Demokrasi Pencetak Koruptor
Akhir-akhir ini media
makin di gemparkan dengan kasus korupsi. Seiring mencuatnya kasus korupsi yang
melibatkan para elit partai. Dan partai yang paling santer di sebut–sebut adalah
partai demokrat. Berita tersebut makin besar ketika pulangnya Nasaruddin beberapa bulan yang lalu dari
tempat persembunyiannya dari belahan bumi lain. Entah daya tarik apa yang
dimiliki oleh Nasaruddin, sehingga semua mata dan telinga tak mau berpaling
darinya. Kemiskinan dan kelaparan bangsa ini seakan terlupakan karena kasus
ini. Hingga kini masih saja kasus
koruspsi yang selalu jadi trending topic di media. Meski sempat surut seiring
mencuatnya rencana pemerintah yang ingin menaikkan harga bahan bakar minyak. Yang
dikuti dengan berbagai demonstrasi di seluruh kota besar Indonesia. Mulai dari
yang tidak anarkis, setengah anarkis hingga yang sangat anarkis. Namun hal
tersebut tak lama, dan mediapun kembali di kotori dengan berita-berita korupsi.
Para elit politik
berlomba-lomba mengeluarkan statement. Dan tak sedikit yang menghujat
pemerintah. Menganggap pemerintah kali ini gagal menjalankan amanah. Janji yang
dulu di bisikkan dengan penuh keramahan kini hanya tinggal sebagai janji.
Menelan ludah sendiri menjadi alasan hujatan mereka pada pemerintah. Bagaimana
tidak partai demokrat terkenal dengan jargonnya sebagai partai anti korupsi.
Namun kenyataanya, saat ini banyak petinggi-petinggi dari partai tersebut yang
terlibat kasus korupsi. Begitulah berita yang ramai di bicarakan di media saat
ini.
lantas melihat fakta ini apa yang salah dengan bangsa kita. orangnya kah yang salah, atau aturannya yang salah?
Pemimpin yang amanah
memang sangat susah kita dapatkan. Terlalu banyak godaan yang membelokkan
mereka. Mungkin awalnya ada sedikit keinginan untuk membangun negaranya dengan
baik. Tapi seiring berjalannya waktu keinginan itu mulai terkikis. Sebagaimana Rasulullah
pernah bersabda “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap
kepemimpinan padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan”(HR.abu
Hurairah).
sumber
Dari hadis tersebut
jelas digmbarkan bahwa kelak ada suatu zaman dimana semua orang rata-rata berambisi
menjadi pemimpin. Padahal menjadi pemimpin bukanlah perkerjaan abal-abal. Tak
sembarang orang yang mampu menjadi pemimpin. Namun mengapa semua berambisi
menjadi seorang pemimpin? Ya tak lain dan tak bukan semua karena materi. Sistem
materialisme kapitalis telah mengakar di negara ini, pengaruh budaya barat
semakin budaya di Indonesia. Semua aspek kehidupan sudah bearasakan materi. Jadi
wajar jika korupsi meraja lela. Karena tujuan hidupnya semata-mata hanya karena
materi. Materi dan materi. padahal pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak mencalonkan dirinya sendiri menjadi pemimpin. Tapi apa yang kita dapatkan di Indonesia. Justru dia sendiri yang mencalonkan dirinya. Meski ketika ditanya terkait hal itu, mereka malah mengatakan bahwa dia diusung dari partainya. Lantas apa bedanya, kan sama saja. Orang yang masuk partai kan ujungnya ingin memerintah juga. sangat berbeda di jaman khilafah, pemimpin itu di pilih atas dasar kriteria-kriteria tertentu. Dan aturan itu langsung dari Allah, jadi tak ada keraguan darinya. Maka apa lagi yang harus kita harapkan dari sistem demokrasi ini yang notabenenya melahirkan para koruptor, padahal Allah sendiri yang menawarkan negara yang sempurna karena aturan-Nya yang di terapkan.

0 komentar:
Posting Komentar