Natalan dan Tahun Baru atau Agama Baru?
Mereka
pakai topi sinterklas di hari raya mereka, itu wajar. Mereka menghias pohon
cemara, itu wajar. Mereka pasang foto profil facebook dengan ucapan selamat
natal, lagi-lagi itu wajar. Karena akidah mereka memang menuntut itu. Begitupun
ketika mereka meniup terompet di malam tahun baru, itu wajar. Mereka menyalakan
kembang api, itu wajar. Mereka saling menucapkan selamat tahun baru, sekali
lagi itu wajar. Karena itu semua bagian dari cara mereka memuliakan agamanya.
Anehnya,
kenapa kalian juga ikut-ikutan merayakannya. Katanya agama kalian beda, tapi
kok malah ikut nimbrung di perayaan hari raya mereka. Malah nebeng di tempat
peribadatan mereka. Katanya tuhan yang mereka yakini beda dengan tuhan yang
kalian yakini, tapi saat mereka merayakan hari kelahiran tuhannya kalian juga
ikut. Padahal masing-masing agama punya hari raya dan cara peribadatan yang
berbeda. Rasulullah sejak awal sudah melarang kita merayakan hari raya ahlul
kitab dan kaum musyrik. Dari Anas ra bahwa ketika Rasulullah SAW dating ke
Madinah, mereka memiliki dua hari raya (hari raya Nayruz dan Nihrajan) yang
mereka rayakan, lalu beliau bersabda
“Sungguh Allah SWT telah
mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu
Idul Adha dan Idul Fithri” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’I dengan sanad yang
shahih).
Maaf,
kalian kan tidak merayakannya “Cuma” ucapkan selamat. Sama saja saudariku yang
kucinta karena Allah, mengucapkan “selamat” berarti mengiyakan pemahaman
mereka. Setiap ucapan ada konsekuensinya. Pasti kalian marah, kalau ada yang
bilang tuhan yang kalian yakini dan tuhan yang mereka yakini itu sama. Atau ada
yang bilang kalian termasuk dari kaum mereka, saya yakin saudariku akan
tersinggung. Itu kalau masih yakin dengan kebenaran agama ini.
Atau
mungkin karena ikut-ikutan juga dengan pak presiden dan pak gubernur. Alhasil jadi
followers sejati deh. Sana sini ngikut saja. Masih ingat kan hadist Rasulullah yang
jauh-jauh hari sudah memberikan gambaran kepada kita akan kondisi kaum muslim
hari ini yang mudah jadi followers orang-orang kafir.
Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan
mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga
kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke
dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Naudzu billah, tamparan keras harusnya untuk kita
sebagai kaum muslim. Kenapa begitu bodohnya mengikut kepada mereka. Padahal ada
Rasulullah SAW yang Allah SWT sudah siapkan untuk kita sebagai suri tauladan
yang baik. Lalu kita mencari di tempat lain. Yang sangat jelas hanya akan
mengantarkan kita kepada kediaman mereka kelak di akhirat yaitu neraka.
Sungguh miris melihat kondisi umat muslim hari ini.
Berada di negeri yang mayoritas muslim tapi mudah menggadaikan akidahnya dengan
dalih toleransi serta kerukunan umat beragama. Mayoritas muslim memang bukalah
jaminan terjaganya akidah kita. Karena hari ini agama islam tinggalah hanya
sekedar symbol yang menandakan kita meyakini adanya Allah bukan lagi meyakini
bahwa Allah maha pengatur. Sehingga dalam urusan akidah sekalipun kita enggan
meninggalkan apa yang di larang oleh-Nya. Bahkan Rasulullah kita rela gantikan
dengan rahib-rahib mereka.
Sangat wajar kondisi ini kita temukan karena kita
berada di masa tak ada negeri yang menerapkan hukum-hukum Allah. Tidak ada lagi institusi
seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat yaitu Khilafah
islamiyah yang melindungi akidah umat ini. Ketika ada hal yang bisa
membahayakan akidah umat, daulah turun tangan mencegahnya. Tapi kini yang kita
dapatkan bahkan pemimpin yang katanya beragama islam acuh tak acuh mencegah bahkan
ikut melakukan penyesatan akidah umat.
Sudah saatnya kita bangun dari tidur kita yang
sangat panjang. Semakin gigih menjelaskan kepada umat untuk mengambil syariat
islam sebagai aturan hidup baik tataran individu, masyarakat maupun Negara. Dan,
menyerukan aturan tersebut diterapkan dalam naungan institusi resmi yaitu
daulah Khilafah islamiyah. Bukan demokrasi serta konco-konconya yang jelas
lahir dari rahim akidah yang tidak shahih. Sekali lagi hanya dengan syariah dan
khilafah akidah umat islam akan terjaga sekaligus toleransi yang hakiki dapat
dirasakan oleh umat non muslim. Wallah
a’lam.

0 komentar:
Posting Komentar