Arak-Arakan Si Spesialis Blusukan
Baru-baru ini Presiden
Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi selatan. Siapa yang
tak kenal orang nomor satu di Indonesia. Dialah orang yang sangat penting di
negeri ini. Orang yang agendanya sangat padat. Meski lebih terkesan sebagai
agenda ‘jual Negara’. Saking pentingnya orang ini, polisi tersebar di bahu
jalan sepanjang jalan yang dilalui olehnya. Memastikan tak ada kendaraan yang
melewati jalan yang akan dilalui oleh orang yang identik dengan blusukan ini.
Setelah kurang lebih satu
jam kami ditahan, agar tidak mengganggu jalanan yang akan dilalui presiden dan
arak-arakannya. Orang penting yang ‘ditunggu-tunggu’ pun lewat. Dia memakai
mobil warna hitam. Mereknya saya tidak tau, yang saya tau itu pasti mobil mahal
jika dilihat dari perawakannya. Dia melambaikan tangan dengan senyum sumringah,
sebagaimana biasanya terlihat di televisi. Tapi anehnya, tak ada yang membalas
lambaian tangannya kecuali satu orang didepanku. Itu pun hanya dua kali
melambai. Lalu tangannya diturunkan kembali.
![]() |
| Sumbe gambar: Suara merdeka.com |
“Tidak kuangkat tanganku
saya, bikin jengkel saja” ucap bapak
dengan raut wajah yang kusut menunggu lama.
Saya teringat dengan
kisah kepemimpinan Umar bin Khattab. Khalifah setelah Abu Bakar. Ketika
mendatangi sebuah negeri yang berhasil ditaklukkan oleh para mujahidinnya,
Jarusalem. Perlakuan yang sangat jauh berbeda dari apa yang diperoleh presiden
Indonesia dan negeri lainnya saat melakukan kujungan kenegaraan. Ia tak punya
banyak pengiring. Ia hanya ditemani oleh satu orang pengawal dengan tunggangan
satu ekor unta.
Sepanjang perjalanan dari
Damaskus ke Jarusalem, Umar menghargai pengawalnya dengan bergantian
menunggangi untanya. Pada saat menjelang tiba di gerbang kota, kembali giliran
Umar yang berjalan menuntun unta sedangkan pengawalnya di atas unta. Sementara
di depan sana seluruh penduduk Jarusalem sudah tumpah ruah menanti kedatangan
pemimpin kaum muslimin yang berhasil menaklukkan wilayahnya. Mereka siap-siap
menyambut arak-arakannya. Namun tak ada arak-arakan seperti yang mereka
bayangkan. Mereka hanya melihat dua orang lelaki berpakaian lusuh. Satu di atas
unta, dan satunya lagi menuntun unta. Meskipun kaget, mereka yakin bahwa salah
satu diantara mereka berdualah orang yang mereka tunggu. Tentu saja mereka mengira
khlaifah yang berada di atas unta. Mereka kemudian mengucapakan selamat atas
kedatangannya. Namun mereka kembali dibuat kaget saat mengetahui bahwa orang
yang menunggangi unta adalah pengawal khalifah. Sementara orang orang yang disangka
pengawalnya justru sang khalifah. Penduduk dan pemimpin Jarusalem pun takjub
dengan sosok pemimpin daulan islam. Betul-betul jauh dari kesan seorang
pemimpin pada umumnya.
Jika hari ini Indonesia dibuat
takjub dengan kehadiran pemimpin yang sederhana, memakai pakaian yang tidak
mahal dan suka blusukan di daerah-daerah kumuh. Jauh sebelumnya khalifah daulah
islam jauh lebih bersahaja. Umar bin Khattab bahkan hanya memiliki dua buah jubah
dengan tambalan disana-sini. Jangan ditanya tentang blusukannya, ianya jauh
lebih mengagumkan. Masih ingatkan kisah fenomenal ibu yang memasak batu untuk
menenangkan anaknya yang menangis kelaparan, lalu khalifah memanggul sendiri
gandum untuknya. Kisah itu terekam nyata pada kepemimpinan Umar bin Khattab.
Kisah yang tak pernah kita temukan hari ini.
Saya rindu dengan
pemimpin seperti Umar bin Khattab, meskipun hidupnya bersahaja tapi ia pemimpin
yang disegani oleh negeri-negeri lainnya. Pun kesahajaannya di dasari ketakwaan
pada Rabb-Nya bukan untuk mencari simpati rakyatnya. Saya rindu dengan sosok
pemimpin sepertinya yang meskipun bajunya penuh tambalan, tapi tidak membuat
wibawanya jatuh dimata rakyatnya. Saya rindu orang nomor satu sepertinya yang
siangnya bak singa tapi malamnya seperti rahib. Saya rindu pemimpin sepertinya
yang memastikan tak ada rakyatnya yang kelaparan. Saya yakin, kalianpun
merindukan hal yang sama. Namun saya yakin bahwa kerinduan itu hanya bisa
terwujud ketika syariah islam menjadi aturan Negara. Hanya bisa terwujud di
bawah naungan khilafah ala minhajin nubuwah. Wallahu a’lam wa ahkam

0 komentar:
Posting Komentar