Hidup Tak Sekadar
Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada
hari kiamat sebelum ditanya tentang 4 perkara : Tentang umurnya untuk apa ia
habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana diperoleh dan
kemana dibelanjakan, dan ilmunya, apa yang diamalkannya.” (HR. Tirmidzi)
***
![]() | |
| Om Google |
Pernahkah
teman-teman membayangkan seberapa dasyatnya perasaan saat ditanya oleh
penggenggam jiwa-jiwa kita di akhirat kelak. Jika belum, coba bayangkan saat kita
diberi tugas lapangan oleh guru di tempat yang sangat indah, fasilitas lengkap
dan banyak wahana bermain. Lalu guru kita memberikan bekal untuk dipergunakan
selama tugas tersebut.
Selama
perjalanan waktu pengerjaan tugas lapangan itu kita terlena oleh indahnya
daerah yang kita datangi. Kita habiskan waktu dengan mengunjungi seluruh
tempat-tempat cantik di daerah itu. kemudian menghabiskan bekal uang yang
diberikan oleh guru kita untuk mendatangi toko-toko yang ada. Bahkan ilmu yang
harusnya digunakan untuk menyelesaikan tugas malah digunakan untuk menipu
teman-teman lainnya yang juga punya tugas yang sama. Lalu uang itu di gunakan
untuk berfoya-foya kembali. Begitu seterusnya.
Hingga
tibalah hari yang tidak pernah kita tunggu-tuggu. Bahkan kita selalu menghindari
waktu itu, sementara ianya tidak bisa di
hindari. Ketika sampai di tempat saat pertama kita di lepas ke daerah tugas
lapangan. Kita menangis sejadi-jadinya. Menyesali seluruh perbuatan yang kita
lakukan di tempat praktek lapangan. Menyesali kenapa kita tidak mempergunakan
baik-baik bekal yang diberikan guru untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Lalu
membantu teman yang lain untuk menyelesaikan tugasnya, bukan malah
menghambatnya. Atau bahkan memengaruhinya untuk meninggalkan tugas itu.
Belum
juga selesai penyesalan kita, asisten guru sudah datang. Dia bertanya kepada
kita. Dipergunakan untuk apa bekal yang diberikan oleh guru selama waktu pengerjaan
tugas lapangan. Tentu kita sadar betul bahwa bekal itu digunakan bukan untuk
menyelesaikan tugas. Melainkan untuk menikmati wahana-wahana di daerah tempat
tugas lapangan. Waktu, kekuatan, uang dan ilmu digunakan untuk berfoya-foya.
Sekali lagi bukan untuk menyelesaikan tugas.
Begitulah
teman-teman kurang lebih mungkin rasanya saat kita ditanya tentang empat
perkara yang diberikan oleh Allah kepada kita selama hidup untuk menyelesaikan
tugas sebagai hambanya. Meskipun perasaan itu pastilah belum seberapa jika
dibandingkan kelak.
Tugas
yang diberikan Allah kepada kita selama hidup tak lain adalah ibadah. Tugas
yang tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain. Kenapa hanya kita manusia
yang diberikan tugas itu. Mungkin itu pertanyaan teman-teman. Jawabnya, hanya
kita yang ditugaskan beribadah karena hanya kita yang diberikan bekal yang
lengkap. Hanya manusia yang diberikan akal. Dengan akal itulah kita memperoleh
ilmu untuk melakukan ibadah.
Kata
orang penyesalan itu selalu munculnya belakangan. Dan, penyesalan rasanya
selalu sakit. Jika di beri kesempatan memperbaikinya, seberapapun mahalnya
kesempatan itu pasti kita siap membelinya. Sayangnya saat di akhirat nanti tak
ada kesempatan kembali ke dunia untuk memperbaiki kesalahan kita. Saat malaikat
maut mejemput, kita tidak bisa kabur atau memohon untuk di tunda
penjemputannya. Kita diberi kesempatan hidup satu kali saja. Dan, hidup yang
sukses adalah hidup yang tak sekadar hidup. So, mari bergegas perbaiki ibadah,
tinggalkan maksiat, nutup aurat dengan sempurna, dakwah, putuskan pacar atau
bawa langsung ke pelaminan. Raih ridha Allah dengan ibadah. Niat ikhlas karena
Allah.

0 komentar:
Posting Komentar