Monster Phedofilia Terus Memangsa Generasi
Kiblat pendidikan indonesia masih mengarah kepada pendidikan ala barat. Ini yang membuat banyak rakyat indonesia rela mengeluarkan dana yang terbilang melangit demi menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional. Ada harapan besar anaknya mendapatkan pengetahuan berkualitas setelah mengenyam pendidikan di sana.
Masyarakat Indonesia menganggap sekolah bertaraf internasional adalah
alternatif yang paling baik untuk menjadikan anak cerdas dalam akademik. Selain
itu, kebanggan tersendiri bagi orang tua
yang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah bergengsi. Paham yang
berkembang adalah semakin bergengsi sekolah anak, semakin tinggi pula status
social orang tuanya. Bagi mereka yang memiliki harta melimpah hal itu mudah
saja, tapi bagi yang hidupnya pas-pasan baginya seperti mimpi di siang bolong.
Harapan mendapatkan nilai akademik yang unggul harus dibayar mahal oleh
kejahatan seksual yang di alami oleh anak. Hal ini terbukti dari kasus yang terungkap
mengenai kejahatan seksual yang di alami oleh bocah berusia lima tahun, siswa
taman kanak-kanak Jakarta Internasional School (JIS). Banyaknya kasus lain yang juga
ikut terungkap harusnya semakin membuka mata bahwa pendidikan indonesia tengah
dalam bahaya. Bahkan sekolah yang katanya bertaraf internasional dengan system
pengamanan ketat berhasil di susupi oleh monster pedhopil.
Kejahatan
seksual yang di alami oleh anak akan berdampak buruk bagi kehidupan anak
tersebut setelahnya. Hal ini bisa memicu pada ganguan psikologis seperti
emosional, depresi, rendahnya jiwa sosialisasi bahkan jika tidak ditangani
secara serius dapat mengarah pada trauma berkepanjangan. Hal ini sangat bisa menjadi
cikal bakal penyebab prilaku kriminalitas anak di kemudian hari. Bahkan yang
jauh lebih parah jika korban pedhopil ini malah membuka siklus pedhopil. Anak
yang pernah menjadi korban, saat dewasa dia mengambil peran sebagai pelaku
pedhopil berikutnya dan menghasilkan korban-korban lain yang mungkin saja akan
menjadi pelaku pula di kemudian hari. Hal ini terbukti dari salah satu
tersangka pelaku kejahatan seksual yaitu ZA di JIS yang pada usia 14 tahun
disodomi oleh William James Vahey, seorang pedofil
buronan FBI yang pernah mengajar di JIS selama 10 tahun. Begitulah siklus
pedofil yang bisa mencetak pedofil baru pula.
![]() |
| Om Google |
Kejahatan
seksual ini hanya satu masalah dari sekian masalah yang ada. Budaya barat yang tertanam di sekolah
tersebut menjadi pemantik persoalan baru kian muncul. Gaya hidup bebas
dibiarkan terus membudaya di sana. Selain
itu, system keamanan yang kebablasan menjadi salah satu penyebab kasus ini
terus terjadi. Bahkan pihak JIS terkesan menutup-nutupi pengungkapan kasus ini.
Mengingat pihak JIS menutup rapat informasi terhadap media tentang kejadian ini
termasuk informasi para pengajarnya.
Tindakan
pemerintahpun sangat dipertanyakan. Lolosnya sekolah yang tidak mengantongi
izin harusnya tak perlu tejadi. Sekolah adalah tempat yang sangat efektif
sebagai tempat pendangkalan akidah dan moral rakyat. Oleh karena itu,
pengawasan yang ketat terhadap instansi pendidikan mutlak di perlukan. Terlebih
untuk sekolah-sekolah asing yang ada. Pemerintah sebagai pengurus rakyat
harusnya tidak hanya berkoar ketika ada kasus yang terungkap di media. Sejak
awal pencegahan mesti telah dilakukan. Kalaupun ternyata ada yang berhasil
lolos, sanksi bagi pelaku mestinya bisa berefek jera agar kasus ini tidak
berualang-ulang terjadi.
Inilah
dampak dari system pendidikan yang lahir dari buah system kapitalis sekuler yang
hanya tergiur oleh materi tanpa memperhatikan kualitas hakiki peserta didik
yang dihasilkan. Harusnya instansi pendidikan bukan hanya mencetak lulusan yang
unggul dari aspek akademik tapi kepribadiannya rusak. Ini sekaligus merupakan buah tidak terterapkannya
konsep islam secara sempurna dalam semua aspek kehidupan. Sehingga mengaburkan
keindahan system islam tersebut.
Melirik system pendidikan islam
Dalam
system pendidikan islam, kurikulum dan materi pelajaran harus sejalan dengan
tujuan pendidikan islam yaitu: Pertama,
membangun kepribadian islami, pola pikir (aqliyah)
dan jiwa (nafsiyah) bagi umat. Yaitu
dengan cara menanamkan tsaqafah islam
berupa akidah, dan perilaku islam dalam diri peserta didik. Kedua, mempersiapkan anak-anak kaum
muslim agar di antara mereka menjadi ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan,
baik ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fiqih, politik islam dan lain-lain) maupun
ilmu-ilmu terapan seperti teknik, fisika, kedokteran dan lainnya).
Oleh
karena itu tentunya pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran dalam sekolah
harus melaksanakan tugasnya yang tidak bertentangan dengan tujuan tersebut.
Termasuk para tenaga kerjanya seperti, guru, petugas kebersihan, satpam dan
lain-lain.
Kegemilangan
pendidikan Islam pada masa Khilafah Islam telah tercatat dengan tinta emas.
Sejarahwan Barat sendiri mengakuinya, Jacques C. Reister, bahwa sepanjang lima
ratus tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan
dan peradabannya yang agung. Menurut Montgomery Watt dalam bukunya, The
Influence of Islam on Medieval Europe (1994), peradaban Eropa tidak
dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam
yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya.

0 komentar:
Posting Komentar