Dua Wajah Revolusioner
Bahan bakar minyak untuk sekian
kalinya akan dinaikkan. Sebanyak kali itu pula mahasiswa turun kejalan untuk
menolak kenaikan tersebut. Jalan protokol tumpah ruah oleh air bah lautan
manusia yang katanya memperjuangkan nasib rakyat. Suara pendemo bersahutan
dengan deru kendaraan yang sejak tadi tersendat jalannya. Asap hitam tak kalah
ramainya mengepul akibat ban yang sengaja dibakar oleh para pejuang rakyat
tersebut. Lalu ocehan para pengguna jalan menambah lengkap aksi mereka. Sayangnya
para demonstran itu nampaknya harus kecewa karena ocehan mereka bukan untuk
pemerintah melainkan untuk orang yang "memperjuangkan nasibnya". Mereka
tak mendapat dukungan dari warga. Bahkan ditempat lain warga malah balik
melawan para pejuang rakyat tersebut.
Menyandera SPBU jadi aksi andalan
para pendemo tiap kali rencana kenaikan BBM. Kali ini giliran truk tangki
minyak pertamina yang disandera. Mungkin mereka mengira, cara ini bisa
mengancam para dedengkot pemerintahan untuk segera mengurungkan niatnya
menaikan harga BBM. Sayangnya cara inipun tak berhasil.
Sementara di barisan lain tak kalah
ramainya. Mereka juga datang berkumpul untuk meyuarakan dengan lantang
penolakan mereka terhadap rencana kenaikan BBM. Bedanya aksi mereka tidak
dihiasi kepulan asap ban. Juga tidak menyandera tangki atau SPBU pertamina.
Mereka membawa bendera yang bertuliskan Lailaha
Illallah. Ada yang berwarna putih dan ada pula yang berwarna hitam. Mereka
menyebutnya sebagai bendera islam, karena Rasulullah dan para sahabat selalu
memakainya termasuk saat perang.
"Allahuakbar" pekik salah
seorang dari barisan yang membawa bendera islam. Segera diiukuti seluruh
peserta dibelakangnya sambil mengangkat tangan kanan yang dikepal.
"Hidup mahasiswa" teriak
barisan kiri tak mau kalah. Mereka juga mengangkat kepalan tangan. Bedanya
mereka mengangkat tangan kiri.
"Omong kosong jika Jokowi
tidak tahu bahwa jika BBM naik rakyat semakin sengsara" tegas salah satu
orator aksi di barisan kanan. Tetiba depan gedung wakil rakyat dibuat panas
dengan orasi yang membara.
“Rezim Jokowi tak berbeda dengan
rezim – rezim sebelumnya.” tambahnya
Barisan kiri tak mau ketinggalan
menghantam pemerintah dengan lemparan kata-kata tegas. "Jangan naikkan
harga BBM, hentikan penindasan terhadap rakyat" teriak salah seorang
diatas truk tangki minyak pertamina.
"Kenaikan harga BBM akan
semakin mempersulit kehidupan rakyat jelata, harga sembako dan ongkos
transportasi akan semakin mahal dan tidak terjangkau daya beli
masyarakat," ujar orator tersebut.
Suara lantang menolak rencana
kenaikan BBM bertalu-talu di telinga para pengguna jalan. Lambat laun suara
tersebut pun akan sampai ditelinga presiden. Bahkan jauh sebelumnya presiden
sudah bisa menebak gelombang penolakan ini pasti terjadi. Seperti yang terjadi
sebelum-sebelumnya. Toh, hampir seluruh presiden pernah merasakannya. Namun
selalu saja mereka tetap menaikkan harga BBM.
"Buang-buang waktu saja ini
semua mahasiswa. Bukannya pergi belajar, malah demo tidak jelas. Mengganggu perjalanan
orang saja" komentar salah satu penumpang pete-pete tepat disamping duduk
Riska.
"Trus gimana dong bu. Di keritik
begini saja mereka tetap naikkan harga BBM, apalagi kalau tidak dikeritik sama
sekali. Lagian mengkritik itu tugas kita. Ya rakyat ini" Riska menimpali
"Mengkeritik sih, mengkeritik.
Tapi kan bisa tidak membuat macet seperti ini. Kita hargai niatnya
memperjuangkan nasib rakyat. Tapi caranya ini, bikin emosi" keluhnya
"Tapi kata mereka, ini salah
satu strategi untuk menunjukkan kemarahannya pada pemerintah"
"Buat apa. Kalau begini, warga
malah ikut marah sama mereka"
Riska tersenyum tanda setuju
"Saya kiri depan fly over yah
pak" teriak Riska kepada pak sopir.
"Mau kemana dek?" tanya
ibu disampingnya penasaran
"Saya ikut barisan aksi damai
yang sebelah kanan sana bu"
"Ini bu, saya ada buletin
berisi penolakan kami terhadap kenaikan BBM" tambahnya sambil menyodorkan
selebaran berwarna biru.
"Kiri" teriak Riska agak
pelan tapi cukup jelas oleh pak sopir.
***
Kebijakan
ini harus segera di hentikan, dan sebagai gantinya, Migas dan SDA dikelola
sesuai tuntutan syariah untuk kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh rakyat,
baik muslim maupun non muslim. Dengan penerapan syariah Islam secara Kaffah
dalam naungan Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwah.
Ia baca dengan pelan baris-baris terakhir dari buletin yang baru saja ia dapatkan. "Khilafah" pikirnya mengingat kata yang pernah ia dengar sebelumnya. Masih samar.
Ia baca dengan pelan baris-baris terakhir dari buletin yang baru saja ia dapatkan. "Khilafah" pikirnya mengingat kata yang pernah ia dengar sebelumnya. Masih samar.
Maros, 11 November 2014 / sehari sehabis hari pahlawan

0 komentar:
Posting Komentar