Lelaki Penuh Pesona
Pernah
nonton film yang menceritakan seorang pria kaya raya yang rela meninggalkan
keluarganya dengan segala kemewahannya, demi mengejar cinta seorang gadis karena
tidak mendapat restu? Terharu dengan pengorbanannya?
Sahabat
Rasulullah Mush’ab bin Umair jauh lebih mengharukan dengan lakon kisah serupa
di atas. Ia rela meninggalkan keluarganya dengan kenikmatan yang dimiliki, juga
demi cinta. Tapi cinta yang dikejar bukan cinta biasa. Mengejar cinta sang
Ilahi. Demi mengecap manisnya iman islam.
Sebelum
ia masuk islam, orangtuanya mencukupi seluruh kebutuhannya dengan barang-barang
mewah. Mereka tak membiarkan sedikitpun anaknya kelaparan. Ibunya selalu
menyiapkan makanan lezat di samping tempat tidurnya. Agar jika ia terbangun dan
lapar, bisa langsung menyantap makanan di sampingnya. Belum lagi pakaian mahal
yang diberikan untuknya.
Ketampanan,
wangi serta pakaian yang indah jangan ditanya. Ianya membuat setiap yang
melihat terpukau terutama kaum hawa. Tidak hanya itu kecerdasan otaknya serta
keluwesannya dalam bergaul membuat ia semakin mempesona.
Petualangan
pemuda ini bersama islam dimulai sejak ia mendengar ada seorang lelaki Makkah
yang mengaku sebagai utusan Allah. Keseriusannya mencari islam dibuktikan
dengan mencari tau dimana tempat berkumpulnya Rasulullah dan para sahabatnya
membicarakan seputar islam. Kemudian ia mendatanginya yaitu rumah arqam bin abi
al-arqam. Di tempat itulah ia mengucap kalimat syahadat karena terpesona dengan
keindahan islam.
Konsekuensi
dari keimanannya menuntut ia meninggalkan kemewahan dari ibunya. Karena ibunya
marah besar saat mengetahui anak yang selama ini dia berikan kasih sayang
meninggalkan ajaran nenek moyangnya.
Berbagai
macam cara dilakukan ibunya untuk mengembalikan Mush’ab bin Umair ke agama
nenek moyangnya. Termasuk mengurungnya tanpa memberi makan. Namun keimanan
pemuda ini tak dapat di tawar lagi. Hingga ibunya putus asa dan menyuruhnya
pergi dengan kekecewaan yang teramat dalam.
Banyak
kaum muslim yang takut setelah berjuang di jalan Allah ia kehilangan seluruh
kenikmatan dunia yang dirasakan selama ini.
Terutama bagi para remaja yang berasal dari keluarga kaya. Difasilitasi
mobil mewah, uang saku yang berlebihan, tempat tinggal yang nyaman serta kenikmatan-kenikmatan
dunia lainnya.
Sebagai
muslim, kisah Mush’ab bin Umair mengajarkan kita banyak hal. Demi islam ia rela
meninggalkan kemewahan yang diberikan ibunya. Tapi tulisan ini tidak
menyarankan kamu untuk meninggalkan orangtua demi dakwah loh yah. Lain cerita kalau
kamu memang di usir. Bahkan jika diusirpun dan kamu memilih untuk pergi, kamu tetap
harus pulang saat semuanya sudah tenang.
Yang
jelas, tulisan ini hanya ingin menggambarkan pada kita bahwa bukan kemewahan
yang membuat kita selamat di akhirat. Tapi amal yaitu cerminan dari iman kita. Saat
kita di hadapkan pada dua pilihan yaitu harta atau iman. Tentu pilihan yang
paling menjanjikan adalah iman. Karena harta tak bisa mengikuti kita kemanapun
pergi tapi iman selalu menyertai kita termasuk di akhirat kelak.
![]() |
| Sumber: Om Google |

0 komentar:
Posting Komentar