Turnamen Kehidupan
The Karateka Kid. Film
yang lahir dari kampium kapitalis-demokrasi serta sosialis, Amerika dan Cina.
Kemunculannya cukup dinanti oleh para pecinta karate. Terlebih bagi penggemar
Jaden Smith dan Jackie Chan. Saya bukan pecinta fanatik karate, apalagi pecinta
kedua aktor tersebut. Tapi film 2010-an ini punya daya tarik sendiri untuk
selalu menontonnya berulang kali. Ada beberapa pesan yang bisa kita dapatkan di
dalamnya. Tentang kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan. Terlepas dari ‘pemanis
buatan’ yang hampir tidak pernah absen di setiap film yang justru menyumbangkan
rasa pahit karena diolah dengan cara keliru. Percintaan.
“Hidup akan selalu
menjantuhkan kita, tapi kita bisa memilih bangkit atau tidak” pesan hidup yang
didapatkan Mr Han dari seorang anak Amerika, Dre Parker. Kegigihan Dre untuk
terus berlatih karate dari nol hingga di panggung turnamen terselip pelajaran
tentang hidup. Bahwa hidup tidak untuk di sesali tapi di perjuangkan.
Tentang jatuh. Saya juga
pernah membaca sebuah artikel. Di dalamnya ditulis semua orang punya jatah
terjatuh atau bahasa lainnya gagal. Ada yang menghabiskannya di awal. Juga ada
yang menyicilnya sepanjang perjalanan. Pun ada yang mengambilnya sekaligus di
ujung arena. Letak persoalannya bukan pada seberapa banyak cobaan yang
menghampiri tapi bagaimana kita menyikapinya. Pilihan di tangan kita. Kata
ustad Felix “Live is choice”.
Takut
jatuh? Wajar, Dre juga merasakan itu. Tapi ketakutan tidak membuatnya berhenti
mencoba. “I'm still scared. And no matter
what happens tonight, when i leave, i don't want to be scared anymore” satu
lagi pesan dari keluguan seorang anak berusia dua belas tahun. Tidak mudah
melawan rasa takut apalagi bagi anak seusianya. Tapi Dre berkata lain, ia terus
melanjutkan pertandingan dengan modal kemugkinan kecil menang yang ia bangun.
Jangan
kira tulisan ini adalah sebuah resensi film The Karateka Kid. Bukan isi filmnya
yang menjadi fokus pembahasan kita kali ini. Saya hanya tertarik membahas pesan
hidup yang terekam di dalam film ini. Menarik untuk kita hubungkan dengan
kehidupan nyata yang tengah kita hadapi. Bagi diri pribadi, masyarakat dan
Negara.
Hidup
ini adalah sebuah perlombaan sebagaimana yang dilakukan Dre dalam turnamen. Dre
melalui ujian-ujian yang dihadapkan padanya dalam bentuk lawan karate, kita pun
hidup selalu ada ujian yang menghampiri kita. Setiap ujian yang kita lewati
menambah poin kita. Sebagaiman Dre, lawan-lawan yang berhasil dikalahkan
membuat poinnya semakin bertambah. Poin itu yang akan menentukan apakah kita
layak menjadi pemenang dengan hadiah surga atau tidak.
Dalam
pertandingan ada yang menang ada yang kalah. Antara kita dan masalah, pasti ada
yang kalah. Kita atau masalah. Nafsu atau akal. Kebaikan atau keburukan. Menyerah
atau bangkit. Kita yang memilih berjuang atau menyerah.
Begitupun
islam melawan kapitalisme dan sosialisme. Pastilah salah satunya menang dan
yang lainnya kalah. Bedanya Allah telah menjanjikan siapa yang menang siapa
yang kalah. Islam sudah pasti menang. Waktu yang akan berbicara kapan tiba
waktunya kemenangan itu. Tinggal kita memilih untuk menjadi pejuang islam,
kapitalisme atau sosialis. Orang berakal tentu akan memilih menjadi pejuang
sesuatu yang sudah pasti menang.
Jika
dalam turnamen biasa, lawan yang curang ada kemungkinan merebut juara di babak
final. Tapi dalam turnamen ideologi, di babak final sudah di pastikan bahwa
islam yang Berjaya. Meskipun mungkin sepanjang pertarungan, kadang islam
mendapat pukulan-pukulan yang cukup keras. Tapi itu tidak membuat islam keluar
arena atau kehilangan kesempatan melanjutkan pertandingan. Sebagaimana Dre,
yang kakinya sempat terluka akibat kecurangan lawannya. Tapi di akhir
pertarungan, Dre tetaplah keluar menjadi pemenang. Menang dengan aksi yang
sangat cantik. Sangat memukau. Begitulan islam nantinya isnyaAllah, kita akan
di buat terpukau dengan kemenangannya. Pejuang tentu akan merasakan perasaan
yang jauh lebih dahsyat dibanding penonton terlebih bagi yang malah menentang.
Tetaplah menjadi orang yang percaya bahwa suatu saat nanti yang kecil akan menjadi besar, tumbuh lalu berkembang. Dan disaat itulah buah manis akan dipetik dari sebuah perjuangan dan kerja keras kita. Karena kesuksesan yang abadi selalu lahir dari perjuangan yang panjang tidak instan.
Dan Allah
telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa
dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap
menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik. ( Annur : 55)

0 komentar:
Posting Komentar