Inspirasi dari Langit
Cahaya mentari sangat terik bagai
pedang yang menghunus. Menusuk setiap kulit yang tegak lurus dengannya. Cahayanya sangat
menyilaukan mata. Keringat mengucur deras. Suara deru kendaraan lalu-lalang menambah
riuh. Hanya angin yang sesekali
menyapa kabarnya lalu beranjak kembali.
“Ren, kau sangat aneh hari ini. Ayo
katakan padaku ada apa” kataku penasaran melihatmu diam terus.
“Tidak ada yang aneh, aku hanya
kelelahan mungkin” katamu seperti menahan pertanyaanku selanjutnya
Kau pikir kau bisa lepas dariku.
“Ren, kita bersahabat sejak esema.
Kau tak bisa membohongiku. Matamu selalu bisa kubaca” paksaku seperti biasa.
Lagi-lagi aku berhasil kawan
mengalahkan kebiasaanmu. Aku selalu punya cara membuka tabir dari diammu. Kali
ini aku yakin kau setuju.
“Aku mau berhijab seperti kamu” ungkapmu
sambil menunjuk pakaianku.
Bibirku hanya tersenyum kecut
mendengar ucapanmu. Kau pasti bisa menebak dari senyumanku. Jujur, aku ragu
setelah kalimat itu ada kata tapi lagi. Dan, kata itu menghapus kalimatmu
sebelumnya. Entah sudah berapa kali kau mengataknnya dan selalu ada alasan yang
membuatmu tidak jadi berhijab.
“Aku takut merusak citra islam jika
aku memakai hijab. Kau tau sendiri kan aku punya pacar. Pokonya kelakuanku sangat
jauh dari kesan muslimah” Alasan yang paling sering kau ucapkan. Jawabanku
selalu kau tepis dengan seribu alasan lain.
“Terus apa lagi yang kau tunggu” ucapku
mencoba berbaik sangka. Berharap kali ini kau sudah yakin dengan keputusannmu
itu.
“Tidak ada, selain ajakanmu mencari
jilbab dan kerudung” degg, aku tersentak. Kali ini kau sangat kreatif. Saking
kreatifnya kau bahkan membuatku menangis. Tidak percaya akhirnya hatimu terbuka
juga untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslimah. Tubuhku tak kuasa
menahan diri untuk memelukmu kawan.
“Tapi konsekuensi hijab ini berat
lo Ren. Kamu sudah siap?” bisikku sangat dekat ditelingamu.
Pelukanku kau lepas “Iya memang
berat Ra, tapi insyaAllah bisa kok” jawabmu santai. Namun matamu mengisyaratkan
keseriusan yang begitu besar.
*
“Kayak kain gorden dirumah”
komentarnya pertama kali melihatmu memakai gamis longgar dan panjang menutupi
mata kakimu yang kau dan aku serta muslimah lain memahaminya sebagai jilbab. Tanpak
anggun bagiku jilbab pertamamu itu kau padukan dengan kerudung ungu muda yang
menutupi dada. Kulihat wajahmu senyum saja tapi hatimu pasti menangis.
“Hey, itu Reni kan. Dia pacarnya
Ilham. Dia kan yang pernah kepergok guru berduaan dengan ilham di dalam kelas
sambil….” lagi-lagi kau pasti sakit dengan komentar-komentar mereka.
“Bilangin sama dia, iya saya Reni
mantan pacarnya Ilham pernah kepergok guru berduaan dengan ilham di masa
jahiliyah” aku hampir tak percaya dengan
apa yang aku dengar. Kau begitu tenang menanggapi komentar mereka. Kau tak
serapuh yang kubayangkan. Bahkan sangat mungkin kau lebih kuat dariku yang
sudah cukup lama memakai pakaian ini.
Kau dan aku tetap berjalan.
Perkataan mereka seperti angin lalu bagimu. Sesekali kau menengok ke arah
mereka. Tak lama, lalu kau tarik kembali pandanganmu. Rentetan sikapmu itu
membuatku semakin takjub.
“Ren, apa yang membuatmu sekuat
ini?” tanyaku penasaran.
“Inspirasi dari langit melalui
sahabatku, Rara” ahh, pandanganmu sangat damai.
Kau sangat puitis kali ini meskipun harus meminjam kata-kataku.
-Marwah Thalib-
(Salah satu
cerpen dalam buku antologi cerpen “Karenamu Aku Mampu”)
penerbit Pena Indis
penerbit Pena Indis

0 komentar:
Posting Komentar