Ketaatan Tak Boleh Berlalu
Ramadhan
selalu menyimpan banyak cerita. Awal-awal Ramadhan, masjid mendadak ramai. Kalau biasanya hanya
satu atau dua saf kini sampai teras masjid juga penuh. Di bulan-bulan
sebelumnya yang ikut shalat berjamaah kebanyakan orang tua, namun kini
muda-mudinya juga tak mau kalah. Bahkan kebanyakan dari mereka membawa al-Quran
untuk dibaca sambil menunggu waktu shalat. Mereka
semangat mengejar target khatam al-qurannya, sampai-sampai saat ceramah tarawih
mereka tetap membaca qur’an. Padahal mendengar ceramah juga tidak kecil
pahalanya. Tangisan anak kecil juga tak mau ketinggalan
menambah ramai masjid. Dan yang tak pernah terlewatkan di saf-saf akhwat
berjejer mukena-mukena shalat yang warna-warni dengan model terbaru. Bahkan tak
sedikit dari mereka tiap hari selalu ganti mukena. Masjid seketika berubah
jadi butik pakaian alat shalat.
Menjelang
waktu berbuka puasa, pinggir jalan ramai jajanan berbuka. Mulai dari es buah,
pisang hijau, es cendol dan masih banyak lagi lainya. Di malam harinya giliran
pedangan petasan yang beroperasi. Suara petasan saling bersahutan membuat para
pengurus masjid kelimpungan. Anak-anak jahil mulai bergentayangan mengganngu
kekhusuan shalat tarawih. Di waktu subuh
giliran balapan liar meramaikan jalan. Suara knalpot motor sengaja dikeraskan.
Semakin keras semakin hebat katanya.
Tak
pernah habis kata untuk menggambarkan tentang Ramdhan. Bulan yang didalamnya
Allah melipatgandakan pahala bagi setiap ibadah kaum muslim. Bahkan tidur juga
masih dapat pahala walau tentu akan berbeda dengan pahala shalat. Kisah
Ramadhan sejatinya sudah spesial sejak empat belas abad yang lalu, dimana Allah
menurunkan Al-quran secara berangsur-angsur dimulai di bulan Ramadhan. Bahkan
darah para syuhada juga banyak mengalir di bulan suci ini. Kemulian Ramadhan
semakin nyata karena Allah menyediakan malam yang lebih baik dari malam seribu
bulan. Segala puji bagi Allah dengan segala limpahan Rahmatnya.
Namun
sayang seribu sayang, sebagian kaum muslim menjadikan Ramadhan hanya sebagai
bulan untuk taat sementara. Taat satu bulan, maksiat sebelas bulan. Taat
yang dimaksud pun masih seputar ibadah-ibadah ritual atau ibadah individu. Mereka
taat dalam menjalankan ibadah puasa. Mereka taat menegakkan shalat wajib bahkan
sunnah di bulan suci Ramadhan. Sebagian dari kaum muslim pun tersentuh syu’ur
islamnya untuk menutup auratnya termasuk
artis yang biasanya berpakaian seksi. Begitupun dengan perintah zakat semuanya
rata-rata taat di bulan ini. Bahkan ada yang mengeluarkan sedekah yang tidak
sedikit kepada anak yatim. Bacaan al-Quran jangan di tanya lagi, di tiap rumah
kaum muslim al-Quran tidak lagi disimpan di rak-rak buku. Mereka bahkan selalu
membawanya ketika keluar rumah. Dimana ada kesempatan, pahala membaca al-quran
pun di kejar. Di bulan suci Ramadhan kita menemukan suasana yang sedikit islami
dari biasanya. Sekali lagi hanya dari segi ibadah ritual atau ibadah individu.
Menjelang
akhir Ramadhan, suasana itu mulai memudar seiring sibuknya mereka menyiapkan
hari “kemenangan”. Hari yang lebih sering dijadikan sebagai hari pembalasan
atas perjuangan menahan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Di hari itu makanan
dibabat habis tanpa memperhatikan hanya seberapa besar kebutuhannya. Lalu bagi
yang hobi gosib, di hari Raya idul Fitri hobi itu mulai tersalurkan kembali. Aurat
yang sudah sedikit tertutup juga mulai terbuka. Al-Quran dibersihkan dan
disimpan dengan rapi dilemari buku.
Ketika
Ramadhan berlalu, mengapa berlalu pula ketaatan kita? Apakah
dosa tidak menutup aurat tidak terhitung diluar bulan suci Ramadhan? Padahal tugas malaikat
pencatat amal baik dan buruk baru berakhir ketika kiamat datang. Perintah
shalat dan zakat juga berlaku sampai hari itu. Keutamaan membaca al-Quran masih
terhitung pula. Lalu kenapa seakan berlalu setelah satu bulan ini. Bisa jadi
ada yang salah dari
ketaatan yang selama ini kita lakukan. Mungkin belum sempurna keikhlasan kita.
Masih ada perasaan riya dalam diri ini sepertinya. Kita melakukan segala
aktivitas ibadah di bulan suci ini belum murni karena Allah. Kita belum sadar
betul bahwa itu semua adalah karena perintah Allah bukan semata-mata tuntutan
keadaan di sekeliling kita.
Sebelum
Ramadhan ini betul-betul berlalu, mari perbaiki niat kita murni karena Allah.
Kita jadikan Ramadhan ini awal perbaikan kualitas keimanan kita kepada Allah.
Jika di bulan ini kita dekat kepada Allah, maka selepas Ramadhan kita tak boleh
sedikitpun menjauh dari-Nya. Jika di bulan ini aurat kita mulai tertutup, mari
kita sempurnakan dengan memakai jilbab dan kerudung sebagai pakaian syari untuk
muslimah. Jika di bulan ini kita shalat, membaca al-quran dan ibadah lainnya
dengan khusuk. Setelah Ramadhan ini berlalu kita tetap harus menjaganya. Jika
di bulan ini, hati kita mulai tergerak untuk massiv melaksankan fardu ‘ain.
Maka setelah Ramadhan atau bahkan sebelum Ramadhan berlalu kitapun tergerak
untuk memperjuangkan agar seluruh seluruh fardu kifayah terterapkan dimuka bumi
ini. Kita memperjuangkan agar kaum muslimin bersatu dalam satu bendera dibawa
naungan daulah islam khilafah islamiyah. Sehingga saudara-saudara kita di
Palestina, Suriah, Nyanmar, Cina dan negeri-negeri lainya yang sedang tertindas bisa dibebaskan. Lalu
kemuliaan islam bisa kita wujudkan atas ridha Allah SWT. Aamiin ya Rabbal
alamin.
0 komentar:
Posting Komentar