Rabu, 16 Juli 2014

Pembuangan Bayi, Pekerjaan Rumah Pemerintah Indonesia Yang Tidak Kunjung Selesai

Tak ada yang mampu menyangka seorang ibu tega membuang anak kandungnya sendiri. Namun di dunia kapitalis persoalan seperti ini sering sekali kita temukan. Baru-baru ini saja seorang bayi berjenis kelamin laki-laki ditemukan membusuk dalam sebuah kardus yang dibuang di tempat pembuangan sampah di Gowa, Sulawesi Selatan. Bayi yang masih butuh perlindungan dan kasih sayang dari orang tuanya tega dibuang. Mirisnya, kasus seperti ini dari tahun ke tahun terus meningkat. Ini membuktikan bahwa upaya yang dilakukan oleh pemerintah mengatasi kasus semacam ini belumlah optimal.
Kita sepakat bahwa anak  merupakan amanah dan karunia. Mereka adalah generasi penerus dalam keluarga bahkan bangsa dan negara. Oleh sebab itu maka anak harus mendapatkan perhatian serius dari seluruh sistem kehidupan. Namun fakta di dunia kapitalis berbicara lain. Seluruh sistem kehidupan justru berbalik menghancurkan masa depan bayi yang tak berdosa. Harusnya di sinilah peran pemerintah menyelesaikan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai ini. Pemerintah harus mampu berpikir cemerlang melihat segala persoalan bangsa ini. Agar menemukan solusi yang tepat, menganalisis sebuah permasalahan tidak boleh hanya melihat dari luarnya saja atau memandang dari satu aspek saja. Melainkan sampai ke akar permasalahan serta dari berbagai aspek.
Akar Masalah
Sistem pendidikan ala kapitalis berbasis sekuler yang diterapkan di Indonesia menjauhkan masyarakat indonesia termasuk perempuan dari aturan yang benar. Mereka tidak diberikan bekal menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. Termasuk posisinya sebagai ibu.
Kita sering menemukan perempuan yang terpaksa menjadi ibu karena hamil di luar nikah. Ini dampak dari sistem pergaulan yang mengedepankan kebebasan. Pola hidup bebas menggiring banyak remaja melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Ditambah banyaknya orang tua yang cepat puas jika anaknya sudah shalat, puasa di bulan Ramadhan, dan membaca al-Quran. Namun tidak peduli, mendukung, bahkan mengarahkan anaknya mengumbar aurat serta pacaran. Padahal aktivitas inilah yang akan mengantarkan pada perzinahan. Imbasnya, bayi yang tak berdosa menjadi korban.
Di sisi lain, masyarakat acuh tak acuh terhadap pola pergaulan remaja. Aktivitas pacaran dengan mudah kita temukan di tempat umum. Aktivitas ini dianggap bukan hal yang tabu lagi. Akhirnya remaja tidak merasa segan berduaan, berpelukan bahkan hingga berciuman di muka umum. Jika di muka umum saja ia tak malu, maka sangat mungkin ketika hanya berdua mereka berzina. Apalagi dengan dalih kebebasan berekspresi yang lahir dari rahim kapitalis, media dengan bebasnya menyuguhkan tayangan pornografi dan pornoaksi. Inilah yang menjadi stimulan remaja melakukan seks bebas.
Tak jarang pula alasan seorang ibu membuang bayinya adalah faktor ekonomi. Sistem ekonomi kapitalis membuat beban ekonomi rakyat makin besar. Akibatnya tingkat stress masyarakat makin tinggi. Hingga seorang ibu tanpa berpikir panjang bisa tega membuang anak kandungnya karena alasan takut tak mampu menghidupi anaknya.
Semua sistem itu diperparah dengan sistem sanksi yang tak mampu mencegah orang berbuat jahat. Termasuk bagi ibu yang membuang bayinya serta bagi remaja yang melakukan tindak asusila. Maka pantaslah nyawa bayi terus berjatuhan serta seks bebas dengan mudah terjadi di tengah masyarakat.
Bagaimana solusinya?
Seorang muslim harus senantiasa melandaskan aktivitasnya pada syariah Islam. Berzina serta aktivitas mendekati zina adalah perbuatan haram. Sistem pergaulan Islam menjaga laki-laki dan perempuan. Sistem ini didukung oleh sistem-sistem yang lain. Sistem ekonominya memiliki prinsip distribusi yang merata dan adil. Sehingga tidak berputar di tengah para pemilik modal saja atau di daerah tertentu saja. Selain itu Negara wajib menjamin lapangan pekerjaan untuk rakyat secara riil. Mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah untuk keluarganya. Lalu di tambah Negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok baik pangan, papan dan sandang tiap individu rakyat. Hal ini sangat mungkin di lakukan dengan menggunakan mekanisme ekonomi dan non ekonomi sesuai syariah islam.
Di sisi lain, Negara juga wajib menjamin pendidikan, pelayanan kesehatan, dan keamanan secara langsung dan bebas biaya. Hal ini dapat diperoleh dengan dukungan dari pengelolaan sumber daya alam yang mandiri dilakukan oleh negara. Jika SDM tidak mampu, maka ada dua hal yang bisa dilakukan negara, yaitu mempekerjakan SDM luar negeri yang memiliki kemampuan sembari membukakan jalan bagi SDM dalam negeri untuk meningkatkan kemampuannya. Selain itu semua hasil pengelolaan SDA di serahkan kepada Negara untuk digunakan demi kemaslahatan rakyatnya.
Kalaupun ternyata masih ada ibu baik masih lajang maupun sudah berkeluarga yang  membuang bayinya. Maka sistem sanksi dalam islam memberikan efek jera bagi pelaku serta bagi orang lain yang melihat. Maka kasus seperti ini sangat minim terjadi karena sudah di cegah dari berbagi sistem kehidupan yang ada. Inilah seperangkat sistem yang bisa dipikirkan kembali oleh penguasa negeri ini sebagai solusi permasalahan bangsa.   

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca