Sabtu, 06 September 2014

Monster Phedofilia Terus Memangsa Generasi

Kiblat pendidikan indonesia masih mengarah kepada pendidikan ala barat. Ini yang membuat banyak rakyat indonesia rela mengeluarkan dana yang terbilang melangit demi menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional. Ada harapan besar anaknya mendapatkan pengetahuan berkualitas setelah mengenyam pendidikan di sana.  
Masyarakat Indonesia menganggap sekolah bertaraf internasional adalah alternatif yang paling baik untuk menjadikan anak cerdas dalam akademik. Selain itu, kebanggan tersendiri bagi orang tua  yang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah bergengsi. Paham yang berkembang adalah semakin bergengsi sekolah anak, semakin tinggi pula status social orang tuanya. Bagi mereka yang memiliki harta melimpah hal itu mudah saja, tapi bagi yang hidupnya pas-pasan baginya seperti mimpi di siang bolong.
Harapan mendapatkan nilai akademik yang unggul harus dibayar mahal oleh kejahatan seksual yang di alami oleh anak. Hal ini terbukti dari kasus yang terungkap mengenai kejahatan seksual yang di alami oleh bocah berusia lima tahun, siswa taman kanak-kanak  Jakarta Internasional School (JIS). Banyaknya kasus lain yang juga ikut terungkap harusnya semakin membuka mata bahwa pendidikan indonesia tengah dalam bahaya. Bahkan sekolah yang katanya bertaraf internasional dengan system pengamanan ketat berhasil di susupi oleh monster pedhopil.
Kejahatan seksual yang di alami oleh anak akan berdampak buruk bagi kehidupan anak tersebut setelahnya. Hal ini bisa memicu pada ganguan psikologis seperti emosional, depresi, rendahnya jiwa sosialisasi bahkan jika tidak ditangani secara serius dapat mengarah pada trauma berkepanjangan. Hal ini sangat bisa menjadi cikal bakal penyebab prilaku kriminalitas anak di kemudian hari. Bahkan yang jauh lebih parah jika korban pedhopil ini malah membuka siklus pedhopil. Anak yang pernah menjadi korban, saat dewasa dia mengambil peran sebagai pelaku pedhopil berikutnya dan menghasilkan korban-korban lain yang mungkin saja akan menjadi pelaku pula di kemudian hari. Hal ini terbukti dari salah satu tersangka pelaku kejahatan seksual yaitu ZA di JIS yang pada usia 14 tahun disodomi oleh William James Vahey, seorang pedofil buronan FBI yang pernah mengajar di JIS selama 10 tahun. Begitulah siklus pedofil yang bisa mencetak pedofil baru pula.
Om Google
Kejahatan seksual ini hanya satu masalah dari sekian masalah yang ada.  Budaya barat yang tertanam di sekolah tersebut menjadi pemantik persoalan baru kian muncul. Gaya hidup bebas dibiarkan terus membudaya di sana.  Selain itu, system keamanan yang kebablasan menjadi salah satu penyebab kasus ini terus terjadi. Bahkan pihak JIS terkesan menutup-nutupi pengungkapan kasus ini. Mengingat pihak JIS menutup rapat informasi terhadap media tentang kejadian ini termasuk informasi para pengajarnya.
Tindakan pemerintahpun sangat dipertanyakan. Lolosnya sekolah yang tidak mengantongi izin harusnya tak perlu tejadi. Sekolah adalah tempat yang sangat efektif sebagai tempat pendangkalan akidah dan moral rakyat. Oleh karena itu, pengawasan yang ketat terhadap instansi pendidikan mutlak di perlukan. Terlebih untuk sekolah-sekolah asing yang ada. Pemerintah sebagai pengurus rakyat harusnya tidak hanya berkoar ketika ada kasus yang terungkap di media. Sejak awal pencegahan mesti telah dilakukan. Kalaupun ternyata ada yang berhasil lolos, sanksi bagi pelaku mestinya bisa berefek jera agar kasus ini tidak berualang-ulang terjadi.
Inilah dampak dari system pendidikan yang lahir dari buah system kapitalis sekuler yang hanya tergiur oleh materi tanpa memperhatikan kualitas hakiki peserta didik yang dihasilkan. Harusnya instansi pendidikan bukan hanya mencetak lulusan yang unggul dari aspek akademik tapi kepribadiannya rusak. Ini sekaligus merupakan buah tidak terterapkannya konsep islam secara sempurna dalam semua aspek kehidupan. Sehingga mengaburkan keindahan system islam tersebut.

Melirik system pendidikan islam
Dalam system pendidikan islam, kurikulum dan materi pelajaran harus sejalan dengan tujuan pendidikan islam yaitu: Pertama, membangun kepribadian islami, pola pikir (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah) bagi umat. Yaitu dengan cara menanamkan tsaqafah islam berupa akidah, dan perilaku islam dalam diri peserta didik. Kedua, mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar di antara mereka menjadi ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fiqih, politik islam dan lain-lain) maupun ilmu-ilmu terapan seperti teknik, fisika, kedokteran dan lainnya).
Oleh karena itu tentunya pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran dalam sekolah harus melaksanakan tugasnya yang tidak bertentangan dengan tujuan tersebut. Termasuk para tenaga kerjanya seperti, guru, petugas kebersihan, satpam dan lain-lain.
Kegemilangan pendidikan Islam pada masa Khilafah Islam telah tercatat dengan tinta emas. Sejarahwan Barat sendiri mengakuinya, Jacques C. Reister, bahwa sepanjang lima ratus tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang agung. Menurut Montgomery Watt dalam bukunya, The Influence of Islam on Medieval Europe (1994), peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca