Minggu, 07 September 2014

Menggugat Perbedaan

Perbedaan itu ibarat air dan minyak walau sulit bersatu tapi bisa berdampingan _Iklan mi sedap_


Sepenggal kalimat yang menarik perhatian saya.  

Banyak yang tidak bisa menerima sebuah perbedaan. Padahal perbedaan itu mutlak adanya. Tak ada yang bisa mengelak darinya. Perbedaan itu tak mesti bertengkar. Berbeda itu bukan berarti mesti berpisah.  Jangan pernah menyalahkan perbedaan. Ia tak salah karena berbeda itu sebuah pilihan.

Keluarga yang baik tak mesti semua anggota keluarganya harus sama. Sama dari segi karakter, gaya berpakaian, cita-cita dan pemahaman. Dalam islam hanya satu syarat kesamaan yang harus dimiliki untuk membangun sebuah kelurga yang sakinah mawaddah warahmah, yaitu satu akidah. Yang lain hanya tambahan, tak perlu terlalu dipaksakan jika tak bisa sama. 

Jika adik kamu berbeda haraqah bukan berarti ia bukan lagi adik kamu. Jika anak kamu shalat subuhnya tak pakai qunut, dia tetap anakmu. Jika istri kamu kerudungnya lebih besar dari ibumu, jangan bilang dia bukan muslim karena beda sama ibu kamu. Dan, jika kamu ikut pemilu jangan bilang mereka bukan lagi keluarga kamu karena mereka tak ikut nyoblos di tempat pemungutan suara (TPS). 
Pak Google
Beda dengan yang lain tak selamanya salah. Sama dengan kebanyakan orang bukan berarti kamulah yang benar. Jika begitu, maka kemaksiatan tentulah benar. Lihat saja dunia ini lebih banyak dipenuhi oleh orang yang kerjanya cuma bermaksiat. Di sekolah pasti lebih banyak yang nyontek dibanding yang kerja sendiri, di jalan umum pasti lebih banyak yang buka aurat dibanding yang berhijab syar’i. 

Jika mengaku benar, ajak orang yang anda cinta untuk ikut mengecap manis kebenaran itu. Tapi saat ditolak karena mereka punya pemahaman sendiri, jangan dipaksa. Berarti bisa jadi ada yang salah dari cara kamu menyampaikan.

Jangan anggap diri kamu yang paling benar. Hingga yang lain itu sudah pasti salah. Memastikan bawa diri itu benar, sangat berbahaya. Karena jika salah, berarti kita telah menutup kemungikan bertemu dengan kebenaran. Padahal kita hidup dalam segala kemungkinan juga ketidakpastian. 

Pendapat kami benar, namun mungkin salah. Sementara pendapat yang lain salah, tapi mungkin benar, -Salim Abi Sbitan-

Prinsip inilah yang seharusnya kita pegang jika memang betul-betul mengaku mencari kebenaran hakiki


Berbeda itu boleh asal masih berada pada jalur yang dibolehkan oleh syara’ (Allah SWT) untuk berbeda. Sama itu wajib diperjuangkan saat menyangkut akidah. 


0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca