahan menjalani hidup. Hidup yang selalu memberikan teka-teki yang sulit terjawab oleh orang susah sepertiku.
Ku tak bisa berhenti memikirkan impian-impianku. Sambil terbaring di atas tempat tidur yang tak semewah milik para pejabat di negeri ini, pikirku melanglang buana. Terbang kesana kemari, tak tentu arah. Terbang melintasi hutan impian. Semakin hari semakin habis pepohonan disana di babat para pembuat onar yang hobinya menebang pohon impian orang-orang. Dari jauh jelas kulihat hanya pohon impianku yang masih anteng pada tempatnya, meski sedikit miring ke kiri diterpa angin cobaan dari timur. Terbang bergandengan dengan kupu-kupu nan cantik. Menikmati oksigen yang senantiasa di keluarkan oleh pepohonan. Ada guratan kesedihan terlihat pada wajah binatang di bawah. Hey, harimau kenapa wajahmu kusut seperti itu?” Tanyaku padanya sambil berteriak. Hey, raja rimba apa gerangan dirimu begitu sedih, mungkinkah kau tak mendapat mangsa hari ini? ah, tapi itu tak akan mungkin. Ayo jawab aku” pintaku kembali padanya. 
Aku sedih, karena aku akan kehilangan tempat tinggalku sebentar lagi. Hutan impian ini akan musnah di babat habis oleh pembuat onar yang tidak senang jika ada pohon impian yang tumbuh besar nan lebat daunnya di sini. Andai ku bertemu dengan mereka ingin sekali ku memangsanya. Enak saja mereka menebang pohon yang bukan miliknya.” Emosi si raja hutan impian.
“pohonku juga di bawah sana ternyata sudah ada pembuat onar yang mulai mengincarnya. Tapi aku si pemiliknya tidak akan mungkin membiarkan mereka begitu saja dengan mudahnya menebang pohonku” sebentar lagi pohonku juga akan menghasilkan tunas-tunas baru menggantikan pohon-pohon yang telah berhasil di tebang. Oya Har, aku pamit dulu. Aku dan kupu-kupu negeri impian ingin melanjutkan petualangan” teriakku bersemangat.
“Indra, bangun nak shalat subuh”suara samar-samar terdengar menemani petualanganku. Semakin lama suara itu semakin jelas. “ayo nak, bangun shalat berjamaah sama bapak” ternyata itu suara ibu yang baru ku ketahui setelah terbangun dari tidurku yang nyenyak. “ iya bu” suaraku dengan nada malas.
Selesai shalat subuh berjamaah, ku kembali duduk di dekat bapak. Berharap ada kesempatan untuk menanyakan kembali soal keinginanku kemarin. Sejak tadi duduk di kursi reot ini satu meter dari posisi ayah, tapi tak satupun kata yangg berani ku ucap. Sesekali ayah melirikku, mungkin di tahu maksudku tapi hanya ku balas dengan senyuman yang sedikit kaku.
Akhirnya mulutku pun terbuka “pak, bagaimana dengan niatku yang kemarin bisa kan?” tanyaku terkesan memaksa.
“Kamu tidak berminat kuliah di Indonesia, kalau kamu mau bapak bisa usahakan agar kamu kuliah pelayaran. Tinggal beberapa hari lagi batas waktu pendaftarannya. Besok pagi kita ke Makassar” kata ayah tak kalah memaksa.
“hah, minta kuliah di Arab, ditawari kuliah pelayaran. Di mana hubungannya yah” pikirku bingung. “tapi kan pah, aku inginnya jadi ustad” kataku sedikit memelas. Lagi-lagi bapak tak bergeming. Sesekali dia menatapku lalu kembali menatap bacaanya sambil menarik napas. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi sulit Ia katakana. “kalau bapak tak punya biaya untukku kuliah, biar saja saya bekerja sebagai TKI disana sambil saya kuliah” kataku mendahului bapak. “kamu pikir bapak tega lihat kamu kerja jadi TKI disana” katanya dengan ekspresi tak percaya sekaligus tak setuju dengan ideku.
Ada suasana lain setelah kalimat itu keluar dari mulut bapak. Aku jadi tak enak lihat bapak. Aku harusnya tak berkata seperti itu, mungkin Ia tersinggung dengan kata-kataku tadi. “ya sudah, iya pak nanti saya coba” jawabku terpaksa karena tak tega melihat bapak. Aku jadi heran lihat bapak. Harusnya dia senang anaknya ingin kuliah agama di tanah Arab. Yah, tapi mau diapakan lagi itulah keputusan bapak, mungkin dia sama sekali tak punya uang. Karena seingatku tak pernah sekalipun bapak bilang tak punya uang jika anaknya meminta untuk uang sekolah. “kalau masalah uang tak perlu dipikirkan nak” kata bapak tiap kali kami anaknya bertanya uang kepadanya. Biarlah kuturuti saja apa maunya. Aku bisa saja membangkan dan tetap nekat pergi. Tapi tidak, aku tak mampu. Sungguh aku tak mampu melihat ayah banting tulang menyekolahkanku di luar negeri.
***
Empat tahun kemudian
“nak hati-hati disana jangan lupa shalat, biarpun kamu sekarang dinegeri orang harus tetap ingat Allah. Kalau sempat jalan-jalan ke makkah sekalian umrah” suara lembut seorang ibu diseberang sana meneduhkanku. “iya bu, doakan saja mudah-mudahan saya bisa  jalan-jalan kesana. Jarak tempat Indra tidak terlalu jauh bu dari makkah. Doakan yah bu juga tahun depan Indra bisa menngumpulkan biaya untuk bapak dan ibu ke tanah suci” kataku sebelum pamit kembali melaksanakan tugas sebagai nahkoda sebuah kapal tengker di tanah Arab. Kini aku telah mewujudkan mimpi ayah. Impian yang pernah ingin ia wujudkan sendiri. Karena kecelakaan maut itu ia terpaksa menurunkan mimpinya padaku. “Makasih atas mimpimu ayah”

Copyright © 2014 Rumah Baca