Rabu, 27 Agustus 2014

Sebab Kita Seorang Muslimah

Part Pertama: Sudahkah Saya Berhijab?
Dulu saya mengira telah lepas dari kewajiban berjilbab setelah memakai kain segiempat lalu dibentuk sedemikian rupa untuk menutupi kepala hingga dada. Namun ternyata semakin saya melihat banyak jenis jilbab mulai dari ukuran, bentuk dan warnanya saya mulai sangsi dengan jilbab yang saya pakai. Melihat mereka, saya meraba kembali apakah jilbab yang saya pakai itu syar’i atau tidak. Sayangnya saat itu saya tidak begitu serius mencari kebenaran. Mencari hanya sekedar mencari.
Bersyukur sebelum saya betul-betul berhenti mencari, diri ini dipertemukan dengan orang-orang yang  mengotak-atik pemikiran saya. Dengan dalil yang begitu kuat dan logika berpikir yang masuk akal membuat saya tercengang. Bukan hanya tentang jilbab tapi tentang islam secara keseluruhan. Semakin sadar bahwa pemahaman tentang agama islam saya masih sangat sedikit. Lalu diri terus mencari hingga memantapkan hati untuk memakai pakaian muslimah yang saya yakini bahwa itu syar’i. Orang indonesia biasa menyebutnya gamis tapi longgar dan panjang yang menutupi mata kaki serta kerudung yang menutupi kepala hingga dada.


Om Google

Sebelum memakai hijab syar’i tentu konsekuensinya sudah saya pikirkan. Tantangan terberat yang saya takutkan adalah dari orang-orang terdekat saya. Itu pula yang membuat saya sempat menunda menggunakan pakaian ini. Namun, jika niat berhijab itu karena Allah insyaallah ketakutan itu tak akan berlangsung terus-menerus. Paling tidak itu sudah saya  buktikan. Memutuskan untuk segera berhijab syar’i ujung-ujungnya saya lakukan juga dan siap menghadapi segala resikonya. Dan kini saat kawan membaca bagian ini semoga masih mendapati saya dengan hijab syar’inya.
Well, itulah gambaran singkat perjalanan saya memperoleh pemahaman tentang pakaian yang mesti dikenakan oleh seorang muslimah. Namun perjalanan secara keseluruhan memang tak sesederhana itu,  banyak hambatan dan cobaan yang mewarnai tentunya. Bukankah kita telah mahfum bahwa saat kita telah berkomitmen untuk melakukan kebaikan maka tunggulah cobaan itu datang untuk menguji kita. Karena surga itu mahal, ianya harus dibayar dengan kerja keras. Ia tidak semudah masuk kedalam neraka.
Untuk memperkaya pemahaman tentang hijab, jilbab, kerudung serta istilah lainnya terkait pakaian muslimah, mari kita lanjutkan perbincangan ini. Sayangnya pada kesempatan ini komunikasi kita hanya satu arah, artinya hanya saya yang bisa berbagi. Tak apalah semoga lain waktu kita bisa bertemu secara langsung untuk berbincang lebih jauh. Tentu banyak pula cerita yang bisa antunna bagi. 
Pada perbincangan selanjutnya, semoga kita bisa merangkum beberapa kisah inspiratif dari saudari kita dalam mempertahankan pakaian syar’inya ditengah berbagai cobaan. Mungkin kisah ini bisa memberikan inspirasi untuk tetap kuat dalam menghadapi setiap tantangan. Selain itu tak lengkap rasanya jika tak memasukkan kisah sahabat mukminah Rasulullah SAW yang dengan teguh menjaga hijabnya dengan harapan kita dapat mengikuti jejak-jejaknya.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca