Selasa, 01 Desember 2015

Arak-Arakan Si Spesialis Blusukan


Baru-baru ini Presiden Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi selatan. Siapa yang tak kenal orang nomor satu di Indonesia. Dialah orang yang sangat penting di negeri ini. Orang yang agendanya sangat padat. Meski lebih terkesan sebagai agenda ‘jual Negara’. Saking pentingnya orang ini, polisi tersebar di bahu jalan sepanjang jalan yang dilalui olehnya. Memastikan tak ada kendaraan yang melewati jalan yang akan dilalui oleh orang yang identik dengan blusukan ini.
Setelah kurang lebih satu jam kami ditahan, agar tidak mengganggu jalanan yang akan dilalui presiden dan arak-arakannya. Orang penting yang ‘ditunggu-tunggu’ pun lewat. Dia memakai mobil warna hitam. Mereknya saya tidak tau, yang saya tau itu pasti mobil mahal jika dilihat dari perawakannya. Dia melambaikan tangan dengan senyum sumringah, sebagaimana biasanya terlihat di televisi. Tapi anehnya, tak ada yang membalas lambaian tangannya kecuali satu orang didepanku. Itu pun hanya dua kali melambai. Lalu tangannya diturunkan kembali.
Sumbe gambar: Suara merdeka.com

“Tidak kuangkat tanganku saya, bikin jengkel saja”  ucap bapak dengan raut wajah yang kusut menunggu lama.
Saya teringat dengan kisah kepemimpinan Umar bin Khattab. Khalifah setelah Abu Bakar. Ketika mendatangi sebuah negeri yang berhasil ditaklukkan oleh para mujahidinnya, Jarusalem. Perlakuan yang sangat jauh berbeda dari apa yang diperoleh presiden Indonesia dan negeri lainnya saat melakukan kujungan kenegaraan. Ia tak punya banyak pengiring. Ia hanya ditemani oleh satu orang pengawal dengan tunggangan satu ekor unta.
Sepanjang perjalanan dari Damaskus ke Jarusalem, Umar menghargai pengawalnya dengan bergantian menunggangi untanya. Pada saat menjelang tiba di gerbang kota, kembali giliran Umar yang berjalan menuntun unta sedangkan pengawalnya di atas unta. Sementara di depan sana seluruh penduduk Jarusalem sudah tumpah ruah menanti kedatangan pemimpin kaum muslimin yang berhasil menaklukkan wilayahnya. Mereka siap-siap menyambut arak-arakannya. Namun tak ada arak-arakan seperti yang mereka bayangkan. Mereka hanya melihat dua orang lelaki berpakaian lusuh. Satu di atas unta, dan satunya lagi menuntun unta. Meskipun kaget, mereka yakin bahwa salah satu diantara mereka berdualah orang yang mereka tunggu. Tentu saja mereka mengira khlaifah yang berada di atas unta. Mereka kemudian mengucapakan selamat atas kedatangannya. Namun mereka kembali dibuat kaget saat mengetahui bahwa orang yang menunggangi unta adalah pengawal khalifah. Sementara orang orang yang disangka pengawalnya justru sang khalifah. Penduduk dan pemimpin Jarusalem pun takjub dengan sosok pemimpin daulan islam. Betul-betul jauh dari kesan seorang pemimpin pada umumnya.
Jika hari ini Indonesia dibuat takjub dengan kehadiran pemimpin yang sederhana, memakai pakaian yang tidak mahal dan suka blusukan di daerah-daerah kumuh. Jauh sebelumnya khalifah daulah islam jauh lebih bersahaja. Umar bin Khattab bahkan hanya memiliki dua buah jubah dengan tambalan disana-sini. Jangan ditanya tentang blusukannya, ianya jauh lebih mengagumkan. Masih ingatkan kisah fenomenal ibu yang memasak batu untuk menenangkan anaknya yang menangis kelaparan, lalu khalifah memanggul sendiri gandum untuknya. Kisah itu terekam nyata pada kepemimpinan Umar bin Khattab. Kisah yang tak pernah kita temukan hari ini.

Saya rindu dengan pemimpin seperti Umar bin Khattab, meskipun hidupnya bersahaja tapi ia pemimpin yang disegani oleh negeri-negeri lainnya. Pun kesahajaannya di dasari ketakwaan pada Rabb-Nya bukan untuk mencari simpati rakyatnya. Saya rindu dengan sosok pemimpin sepertinya yang meskipun bajunya penuh tambalan, tapi tidak membuat wibawanya jatuh dimata rakyatnya. Saya rindu orang nomor satu sepertinya yang siangnya bak singa tapi malamnya seperti rahib. Saya rindu pemimpin sepertinya yang memastikan tak ada rakyatnya yang kelaparan. Saya yakin, kalianpun merindukan hal yang sama. Namun saya yakin bahwa kerinduan itu hanya bisa terwujud ketika syariah islam menjadi aturan Negara. Hanya bisa terwujud di bawah naungan khilafah ala minhajin nubuwah. Wallahu a’lam wa ahkam

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca