Kapitalisme Mencengkram Perut Bumi Indonesia
Bisnis menjadi momok tersendiri
bagi para penggila uang. Terlalu banyak cara yang bisa dihalalkan untuk
memperoleh keuntungan. Apalagi di negeri yang kaya raya. Bisnis yang paling
menguntugkan adalah berbisnis kekayaan alam seperti emas, tembaga, uranium dan
lain-lain. Begitu banyak mutiara uang yang tersembunyi dalam cangkang perut
bumi Indonesia. Tak heran jika perusahaan asing pun berlomba-lomba
memperubutkannya. Sebut saja Exxon, Preefort dan masih banyak lagi lainya yang
sudah menambatkan hatiya pada sumber daya alam Indonesia.
Namun sayangnya kebanyakan orang tidak
mau ambil pusing dengan hal ini. Baginya cukuplah masalah pemerintah. Padahal
pemerintah juga merupakan antek-antek barat. Walaupun mereka tahu bahwa asing
berpengaruh besar dalam pengerukan kekayaan ini. Masalah ekonomi yang mereka
hadapi membutakan pikirannya. Bahwa mereka kini di manfaatkan oleh korporasi
asing untuk menghabiskan uang mentah di negeri ini. Terutama untuk masyarakat
yang ada di daerah pedalaman papua, Kalimantan, Sulawesi. Rumah mereka dijarah
oleh asing dan korporasinya tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka
terlalu polos sehingga sangat mudah diperalat untuk menjarah kekayaannya
sendiri untuk asing.
Lalu dimana posisi kita yang sadar
bahwa negeri ini telah diserang asing bahkan
oleh orang dalam. Dimana posisi para agent
of change. Mereka mabuk oleh hiburan yang diciptakan oleh korporasi asing.
Tak lain untuk mengalihkan perhatian para pemuda bangsa ini untuk tidak focus
dalam permasalahn krusial seperti ini. Karena satu-satunya yang menjadi
ketakutan mereka adalah turunnya pemuda dalam mengatasi masalah ini. Kekutan
para pemuda bisa kita lihat dari reformasi yang dilakukan oleh para pemuda di
negeri ini untuk meruntuhkan kekuasaan Soeharto dan melahirkan masa orde baru.
Namun sayang pemuda saat itu hingga detik ini belum sampai pada taraf berpikir
cemerlang. Pemuda berhenti hanya sampai menumbangkan Soeharto namun tidak
menyiapkan solusi pengganti sehingga barat dengan mudah masuk menciptkan para
agennya sebagai pengganti pemerinatahan yang lama. Dan akhirnya menjadikan
negeri ini semakin terpuruk oleh aktifitas penjarahan yang dilakukan oleh asing.
Hal ini mudah saja terjadi karena antek-anteknya telah duduk dipemerrintahan.
Didukung oleh para bisnisman yang ada dinegeri ini telah bertekuk lutut olehnya.
Asing tak merasa rugi mengeluarkan
kocek yang terbilang bombastis untuk membiayai kampanye para kandidat presiden
demi melicinkan misinya kedepan. Lembaran-lembaran dollar tak bernilai apa-apa
lagi dimatanya karena tertutupi oleh nilai sumber daya alam di negeri ini. daya
tarik sumber daya alam di negeri ini sangat besar mengalahkan daya tarik
Bretney spirts dimata kaum adam. Hingga memancing para investor asing menancapkan
cengkramannya di perut bumi bangsa ini dan negeri-negeri kaum muslim lainnya.
Tidak sedikit juga sebenarnya yang
menyadari misi barat betah menggandeng Indonesia sebagai sahabat setia ala
barat. Namun tanpa mereka sadari ideologi barat telah mencekoki pemikiran
mereka. Sehingga solusi yang mereka tawarkan masih tetap mendukung tujuan misi
mereka. Nasionalisme menjadi arahan solusi para pemikir bangsa ini yang mengaku
peduli dengan Indonesia. Ketika di beri tawaran islam, mereka menjadi orang
terdepan yang akan menolak walaupun mereka mengaku sebagai muslim. Padahal
ketika sedikit saja mereka membuka pikiran untuk menelaah kelebihan dan
kelemahan nasionalisme. Maka hanya kelemahan yang mereka dapatkan. Ikatan yang
dibangun atas dasar kesukuan ataupun nasionalisme tak mampu memberi ikatan yang
kuat. Hal ini terbukti saat Indonesia dijajah secara fisik, jika bukan karena
perjuangan kaum muslim saat itu untuk melepaskan penjajahan asing dengan alasan
islam maka hampir mustahil Indonesia saat ini bisa “merdeka secara fisik”.
Inilah lucunya kebanyakan kaum
muslim mengaku muslim tapi tidak mau mengambil islam secara kaffah. Padahal
system demokrasi yang mereka agungkan sejatinya tidak mampu menjawab harapan
mereka. Liberalisme paham yang menguatkan dalih mereka. Mereka mengatasnamakan
kepedulian terhadap penganut agama lain hingga enggan mengambil islam sebagai
system kehidupan. Alasan yang sangat tak berdasar. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, tidak hanya untuk muslim tapi juga non muslim
bahkan binatang dan tumbuhan sekalipun. Tapi kenyataan itu tertutupi oleh kesombongan
mereka mengambil islam sebagai aturan di segala sendi kehidupan. –Wallah a’lam bi ash-shawab-
0 komentar:
Posting Komentar