Jumat, 08 Juni 2012

Demokrasi Pencetak Koruptor




Akhir-akhir ini media makin di gemparkan dengan kasus korupsi. Seiring mencuatnya kasus korupsi yang melibatkan para elit partai. Dan partai yang paling santer di sebut–sebut adalah partai demokrat. Berita tersebut makin besar ketika pulangnya Nasaruddin beberapa bulan yang lalu dari tempat persembunyiannya dari belahan bumi lain. Entah daya tarik apa yang dimiliki oleh Nasaruddin, sehingga semua mata dan telinga tak mau berpaling darinya. Kemiskinan dan kelaparan bangsa ini seakan terlupakan karena kasus ini. Hingga kini masih saja kasus koruspsi yang selalu jadi trending topic di media. Meski sempat surut seiring mencuatnya rencana pemerintah yang ingin menaikkan harga bahan bakar minyak. Yang dikuti dengan berbagai demonstrasi di seluruh kota besar Indonesia. Mulai dari yang tidak anarkis, setengah anarkis hingga yang sangat anarkis. Namun hal tersebut tak lama, dan mediapun kembali di kotori dengan berita-berita korupsi.
Para elit politik berlomba-lomba mengeluarkan statement. Dan tak sedikit yang menghujat pemerintah. Menganggap pemerintah kali ini gagal menjalankan amanah. Janji yang dulu di bisikkan dengan penuh keramahan kini hanya tinggal sebagai janji. Menelan ludah sendiri menjadi alasan hujatan mereka pada pemerintah. Bagaimana tidak partai demokrat terkenal dengan jargonnya sebagai partai anti korupsi. Namun kenyataanya, saat ini banyak petinggi-petinggi dari partai tersebut yang terlibat kasus korupsi. Begitulah berita yang ramai di bicarakan di media saat ini.
lantas melihat fakta ini apa yang salah dengan bangsa kita. orangnya kah yang salah, atau aturannya yang salah? 
Pemimpin yang amanah memang sangat susah kita dapatkan. Terlalu banyak godaan yang membelokkan mereka. Mungkin awalnya ada sedikit keinginan untuk membangun negaranya dengan baik. Tapi seiring berjalannya waktu keinginan itu mulai terkikis. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan”(HR.abu Hurairah).
sumber 
Dari hadis tersebut jelas digmbarkan bahwa kelak ada suatu zaman dimana semua orang rata-rata berambisi menjadi pemimpin. Padahal menjadi pemimpin bukanlah perkerjaan abal-abal. Tak sembarang orang yang mampu menjadi pemimpin. Namun mengapa semua berambisi menjadi seorang pemimpin? Ya tak lain dan tak bukan semua karena materi. Sistem materialisme kapitalis telah mengakar di negara ini, pengaruh budaya barat semakin budaya di Indonesia. Semua aspek kehidupan sudah bearasakan materi. Jadi wajar jika korupsi meraja lela. Karena tujuan hidupnya semata-mata hanya karena materi. Materi dan materi. padahal pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak mencalonkan dirinya sendiri menjadi pemimpin. Tapi apa yang kita dapatkan di Indonesia. Justru dia sendiri yang mencalonkan dirinya. Meski ketika ditanya terkait hal itu, mereka malah mengatakan bahwa dia diusung dari partainya. Lantas apa bedanya, kan sama saja. Orang yang masuk partai kan ujungnya ingin memerintah juga. sangat berbeda di jaman khilafah, pemimpin itu di pilih atas dasar kriteria-kriteria tertentu. Dan aturan itu langsung dari Allah, jadi tak ada keraguan darinya. Maka apa lagi yang harus kita harapkan dari sistem demokrasi ini yang notabenenya melahirkan para koruptor, padahal Allah sendiri yang menawarkan negara yang sempurna karena aturan-Nya yang di terapkan. 
­­­

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca