Menyambut Pelangi
Kulirik
lagi jam dinding tepat di depanku, jarumnya menunjukkan pukul tujuh lewat delapan. Segera kuraih tangan kanan ayah sembari
menempelkannya di keningku, hal yang sama kulakukan pada ibu yang sedang berada
di dapur. Setiap pagi ibu memang selalu didapur membuat kue untuk dibawa ke
warung. Biasanya aku dan kak Hana yang selalu membantu ibu. Tapi untuk hari ini
aku tak sempat membatu ibu sampai kuenya selesai di buat. Aku ke Sekolah lebih
awal dari biasanya.
“Mah, pah aku pergi assalamu’alaikum” teriakku sambil
melangkahkan kaki kananku keluar rumah. Dug...dug...dug...suara detak jantungku
mengiringi jalanku
menuju SMA Negeri 1
Partam. Jarak sekolahku dari
rumah tidak
terlalu jauh. Mungkin jaraknya hanya sekitar
limaratus meter, ada yang lain kurasakan hari ini jantungku berdetak
lebih kencang dari biasanya. Kakiku terasa berat seakan ada yang menahan dari
bawah, mulutku tidak berhenti komat-kamit sambil membaca doa yang selau ku
ulang seakan tak ada ujungnya.
Tempat pemakaman umum telah aku lalui, lapangan sepak bola pun telah menantiku. Lapangan ini selalu
di pakai setiap tahunnya untuk upacara tujuh belas agustus sekaligus perayaannya oleh seluruh siswa se
Kecamatan Mandai. Detik-demi
detik telah kulalui. Semakin
lama, semakin mantap kakiku melangkah
menuju sekolah yang telah memberiku tempat untuk menuntut ilmu selama tiga
tahun. Dan akhirnya sedikit lagi gedung tua itu harus melepasku untuk menuntut
ilmu di tempat selanjutnya.
Jam
kulit berwarna coklat di pergelangan
tanganku, jelas menunjukkan pukul tujuh
lewat duapuluh. Dan akhirnya kulangkahkan juga kakiku di depan sekolah kebanggaanku. Tulisan SMA NEGERI 1 PARTAM terlihat samar di
tembok pagar sekolahku. Segera aku melangkah menuju kantor guru menunggu pengumuman
hasil ujian akhir nasional. “Kemana
semua teman kita?”, tanyaku kepada perempun berambut panjang, badannya lebih
tinggi dari aku sangat serasi dengan postur tubuhnya yang extra. Ia memakai seragam putuh
biru seperti anak yang lain. Wajahnya jelas tak bisa
membohongi kecemasan akan hasil ujiannya. Ia duduk
di taman depan kantor, tepat di
bawah pohon ketapang yang setia
melindungiku di waktu cahaya matahari
sangat terik menyembur ke bumi. Tempat ini
sering aku jadikan tempat nongkrong bersama teman-teman saat jam istirahat.
Namanya Yeni Antika Rombe, ya kedengarannya memang agak aneh. Nama orang Toraja
selalu agak aneh terdengar
oleh telinga kita bahkan untuk sebagian orang itu kedengaran lucu. Tapi itulah
keunikan mereka. Banyak nama oarang Toraja yang pernah ku dengar misalnya
Satria Lolo payung, Mince Parira, Febriani Salamba dan masih banyak lagi yang
lainnya.
“Mungkin
masih di jalan, padahal ini sudah setengah delapan “ jawabnya datar. “aku
pikir, saat aku sampai di sekolah semuanya sudah kumpul dan siap mendengar
pengumuman hasil UN, aku juga sudah buru-buru tadi kesini. Dasar Indonesia masih saja setia menggunakan
jam karet” kataku dengan
wajah sok kecewa.
Tak
henti-hentinya siswa berdatangan namun tak satupun terlihat diantara mereka
Ratih sahabat karibku sejak SD, dia berperakawakan tinggi kurus, wajahnya putih
sedikit lonjong seperti telur. Biasanya
aku selalu berangkat bersama tapi tidak untuk hari ini. Dia memintaku berangkat
lebih dulu, katanya ada sesuatu yang harus dia kerjakan sebelum ke Sekolah.
Akhirnya setelah cukup lama menunggu Ratihpun datang.
Kusambut ia dengan salam “Assalamualaikum”. Tak lama setelah ia menjawab
salamku, orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Pak Arif datang membawa hasil ujian
nasional tahun ajaran 2006/2007. Semua mata tertuju padanya, dengan muka berharap-harap cemas. Yeni
kelihatan tak henti-hentinya mengucapkan doa, entah doa apa yang di panjatkan. Kami beda
kepercayaan. Dia satu-satunya non muslim di kelasku, walau begitu kami tetap
menerimanya sebagai
teman kami. Begitu pun dia, yeni
tetap gabung dengan kami
padahal dia punya teman di kelas sebelah yang sama kepercayaan. Yeni salah
satu teman akrabku di kelas.
“Assalamu’alaikum
wr.wb , anak-anakku sekalian hari
ini kita akan mengetahui hasil ujian nasional kalian. Bapak berharap kalian
bisa menerima, apapun hasilnya lulus atau tidak bukan sebuah maslah yang
penting kalian sudah berusaha maksimal
dan hasil itulah yang terbaik untuk kalian.
“ ucap pak Arif di depan
kami semua yang sudah berbaris dengan rapi. Dia terlihat setengah teriak untuk
mengalahkan suara kami yang berjumlah sekitar 300 orang.
Mendengar
kata tidak lulus, sontak hatiku tersentak. Nafasku tak karuan, jantungku
berdebar sangat kencang. “ya Allah aku
mohon kepadamu, engkau maha mengetahui apa yang telah hamba lakukan selama ini,
hamba yakin engkau takkan memberikan ujian kepada hambamu jika kami tak mampu menjalaninya”
doaku dalam hati sambil menutup mukaku. “tenang Ni, mudah-mudahan kita bisa
lulus.”kata yeni meyakinkanku. “tapi aku sudah salah tulis nama di lembar jawabanku”. Saat ujian aku salah
menuliskan nama dalam pada lembar jawabanku. Seharusnya aku menuliskan
nama Ani Ardiansyah seperti yang tertulis di akta kelahiran
dan ijazah SD ku tapi yang aku tuliskan saat itu adalah Nur Ani Ardinsyah karena selama ini Nur
Ani Ardinsyah yang
tertulis di daftar hadir kita.
“tenang kawan, nama apapun yang kau tuliskan di kertas jawabanmu kalau Allah
berkehendak kau lulus, tak ada yang bisa mengubahnya. Apa kau lupa bahwa hanya
Allah yang maha mengatur segalanya. Jadi jangan pernah ragu akan kuasanya”
Ratih seperti tahu apa yang ada di pikiranku. Kata-katanya menyadarkanku bahwa
aku tak boleh ragu dengan kuasa-Nya.
Setelah
hampir setengah jam pak Arif cuap-cuap di depan kami sambil berusaha menguatkan
untuk bisa menerima apapun hasil ujiannya. Kami diminta ke lapangan sepak bola
dekat sokolah. Kertas
pengumuman hasil ujian di bagikan satu persatu kepada kami,aku termasuk sepuluh
terakhir yang mendapatkan kertas itu, belum mebuka kertasnya suara tangisan
telah terdengar di penjuru lapangan seakan ingin menghentikan tanganku untuk
membuka kertas yang telah dari tadi aku pegang. Karena penasaran, aku nekat membuka. Aku
mencari nomor ujianku diantara nomor ujian tak aku kenal pemiliknya. “98,99,101
dan 102 aku lulus...aku lulus...lulus” dengan wajah gembira aku berteriak namun betapapun
besarnya suaraku tetap saja terkalahkan oleh suara tangisan temanku yang tidak
lulus. Aku segera menuju teman-teman yang tidak lulus dan berusaha menguatkan.
Coretan-coretan
mendarat di baju yang dikenakan teman-teman. Tapi tidak denganku, aku lebih memilih cepat
pulang dan segera memberi tahukan kabar gembira ini kepada orang tuaku. Lagipula aku sudah berniat ingin menyumbangkan seragam
sekolahku ke panti asuhan. “ma, aku lulus”
teriakku sambil berlari menuju ibu di dapur. “alhamdulillah” hanya kata itu
yang keluar dari mulut ibu. Sedikit kecewa yang aku rasakan melihat reaksi ibu
saat aku meberi tahukan kabar kelululusanku. Mungkin ibu sudah menduga aku akan
lulus, kan selama ini memang aku
tidak pernah macam-macam
di sekolah dan selalu mendapat predikat
juara umum di Sekolah. Jadi ibu tidak heran kalau aku
bisa lulus ujian nasional. Seandainya ibu tau betapa beratnya aku melewati ujian nasional tahun
ini. Semua temanku melihat contekan, melihat kunci jawaban. Hanya aku yang
tidak melakukan hal itu. Padahal aku sedikit pesimis sebab
masih belum fit seratus persen setelah keluar dari rumah sakit. Dan
akhirnya aku putuskan untuk tidak melihat kunci. Berusaha sendiri menjawab soal
ujian dengan kemampuanku sendiri tanpa mengandalakn kunci atau bantuan orang
lain. Sempat terbersit dalam hatiku kalimat” bagaimana kalau aku tidak lulus
gara-gara tidak melihat kunci?” tapi segera kutepis” aku yakin Allah akan
melindungi hambanya yang betul-betul ingin menegakkan kejujuran” kataku dalam hati
berusaha menguatkan diri. Ternyata soal ujian nasional tidak sesulit yang aku
pikirkan. Dengan mudahnya aku
bisa menyelesaikan soal ujian nasioanal. Hampir setiap hari saat ujian,
kusisakan setengah dari waktu yang disiapkan untuk sekedar membantu teman-teman
yang lain.
Akhirnya benar aku bisa
lulus walau dengan nilai yang pas-pasan tapi aku sangat puas mampu mengungguli
beberapa orang dengan jerih payahku sendiri
ditengah kondisi fisik yang masih lemah saat ujian.
Meski teman-teman banyak merasa prihatin dengan aku yang di ungguli oleh
beberapa teman yang aku bantu pada saat ujian. Meski begitu aku betul-betul tidak mempersoalkan
dengan nilainya. Aku ikhlas dengan nilai yang telah aku dapatkan, karena aku
yakin pasti ada hikmah yang lebih baik dari kejadian ini. Walau aku juga tak
munafik setiap melihat nilai mereka jauh lebih tinggi dariku, kadang terbersit rasa isri.
Berkali-kali aku berusaha menepisnya
“mungkin nilai inilah yang terbaik untukku dan pasti ada hikmah di balik ini
semua” kataku tiap perasaan iri itu muncul.
Di
setiap penghujung sujudku aku tak pernah lupa untuk memanjatkan doa agar aku
mampu menerima nilaiku dengan sangat ikhlas” Ya Allah alhamdulillah engkau
telah memberikan nikmat kelulusan kepada hambamu ini, walau dengan nilai yang
tidak terlalu tinggi. Aku yakin nilai inilah terbaik untukku. Ya Allah hamba
memohon berilah aku ke ikhlasan untuk menerima semua ini. Beri aku keikhlasan
agar aku tidak iri dengan mereka yang selalu aku beri contekan saat belajar
bahkan saat ujian. Atau mungkin ini karena aku telah berdosa memberikan
contekan kepada mereka ?. kalau memang itu aku minta maaf ya Allah. Karena
hamba hanya manusia yang lemah yang tak mampu melihat temah hamba dalam
kesusahan tapi diluar itu, ya Allah aku yakin ada hikmah dibalik ini semua yang
jauh lebih baik dari yang aku pikirkan. “ dan segera kuhentikan doa karena ku
takut jika terlalu banyak berdoa isi doaku malah menjurumuskanku dalam
prasangka buruk kepada-Nya.
Tidak butuh waktu yang lama doaku terkabulkan. Sungguh
Allah begitu sayang padaku. Paling tidak itulah yang aku rasa saat mendapatkan
informasi dari kepala sekolah bahwa aku bebas tes masuk di salah satu perguruan
tinggi ternama di Inggris. Tak henti-hentinya terucap pujian pada-Nya atas
nikmat yang di berikan kepadaku. Padahal aku hampir pesimis tidak akan lulus di
universitas Negeri di Indonesia dengan nilai ujian nasionalku yang pas-pasan. Ternyata
justru aku bisa lulus di Universitas terbaik dunia. Aku sempat tidak percaya
dengan informasi kelulusanku di Universitas of Cambridge, Inggris Aku lupa
kalau dulu saat memenangi lomba olimpiade Fisika tingkat SMA di Inggris aku sempat di tawari lulus
bebas tes di Universitas tersebut , aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku
pikir dia hanya bercanda, tapi tak kuduga ternyata dia tak bercanda..
Sebelum aku benar-benar jatuh Allah membangunkanku
dengan nikmat yang tak terkira ini. Aku semakin yakin dengan cinta-Nya yang tak
pernah usai. Inilah hikmah dibalik
kejujuran serta kesabaran. Cobaan yang di berikan bukan berarti Allah membenci
kita. Justru itulah yang membuktikan kecintaan-Nya pada kita. Allah hanya ingin
menguji sebelum memberikan nikmat-Nya. Aku jadi teringat kalimat dalam sebuah film
Surga Cinta “kadang –kadang Allah sembunyikan matahari, Ia datangkan petir dan
kilat. Lalu kita bertanya-tanya kemana hilangnya matahari, rupa-rupanya Allah
memberi kita pelangi”. Kini Allah mendatangkan pelangi untukku setelah ia
berikan hujan sebelumnya.
0 komentar:
Posting Komentar