Pembuangan Bayi, Pekerjaan Rumah Pemerintah Indonesia Yang Tidak Kunjung Selesai
Tak ada yang mampu menyangka seorang ibu tega
membuang anak kandungnya sendiri. Namun di dunia kapitalis persoalan seperti
ini sering sekali kita temukan. Baru-baru ini saja seorang bayi berjenis kelamin laki-laki ditemukan
membusuk dalam sebuah kardus yang dibuang di tempat pembuangan sampah di Gowa,
Sulawesi Selatan. Bayi yang masih butuh
perlindungan dan kasih sayang dari orang tuanya tega dibuang. Mirisnya, kasus
seperti ini dari tahun ke tahun terus meningkat. Ini membuktikan bahwa upaya
yang dilakukan oleh pemerintah mengatasi kasus semacam ini belumlah optimal.
Kita sepakat bahwa anak merupakan amanah dan
karunia. Mereka adalah generasi penerus dalam keluarga bahkan bangsa dan negara. Oleh sebab itu maka anak harus mendapatkan
perhatian serius dari seluruh sistem kehidupan.
Namun fakta di dunia kapitalis berbicara lain. Seluruh sistem kehidupan justru
berbalik menghancurkan masa depan bayi yang tak berdosa. Harusnya di sinilah
peran pemerintah menyelesaikan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai ini. Pemerintah
harus mampu berpikir cemerlang melihat segala persoalan bangsa ini. Agar
menemukan solusi yang tepat, menganalisis sebuah permasalahan tidak boleh hanya
melihat dari luarnya saja atau memandang dari satu aspek saja. Melainkan sampai
ke akar permasalahan serta dari berbagai aspek.
Akar Masalah
Sistem pendidikan ala kapitalis berbasis sekuler
yang diterapkan di Indonesia menjauhkan masyarakat indonesia termasuk perempuan
dari aturan yang benar. Mereka tidak diberikan bekal menjadi seorang muslimah
yang sesungguhnya. Termasuk posisinya sebagai ibu.
Kita sering menemukan perempuan yang terpaksa menjadi
ibu karena hamil di luar nikah. Ini dampak dari sistem pergaulan yang
mengedepankan kebebasan. Pola hidup bebas menggiring banyak remaja melakukan
hubungan suami istri di luar nikah. Ditambah banyaknya orang tua yang cepat
puas jika anaknya sudah shalat, puasa di bulan Ramadhan, dan membaca al-Quran.
Namun tidak peduli, mendukung, bahkan mengarahkan anaknya mengumbar aurat serta
pacaran. Padahal aktivitas inilah yang akan mengantarkan pada perzinahan. Imbasnya,
bayi yang tak berdosa menjadi korban.
Di sisi lain, masyarakat acuh tak acuh terhadap pola
pergaulan remaja. Aktivitas pacaran dengan mudah kita temukan di tempat umum.
Aktivitas ini dianggap bukan hal yang tabu lagi. Akhirnya remaja tidak merasa
segan berduaan, berpelukan bahkan hingga berciuman di muka umum. Jika di muka
umum saja ia tak malu, maka sangat mungkin ketika hanya berdua mereka berzina. Apalagi
dengan dalih kebebasan berekspresi yang lahir dari rahim kapitalis, media
dengan bebasnya menyuguhkan tayangan pornografi dan pornoaksi. Inilah yang
menjadi stimulan remaja melakukan seks bebas.
Tak jarang pula alasan seorang ibu membuang bayinya
adalah faktor ekonomi. Sistem ekonomi kapitalis membuat beban ekonomi rakyat
makin besar. Akibatnya tingkat stress masyarakat makin tinggi. Hingga seorang
ibu tanpa berpikir panjang bisa tega membuang anak kandungnya karena alasan takut
tak mampu menghidupi anaknya.
Semua sistem itu diperparah dengan sistem sanksi
yang tak mampu mencegah orang berbuat jahat. Termasuk bagi ibu yang membuang
bayinya serta bagi remaja yang melakukan tindak asusila. Maka pantaslah nyawa
bayi terus berjatuhan serta seks bebas dengan mudah terjadi di tengah
masyarakat.
Bagaimana solusinya?
Seorang muslim harus senantiasa melandaskan aktivitasnya
pada syariah Islam. Berzina serta aktivitas mendekati zina adalah perbuatan
haram. Sistem pergaulan Islam menjaga laki-laki dan perempuan. Sistem ini
didukung oleh sistem-sistem yang lain. Sistem ekonominya memiliki prinsip
distribusi yang merata dan adil. Sehingga tidak berputar di tengah para pemilik
modal saja atau di daerah tertentu saja. Selain itu Negara wajib menjamin
lapangan pekerjaan untuk rakyat secara riil. Mewajibkan negara
menyediakan lapangan kerja yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja
dan memberikan nafkah untuk keluarganya. Lalu di tambah Negara menjamin pemenuhan
kebutuhan pokok baik pangan, papan dan sandang tiap individu rakyat. Hal ini
sangat mungkin di lakukan dengan menggunakan mekanisme ekonomi dan non ekonomi
sesuai syariah islam.
Di sisi lain, Negara juga wajib menjamin pendidikan,
pelayanan kesehatan, dan keamanan secara langsung dan bebas biaya. Hal ini
dapat diperoleh dengan dukungan dari pengelolaan sumber daya alam yang mandiri
dilakukan oleh negara. Jika SDM tidak mampu, maka ada dua hal yang bisa
dilakukan negara, yaitu mempekerjakan SDM luar negeri yang memiliki kemampuan
sembari membukakan jalan bagi SDM dalam negeri untuk meningkatkan kemampuannya.
Selain itu semua hasil pengelolaan SDA di serahkan kepada Negara untuk
digunakan demi kemaslahatan rakyatnya.
Kalaupun ternyata masih ada ibu baik masih lajang
maupun sudah berkeluarga yang membuang
bayinya. Maka sistem sanksi dalam islam memberikan efek jera bagi pelaku serta
bagi orang lain yang melihat. Maka kasus seperti ini sangat minim terjadi karena
sudah di cegah dari berbagi sistem kehidupan yang ada. Inilah seperangkat
sistem yang bisa dipikirkan kembali oleh penguasa negeri ini sebagai solusi
permasalahan bangsa.

0 komentar:
Posting Komentar