Kamis, 01 Januari 2015

Turnamen Kehidupan

The Karateka Kid. Film yang lahir dari kampium kapitalis-demokrasi serta sosialis, Amerika dan Cina. Kemunculannya cukup dinanti oleh para pecinta karate. Terlebih bagi penggemar Jaden Smith dan Jackie Chan. Saya bukan pecinta fanatik karate, apalagi pecinta kedua aktor tersebut. Tapi film 2010-an ini punya daya tarik sendiri untuk selalu menontonnya berulang kali. Ada beberapa pesan yang bisa kita dapatkan di dalamnya. Tentang kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan. Terlepas dari ‘pemanis buatan’ yang hampir tidak pernah absen di setiap film yang justru menyumbangkan rasa pahit karena diolah dengan cara keliru. Percintaan.
“Hidup akan selalu menjantuhkan kita, tapi kita bisa memilih bangkit atau tidak” pesan hidup yang didapatkan Mr Han dari seorang anak Amerika, Dre Parker. Kegigihan Dre untuk terus berlatih karate dari nol hingga di panggung turnamen terselip pelajaran tentang hidup. Bahwa hidup tidak untuk di sesali tapi di perjuangkan.
Tentang jatuh. Saya juga pernah membaca sebuah artikel. Di dalamnya ditulis semua orang punya jatah terjatuh atau bahasa lainnya gagal. Ada yang menghabiskannya di awal. Juga ada yang menyicilnya sepanjang perjalanan. Pun ada yang mengambilnya sekaligus di ujung arena. Letak persoalannya bukan pada seberapa banyak cobaan yang menghampiri tapi bagaimana kita menyikapinya. Pilihan di tangan kita. Kata ustad Felix “Live is choice”.
Takut jatuh? Wajar, Dre juga merasakan itu. Tapi ketakutan tidak membuatnya berhenti mencoba. “I'm still scared. And no matter what happens tonight, when i leave, i don't want to be scared anymore” satu lagi pesan dari keluguan seorang anak berusia dua belas tahun. Tidak mudah melawan rasa takut apalagi bagi anak seusianya. Tapi Dre berkata lain, ia terus melanjutkan pertandingan dengan modal kemugkinan kecil menang yang ia bangun.
Jangan kira tulisan ini adalah sebuah resensi film The Karateka Kid. Bukan isi filmnya yang menjadi fokus pembahasan kita kali ini. Saya hanya tertarik membahas pesan hidup yang terekam di dalam film ini. Menarik untuk kita hubungkan dengan kehidupan nyata yang tengah kita hadapi. Bagi diri pribadi, masyarakat dan Negara.
Hidup ini adalah sebuah perlombaan sebagaimana yang dilakukan Dre dalam turnamen. Dre melalui ujian-ujian yang dihadapkan padanya dalam bentuk lawan karate, kita pun hidup selalu ada ujian yang menghampiri kita. Setiap ujian yang kita lewati menambah poin kita. Sebagaiman Dre, lawan-lawan yang berhasil dikalahkan membuat poinnya semakin bertambah. Poin itu yang akan menentukan apakah kita layak menjadi pemenang dengan hadiah surga atau tidak.
Dalam pertandingan ada yang menang ada yang kalah. Antara kita dan masalah, pasti ada yang kalah. Kita atau masalah. Nafsu atau akal. Kebaikan atau keburukan. Menyerah atau bangkit. Kita yang memilih berjuang atau menyerah.
Begitupun islam melawan kapitalisme dan sosialisme. Pastilah salah satunya menang dan yang lainnya kalah. Bedanya Allah telah menjanjikan siapa yang menang siapa yang kalah. Islam sudah pasti menang. Waktu yang akan berbicara kapan tiba waktunya kemenangan itu. Tinggal kita memilih untuk menjadi pejuang islam, kapitalisme atau sosialis. Orang berakal tentu akan memilih menjadi pejuang sesuatu yang sudah pasti menang.
Jika dalam turnamen biasa, lawan yang curang ada kemungkinan merebut juara di babak final. Tapi dalam turnamen ideologi, di babak final sudah di pastikan bahwa islam yang Berjaya. Meskipun mungkin sepanjang pertarungan, kadang islam mendapat pukulan-pukulan yang cukup keras. Tapi itu tidak membuat islam keluar arena atau kehilangan kesempatan melanjutkan pertandingan. Sebagaimana Dre, yang kakinya sempat terluka akibat kecurangan lawannya. Tapi di akhir pertarungan, Dre tetaplah keluar menjadi pemenang. Menang dengan aksi yang sangat cantik. Sangat memukau. Begitulan islam nantinya isnyaAllah, kita akan di buat terpukau dengan kemenangannya. Pejuang tentu akan merasakan perasaan yang jauh lebih dahsyat dibanding penonton terlebih bagi yang malah menentang. 
Tetaplah menjadi orang yang percaya bahwa suatu saat nanti yang kecil akan menjadi besar, tumbuh lalu berkembang. Dan disaat itulah buah manis akan dipetik dari sebuah perjuangan dan kerja keras kita. Karena kesuksesan yang abadi selalu lahir dari perjuangan yang panjang tidak instan.
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. ( Annur : 55)


0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca