Minggu, 20 November 2011

Menyambut Pelangi

Jam dinding tua berwarna kuning emas berbentuk kubah masjid, tanpak elegan menempel di dinding rumahku yang rapuh. Usianya sekitar dua puluh tahun jauh lebih tua dari usiahku saat ini. Jarumnya masih tampak gesit begerak mengitari porosnya melewati angka demi angka. Tanpak jelas jarum pendeknya menunjuk angka tujuh dan jarum panjangnya menunjuk angka satu yang artinya, aku harus segera berangkat ke sekolah. Tak buang-buang waktu lagi aku langsung memakai sepatu kebesaranku. Tas kain berwarna biru tergantung rapi di pundakku. Baju pramuka yang sudah usang telah terpasang rapi di badanku lengkap dengan rok cokelat yang setia menemaniku ,menuntut ilmu pada hari jumat dan sabtu.
Mbah Google
Kulirik lagi jam dinding tepat di depanku, jarumnya menunjukkan pukul  tujuh lewat delapan. Segera kuraih tangan kanan ayah sembari menempelkannya di keningku, hal yang sama kulakukan pada ibu yang sedang berada di dapur. Setiap pagi ibu memang selalu didapur membuat kue untuk dibawa ke warung. Biasanya aku dan kak Hana yang selalu membantu ibu. Tapi untuk hari ini aku tak sempat membatu ibu sampai kuenya selesai di buat. Aku ke Sekolah lebih awal dari biasanya.  
Mah, pah aku pergi assalamu’alaikum teriakku sambil melangkahkan kaki kananku keluar rumah. Dug...dug...dug...suara detak jantungku mengiringi jalanku menuju SMA Negeri 1 Partam. Jarak sekolahku dari rumah tidak terlalu jauh. Mungkin jaraknya hanya sekitar  limaratus meter, ada yang lain kurasakan hari ini jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Kakiku terasa berat seakan ada yang menahan dari bawah, mulutku tidak berhenti komat-kamit sambil membaca doa yang selau ku ulang seakan tak ada ujungnya.
Tempat pemakaman umum telah aku lalui, lapangan sepak bola pun telah menantiku. Lapangan ini selalu di pakai setiap tahunnya untuk upacara tujuh belas agustus sekaligus perayaannya oleh seluruh siswa se Kecamatan Mandai. Detik-demi detik telah kulalui. Semakin lama, semakin mantap kakiku melangkah menuju sekolah yang telah memberiku tempat untuk menuntut ilmu selama tiga tahun. Dan akhirnya sedikit lagi gedung tua itu harus melepasku untuk menuntut ilmu di tempat selanjutnya.
Jam kulit berwarna coklat  di pergelangan tanganku, jelas menunjukkan  pukul tujuh lewat duapuluh. Dan akhirnya kulangkahkan juga  kakiku di depan sekolah kebanggaanku. Tulisan SMA NEGERI 1 PARTAM terlihat samar di tembok pagar sekolahku. Segera aku melangkah menuju kantor guru menunggu pengumuman hasil ujian akhir nasional.  “Kemana semua teman kita?”, tanyaku kepada perempun berambut panjang, badannya lebih tinggi dari aku sangat serasi dengan postur tubuhnya yang extra. Ia memakai seragam putuh biru seperti anak yang lain. Wajahnya jelas tak bisa membohongi kecemasan akan hasil ujiannya. Ia duduk di taman depan kantor, tepat di bawah pohon ketapang yang setia melindungiku di waktu cahaya matahari sangat terik menyembur ke bumi. Tempat ini sering aku jadikan tempat nongkrong bersama teman-teman saat jam istirahat. Namanya Yeni Antika Rombe, ya kedengarannya memang agak aneh. Nama orang Toraja selalu agak aneh terdengar oleh telinga kita bahkan untuk sebagian orang itu kedengaran lucu. Tapi itulah keunikan mereka. Banyak nama oarang Toraja yang pernah ku dengar misalnya Satria Lolo payung, Mince Parira, Febriani Salamba dan masih banyak lagi yang lainnya.
“Mungkin masih di jalan, padahal ini sudah setengah delapan “ jawabnya datar. “aku pikir, saat aku sampai di sekolah semuanya sudah kumpul dan siap mendengar pengumuman hasil UN, aku juga sudah buru-buru tadi kesini.  Dasar Indonesia masih saja setia menggunakan jam karet” kataku dengan wajah sok kecewa.
Tak henti-hentinya siswa berdatangan namun tak satupun terlihat diantara mereka Ratih sahabat karibku sejak SD, dia berperakawakan tinggi kurus, wajahnya putih sedikit lonjong seperti telur. Biasanya aku selalu berangkat bersama tapi tidak untuk hari ini. Dia memintaku berangkat lebih dulu, katanya ada sesuatu yang harus dia kerjakan sebelum ke Sekolah.
Akhirnya setelah cukup lama menunggu Ratihpun datang. Kusambut ia dengan salam “Assalamualaikum”. Tak lama setelah ia menjawab salamku, orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Pak Arif datang  membawa hasil ujian nasional tahun ajaran 2006/2007. Semua mata tertuju padanya, dengan muka berharap-harap cemas. Yeni kelihatan tak henti-hentinya  mengucapkan doa, entah doa apa yang di panjatkan. Kami beda kepercayaan. Dia satu-satunya non muslim di kelasku, walau begitu kami tetap menerimanya sebagai teman kami. Begitu pun dia, yeni tetap gabung dengan kami padahal dia punya teman di kelas sebelah yang sama kepercayaan. Yeni salah satu teman akrabku di kelas.
“Assalamu’alaikum wr.wb , anak-anakku sekalian hari ini kita akan mengetahui hasil ujian nasional kalian. Bapak berharap kalian bisa menerima, apapun hasilnya lulus atau tidak bukan sebuah maslah yang penting kalian sudah berusaha maksimal dan hasil itulah yang terbaik untuk kalian. “ ucap pak Arif di depan kami semua yang sudah berbaris dengan rapi. Dia terlihat setengah teriak untuk mengalahkan suara kami yang berjumlah sekitar 300 orang.
Mendengar kata tidak lulus, sontak hatiku tersentak. Nafasku tak karuan, jantungku berdebar sangat kencang.  “ya Allah aku mohon kepadamu, engkau maha mengetahui apa yang telah hamba lakukan selama ini, hamba yakin engkau takkan memberikan ujian kepada hambamu jika kami tak mampu menjalaninya” doaku dalam hati sambil menutup mukaku. “tenang Ni, mudah-mudahan kita bisa lulus.”kata yeni meyakinkanku. “tapi aku sudah salah tulis nama  di lembar jawabanku”. Saat ujian aku salah menuliskan nama dalam pada lembar jawabanku. Seharusnya aku menuliskan nama  Ani Ardiansyah seperti yang tertulis di akta kelahiran dan ijazah SD ku tapi yang aku tuliskan saat itu adalah Nur Ani Ardinsyah karena selama ini  Nur Ani Ardinsyah yang tertulis di daftar hadir kita. “tenang kawan, nama apapun yang kau tuliskan di kertas jawabanmu kalau Allah berkehendak kau lulus, tak ada yang bisa mengubahnya. Apa kau lupa bahwa hanya Allah yang maha mengatur segalanya. Jadi jangan pernah ragu akan kuasanya” Ratih seperti tahu apa yang ada di pikiranku. Kata-katanya menyadarkanku bahwa aku tak boleh ragu dengan kuasa-Nya.
Setelah hampir setengah jam pak Arif cuap-cuap di depan kami sambil berusaha menguatkan untuk bisa menerima apapun hasil ujiannya. Kami diminta ke lapangan sepak bola dekat sokolah. Kertas pengumuman hasil ujian di bagikan satu persatu kepada kami,aku termasuk sepuluh terakhir yang mendapatkan kertas itu, belum mebuka kertasnya suara tangisan telah terdengar di penjuru lapangan seakan ingin menghentikan tanganku untuk membuka kertas yang telah dari tadi aku pegang. Karena penasaran, aku nekat membuka. Aku mencari nomor ujianku diantara nomor ujian tak aku kenal pemiliknya. “98,99,101 dan 102 aku lulus...aku lulus...lulus” dengan wajah gembira aku berteriak namun betapapun besarnya suaraku tetap saja terkalahkan oleh suara tangisan temanku yang tidak lulus. Aku segera menuju teman-teman yang tidak lulus dan berusaha menguatkan.
Coretan-coretan mendarat di baju yang dikenakan teman-teman. Tapi tidak denganku, aku lebih memilih cepat pulang dan segera memberi tahukan kabar gembira ini kepada orang tuaku. Lagipula aku sudah berniat ingin menyumbangkan seragam sekolahku ke panti asuhan. “ma, aku lulus” teriakku sambil berlari menuju ibu di dapur. “alhamdulillah” hanya kata itu yang keluar dari mulut ibu. Sedikit kecewa yang aku rasakan melihat reaksi ibu saat aku meberi tahukan kabar kelululusanku. Mungkin ibu sudah menduga aku akan lulus, kan selama ini memang aku tidak pernah macam-macam di sekolah dan selalu mendapat predikat juara umum di Sekolah. Jadi ibu tidak heran kalau aku bisa lulus ujian nasional. Seandainya ibu tau betapa beratnya aku melewati ujian nasional tahun ini. Semua temanku melihat contekan, melihat kunci jawaban. Hanya aku yang tidak melakukan hal itu. Padahal aku sedikit pesimis sebab masih belum fit seratus persen setelah keluar dari rumah sakit. Dan akhirnya aku putuskan untuk tidak melihat kunci. Berusaha sendiri menjawab soal ujian dengan kemampuanku sendiri tanpa mengandalakn kunci atau bantuan orang lain. Sempat terbersit dalam hatiku kalimat” bagaimana kalau aku tidak lulus gara-gara tidak melihat kunci?” tapi segera kutepis” aku yakin Allah akan melindungi hambanya yang betul-betul ingin menegakkan kejujuran” kataku dalam hati berusaha menguatkan diri. Ternyata soal ujian nasional tidak sesulit yang aku pikirkan. Dengan mudahnya aku bisa menyelesaikan soal ujian nasioanal. Hampir setiap hari saat ujian, kusisakan setengah dari waktu yang disiapkan untuk sekedar membantu teman-teman yang lain.  
Akhirnya benar aku bisa lulus walau dengan nilai yang pas-pasan tapi aku sangat puas mampu mengungguli beberapa orang dengan jerih payahku sendiri ditengah kondisi fisik yang masih lemah saat ujian. Meski teman-teman banyak merasa prihatin dengan aku yang di ungguli oleh beberapa teman yang aku bantu pada saat ujian. Meski begitu aku betul-betul tidak mempersoalkan dengan nilainya. Aku ikhlas dengan nilai yang telah aku dapatkan, karena aku yakin pasti ada hikmah yang lebih baik dari kejadian ini. Walau aku juga tak munafik setiap melihat nilai mereka jauh lebih tinggi dariku, kadang terbersit rasa isri. Berkali-kali aku berusaha menepisnya “mungkin nilai inilah yang terbaik untukku dan pasti ada hikmah di balik ini semua” kataku tiap perasaan iri itu muncul.
Di setiap penghujung sujudku aku tak pernah lupa untuk memanjatkan doa agar aku mampu menerima nilaiku dengan sangat ikhlas” Ya Allah alhamdulillah engkau telah memberikan nikmat kelulusan kepada hambamu ini, walau dengan nilai yang tidak terlalu tinggi. Aku yakin nilai inilah terbaik untukku. Ya Allah hamba memohon berilah aku ke ikhlasan untuk menerima semua ini. Beri aku keikhlasan agar aku tidak iri dengan mereka yang selalu aku beri contekan saat belajar bahkan saat ujian. Atau mungkin ini karena aku telah berdosa memberikan contekan kepada mereka ?. kalau memang itu aku minta maaf ya Allah. Karena hamba hanya manusia yang lemah yang tak mampu melihat temah hamba dalam kesusahan tapi diluar itu, ya Allah aku yakin ada hikmah dibalik ini semua yang jauh lebih baik dari yang aku pikirkan. “ dan segera kuhentikan doa karena ku takut jika terlalu banyak berdoa isi doaku malah menjurumuskanku dalam prasangka buruk kepada-Nya.
Tidak butuh waktu yang lama doaku terkabulkan. Sungguh Allah begitu sayang padaku. Paling tidak itulah yang aku rasa saat mendapatkan informasi dari kepala sekolah bahwa aku bebas tes masuk di salah satu perguruan tinggi ternama di Inggris. Tak henti-hentinya terucap pujian pada-Nya atas nikmat yang di berikan kepadaku. Padahal aku hampir pesimis tidak akan lulus di universitas Negeri di Indonesia dengan nilai ujian nasionalku yang pas-pasan. Ternyata justru aku bisa lulus di Universitas terbaik dunia. Aku sempat tidak percaya dengan informasi kelulusanku di Universitas of Cambridge, Inggris Aku lupa kalau dulu saat memenangi lomba olimpiade Fisika tingkat  SMA di Inggris aku sempat di tawari lulus bebas tes di Universitas tersebut , aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku pikir dia hanya bercanda, tapi tak kuduga ternyata dia tak bercanda..
Sebelum aku benar-benar jatuh Allah membangunkanku dengan nikmat yang tak terkira ini. Aku semakin yakin dengan cinta-Nya yang tak pernah usai. Inilah  hikmah dibalik kejujuran serta kesabaran. Cobaan yang di berikan bukan berarti Allah membenci kita. Justru itulah yang membuktikan kecintaan-Nya pada kita. Allah hanya ingin menguji  sebelum memberikan nikmat-Nya.  Aku jadi teringat kalimat dalam sebuah film Surga Cinta “kadang –kadang Allah sembunyikan matahari, Ia datangkan petir dan kilat. Lalu kita bertanya-tanya kemana hilangnya matahari, rupa-rupanya Allah memberi kita pelangi”. Kini Allah mendatangkan pelangi untukku setelah ia berikan hujan sebelumnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca