Selasa, 20 Mei 2014

Inspirasi dari Langit



Cahaya mentari sangat terik bagai pedang yang menghunus. Menusuk setiap kulit yang tegak lurus dengannya. Cahayanya sangat menyilaukan mata. Keringat mengucur deras. Suara deru kendaraan lalu-lalang menambah riuh. Hanya angin yang sesekali menyapa kabarnya lalu beranjak kembali.
“Ren, kau sangat aneh hari ini. Ayo katakan padaku ada apa” kataku penasaran melihatmu diam terus.
“Tidak ada yang aneh, aku hanya kelelahan mungkin” katamu seperti menahan pertanyaanku selanjutnya
Kau pikir kau bisa lepas dariku.
“Ren, kita bersahabat sejak esema. Kau tak bisa membohongiku. Matamu selalu bisa kubaca”  paksaku seperti biasa.
Lagi-lagi aku berhasil kawan mengalahkan kebiasaanmu. Aku selalu punya cara membuka tabir dari diammu. Kali ini aku yakin kau setuju.
“Aku mau berhijab seperti kamu” ungkapmu sambil menunjuk pakaianku.
Bibirku hanya tersenyum kecut mendengar ucapanmu. Kau pasti bisa menebak dari senyumanku. Jujur, aku ragu setelah kalimat itu ada kata tapi lagi. Dan, kata itu menghapus kalimatmu sebelumnya. Entah sudah berapa kali kau mengataknnya dan selalu ada alasan yang membuatmu tidak jadi berhijab.
“Aku takut merusak citra islam jika aku memakai hijab. Kau tau sendiri kan aku punya pacar. Pokonya kelakuanku sangat jauh dari kesan muslimah” Alasan yang paling sering kau ucapkan. Jawabanku selalu kau tepis dengan seribu alasan lain.
“Terus apa lagi yang kau tunggu” ucapku mencoba berbaik sangka. Berharap kali ini kau sudah yakin dengan keputusannmu itu.
“Tidak ada, selain ajakanmu mencari jilbab dan kerudung” degg, aku tersentak. Kali ini kau sangat kreatif. Saking kreatifnya kau bahkan membuatku menangis. Tidak percaya akhirnya hatimu terbuka juga untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslimah. Tubuhku tak kuasa menahan diri untuk memelukmu kawan.
“Tapi konsekuensi hijab ini berat lo Ren. Kamu sudah siap?” bisikku sangat dekat ditelingamu.
Pelukanku kau lepas “Iya memang berat Ra, tapi insyaAllah bisa kok” jawabmu santai. Namun matamu mengisyaratkan keseriusan yang begitu besar.
*
“Kayak kain gorden dirumah” komentarnya pertama kali melihatmu memakai gamis longgar dan panjang menutupi mata kakimu yang kau dan aku serta muslimah lain memahaminya sebagai jilbab. Tanpak anggun bagiku jilbab pertamamu itu kau padukan dengan kerudung ungu muda yang menutupi dada. Kulihat wajahmu senyum saja tapi hatimu pasti menangis.
“Hey, itu Reni kan. Dia pacarnya Ilham. Dia kan yang pernah kepergok guru berduaan dengan ilham di dalam kelas sambil….” lagi-lagi kau pasti sakit dengan komentar-komentar mereka.
“Bilangin sama dia, iya saya Reni mantan pacarnya Ilham pernah kepergok guru berduaan dengan ilham di masa jahiliyah”  aku hampir tak percaya dengan apa yang aku dengar. Kau begitu tenang menanggapi komentar mereka. Kau tak serapuh yang kubayangkan. Bahkan sangat mungkin kau lebih kuat dariku yang sudah cukup lama memakai pakaian ini.
Kau dan aku tetap berjalan. Perkataan mereka seperti angin lalu bagimu. Sesekali kau menengok ke arah mereka. Tak lama, lalu kau tarik kembali pandanganmu. Rentetan sikapmu itu membuatku semakin takjub.
“Ren, apa yang membuatmu sekuat ini?” tanyaku penasaran.
“Inspirasi dari langit melalui sahabatku, Rara” ahh, pandanganmu sangat damai.  Kau sangat puitis kali ini meskipun harus meminjam kata-kataku. 
-Marwah Thalib-
(Salah satu cerpen dalam buku antologi cerpen “Karenamu Aku Mampu”)
penerbit Pena Indis

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca