Menggugat Perbedaan
Perbedaan itu ibarat air dan minyak walau sulit bersatu tapi bisa berdampingan _Iklan mi sedap_
Prinsip inilah yang seharusnya kita pegang jika memang betul-betul mengaku mencari kebenaran hakiki
Sepenggal
kalimat yang menarik perhatian saya.
Banyak
yang tidak bisa menerima sebuah perbedaan. Padahal perbedaan itu mutlak adanya.
Tak ada yang bisa mengelak darinya. Perbedaan itu tak mesti bertengkar. Berbeda
itu bukan berarti mesti berpisah. Jangan
pernah menyalahkan perbedaan. Ia tak salah karena berbeda itu sebuah pilihan.
Keluarga
yang baik tak mesti semua anggota keluarganya harus sama. Sama dari segi
karakter, gaya berpakaian, cita-cita dan pemahaman. Dalam islam hanya satu
syarat kesamaan yang harus dimiliki untuk membangun sebuah kelurga yang sakinah
mawaddah warahmah, yaitu satu akidah. Yang lain hanya tambahan, tak perlu
terlalu dipaksakan jika tak bisa sama.
Jika
adik kamu berbeda haraqah bukan berarti ia bukan lagi adik kamu. Jika anak kamu
shalat subuhnya tak pakai qunut, dia tetap anakmu. Jika istri
kamu kerudungnya lebih besar dari ibumu, jangan bilang dia bukan muslim
karena beda sama ibu kamu. Dan, jika kamu ikut pemilu jangan bilang mereka
bukan lagi keluarga kamu karena mereka tak ikut nyoblos di tempat pemungutan
suara (TPS).
![]() |
| Pak Google |
Beda
dengan yang lain tak selamanya salah. Sama dengan kebanyakan orang bukan
berarti kamulah yang benar. Jika begitu, maka kemaksiatan tentulah benar. Lihat
saja dunia ini lebih banyak dipenuhi oleh orang yang kerjanya cuma bermaksiat. Di
sekolah pasti lebih banyak yang nyontek dibanding yang kerja sendiri, di jalan
umum pasti lebih banyak yang buka aurat dibanding yang berhijab syar’i.
Jika mengaku benar, ajak
orang yang anda cinta untuk ikut mengecap manis kebenaran itu. Tapi saat
ditolak karena mereka punya pemahaman sendiri, jangan dipaksa. Berarti bisa
jadi ada yang salah dari cara kamu menyampaikan.
Jangan
anggap diri kamu yang paling benar. Hingga yang lain itu sudah pasti salah. Memastikan
bawa diri itu benar, sangat berbahaya. Karena jika salah, berarti kita telah
menutup kemungikan bertemu dengan kebenaran. Padahal kita hidup dalam segala
kemungkinan juga ketidakpastian.
Pendapat kami benar,
namun mungkin salah. Sementara pendapat yang lain salah, tapi mungkin benar, -Salim
Abi Sbitan-
Prinsip inilah yang seharusnya kita pegang jika memang betul-betul mengaku mencari kebenaran hakiki
Berbeda itu boleh asal masih berada pada jalur yang dibolehkan oleh syara’ (Allah SWT) untuk berbeda. Sama itu wajib diperjuangkan saat menyangkut akidah.

0 komentar:
Posting Komentar