Sebab Kita Seorang Muslimah
Part Pertama: Sudahkah Saya Berhijab?
Dulu saya
mengira telah lepas dari kewajiban berjilbab setelah memakai kain segiempat
lalu dibentuk sedemikian rupa untuk menutupi kepala hingga dada. Namun ternyata
semakin saya melihat banyak jenis jilbab mulai dari ukuran, bentuk dan warnanya
saya mulai sangsi dengan jilbab yang saya pakai. Melihat mereka, saya meraba
kembali apakah jilbab yang saya pakai itu syar’i atau tidak. Sayangnya saat itu
saya tidak begitu serius mencari kebenaran. Mencari hanya sekedar mencari.
Bersyukur
sebelum saya betul-betul berhenti mencari, diri ini dipertemukan dengan
orang-orang yang mengotak-atik pemikiran saya. Dengan dalil yang begitu
kuat dan logika berpikir yang masuk akal membuat saya tercengang. Bukan hanya
tentang jilbab tapi tentang islam secara keseluruhan. Semakin sadar bahwa
pemahaman tentang agama islam saya masih sangat sedikit. Lalu diri terus
mencari hingga memantapkan hati untuk memakai pakaian muslimah yang saya yakini
bahwa itu syar’i. Orang indonesia biasa menyebutnya gamis tapi longgar dan
panjang yang menutupi mata kaki serta kerudung yang menutupi kepala hingga
dada.
![]() |
| Om Google |
Sebelum memakai
hijab syar’i tentu konsekuensinya sudah saya pikirkan. Tantangan terberat yang
saya takutkan adalah dari orang-orang terdekat saya. Itu pula yang membuat saya sempat
menunda menggunakan pakaian ini. Namun, jika niat berhijab itu karena Allah
insyaallah ketakutan itu tak akan berlangsung terus-menerus. Paling tidak itu
sudah saya buktikan. Memutuskan untuk segera berhijab syar’i
ujung-ujungnya saya lakukan juga dan siap menghadapi segala resikonya. Dan kini
saat kawan membaca bagian ini semoga masih mendapati saya dengan hijab
syar’inya.
Well, itulah
gambaran singkat perjalanan saya memperoleh pemahaman tentang pakaian yang
mesti dikenakan oleh seorang muslimah. Namun perjalanan secara keseluruhan
memang tak sesederhana itu, banyak hambatan dan cobaan yang mewarnai
tentunya. Bukankah kita telah mahfum bahwa saat kita telah berkomitmen untuk
melakukan kebaikan maka tunggulah cobaan itu datang untuk menguji kita. Karena
surga itu mahal, ianya harus dibayar dengan kerja keras. Ia tidak semudah masuk
kedalam neraka.
Untuk
memperkaya pemahaman tentang hijab, jilbab, kerudung serta istilah lainnya
terkait pakaian muslimah, mari kita lanjutkan perbincangan ini. Sayangnya pada
kesempatan ini komunikasi kita hanya satu arah, artinya hanya saya yang bisa
berbagi. Tak apalah semoga lain waktu kita bisa bertemu secara langsung untuk
berbincang lebih jauh. Tentu banyak pula cerita yang bisa antunna bagi.
Pada
perbincangan selanjutnya, semoga kita bisa merangkum beberapa kisah inspiratif
dari saudari kita dalam mempertahankan pakaian syar’inya ditengah berbagai
cobaan. Mungkin kisah ini bisa memberikan inspirasi untuk tetap kuat dalam
menghadapi setiap tantangan. Selain itu tak lengkap rasanya jika tak memasukkan
kisah sahabat mukminah Rasulullah SAW yang dengan teguh menjaga hijabnya dengan
harapan kita dapat mengikuti jejak-jejaknya.

0 komentar:
Posting Komentar