Meneror dengan Dakwah dan Cinta
sumber gambar: islampos.com
Suara
keributan terdengar di depan rumah. Ibu memegang tangan Bapak, erat. Bapak menarik
napas, mencoba tenang.
Mereka
menggedor-gedor pintu. Meski dengan raut wajah khawatir, perlahan Bapak melangkah
menuju pintu. Jantungku berdegup kencang.
Sekelompok lelaki bersenjata lengkap mengepung rumah kami. Mereka tak
banyak tanya, hanya tersenyum puas setelah melihatku. Tanganku ditelikung dan
dipasangi borgol.
“Ini
ada apa pak? Anak saya salah apa” Tanya bapak pada lelaki yang memborgolku.
“Dia
kami tahan karena diduga terlibat aksi terorisme Bom hotel Pearls,” jawab
lelaki tersebut.
Bapak
menatapku tajam. Ini kedua kalinya bapak menatapku dengan sorot mata kemarahan
seperti itu. Pertama saat bapak tahu bahwa aku aktif mengkaji islam di sebuah
organisasi islam dan kedua, detik ini.
Moncong
senapan terarah di kepalaku. Dia menekannya, memaksaku mengadu kesakitan.
“Empat
orang periksa seisi rumah, kumpulkan seluruh barang bukti. Sisanya tetap di
tempat jangan biarkan penjahat ini lolos” orang itu, berseragam hitam lengkap memberikan
perintah.
“Hei,
apa yang kalian cari. Tidak akan ada barang bukti. Saya bukan teroris” teriakku
protes pada mereka.
Mereka
masuk ke dalam kamarku, mengobrak-abrik seluruh isinya. Aku menggeram. Mereka mengambil
beberapa barang. Tapi hei, apa maksud mereka mengambil buku-buku, buletin
dakwah, al-Quranku dan satu lagi kertas yang bertuliskan La ilaha illallah yang sengaja aku tempelkan di atas meja belajarku.
Itukah yang mereka maksud barang bukti. Barang bukti bahwa aku seorang teroris?.
Dia
memperlihatkan bukuku pada lelaki itu yang mereka sebut sebagai Komandan.
“Jihad
Fi Sabilillah” lirihnya membaca judul buku yang ia pegang sambil tersenyum puas.
Setelah
mereka berhasil membuat rumahku tak lagi serapi sebelumnya. Mereka membawaku
pergi. Mereka menyeretku sangat keras dan tidak beradab ke dalam mobil Kijang
Innova. Ibu terus menangis merengek kepada bapak memberi isyarat untuk mencegah
mereka membawaku.
“Sudah
bu, biarkan saja dia dibawa pergi. Sudah sering kan bapak peringatkan anakmu
itu untuk tidak ikut pengajian. Tapi dia tetap ikut. Lihatlah sekarang, dia
betul-betul sudah jadi teroris”
“Saya
bukan teroris Bu, tenang semuanya akan baik-baik saja” lirihku menjawab tatapan
iba ibu.
*
Buk,buk,buk.
Bogem mentah mendarat di punggungku.
“Dimana
tempat persembunyian Muhammad Ridwan?”
“Saya
tidak tahu” jawabku singkat yang memang benar-benar tidak tahu. Seingatku nama
Muhammad Ridwan yang aku kenal hanya temanku saat di sekolah menengah pertama.
Semenjak lulus aku tak pernah lagi bertemu dengannnya.
Tak
terima dengan jawaban tersebut, aku kembali dipukuli.
“Kenapa
saya dipukul?” aku berteriak protes
“Cengeng”
kali ini pipiku yang mendapat pukulan
“Apa
yang kau pelajari selama ta’lim?”
Sudah
kuduga pertanyaan itu akan keluar dari mulut mereka. Bukankah selama ini kasus
penangkapan teroris memang memberikan sinyal perang melawan islam. Seseorang
yang menggunakan symbol-simbol islam patut dicurigai sebagai teroris apalagi
sering mengikuti ta’lim, halaqah, tarbiyah atau sebutan kajian islam lainnya.
Jeda
sejenak, membiarkan mereka menerka-nerka apa yang akan keluar dari mulut
seorang ‘teroris’.
“Mengkaji
seluruhnya tentang islam, yaitu agamaku mungkin juga agamamu. Salah satunya,
kami diajari untuk menempatkan saudara sebagai saudara dan musuh sebagai musuh”
“Siapa
maksudmu saudara, bicara yang jelas” dia kembali memukulku.
“Jika
kau dan mereka beragama islam, kalian adalah saudaraku. Aku akan
memperlakukanmu layaknya saudara. Sebagaimana perlakuanmu kepada saudara
kandungmu”
Dia
menelan ludah “Lalu yang kau sebut musuh?”
“Kafir
yang telah menampakkan secara nyata permusuhannya pada islam itulah musuh.
“Hah,
tidak salah lagi kalianlah yang kami cari. Kalian menganggap kafir adalah
musuh”
“Bukan
keseluruhan tapi yang hanya menampakkan permusuhannya secara nyata” aku
mengoreksi
Keningnya
berkerut “Kami memang membenci Amerika, Israel serta beberapa Negeri lainnya. Tapi
selama mereka tidak menyerang kita secara fisik seperti di Palestina, kita tak
perlu melawan dengan fisik. Kita sekarang ada di Negeri yang hanya digempur
oleh perang pemikiran. Maka, kitapun melawan dengan perang pemikiran bukan
dengan perang berdarah. Seperti itulah yang diajarkan islam” aku menambahkan
sebelum dia semakin bingung.
*
Ternyata
aku dipindahkan ke Polres. Saat dibawa menuju Polres aku sudah tak sadarkan diri akibat
pukulan yang bertubi-tubi di atas mobil. Di Mapolresta mataku ditutup selama 3
hari. Saat mataku dibuka barulah aku melihat sekujur tubuhku dibagian punggung,
muka dan paha, telah lebam dan berwarna hitam.
Setelah masa tahanan
selama tujuh kali dua puluh empat jam sesuai Undang-Undang terorisme, aku dinyatakan
tidak bersalah. Aku dikeluarkan dalam keadaan muka babak belur. Bersama 4 orang
yang juga mengalami hal serupa.
*
“Astagfirullah,
apa yang mereka lakukan padamu nak sampai babak belur seperti ini?” tanya ibu
sambil menempelkan daun obat ke bagian tubuhku yang lebam.
Aku
hanya menyeringai. Mataku mencari sesuatu “Bapak mana bu?”
“Sejak
kau dibawa mereka, Bapakmu tak henti-hentinya mencari informasi tentang tempat
pengajianmu. Dia datangi beberapa orang temanmu. Banyak pula lelaki yang
penampilannya sama denganmu, berjenggot dan bercelana cingkrang selalu datang
kerumah. Ia berdiskusi dengan bapakmu sesekali mereka malah seperti berdebat”
Terdengar
suara pintu terbuka. Suara langkahnya
aku kenal. Dia berhenti di depanku. Dia masih menatapku tidak percaya.
Tangannya gemetar menahan marah. Aku mulai menerka-nerka kemarahan model apa
lagi yang akan diperlihatkan bapak.
“Dasar
biadab” bapak menghardik
Jantungku
berdetak lebih kencang.
“Mereka
betul-betul biadab. Merekalah peneror yang sebenarnya. Sudah kuduga kau akan
mendapat perlakuan seperti ini. Makanya bapak menyuruhmu tidak terlalu ekstrim
mempelajarai agama. Tapi sekarang bapak sadar, bahwa bukan kita yang harus
menghindar dari rencana jahat para pembenci islam. Tapi kita harus berjuang
melawan makar-makar itu. Bapak mendukungmu nak, tetaplah berjuang. Tetaplah meneror
mereka dengan dakwah, dengan cinta. Meskipun mereka menerormu dengan peluru”
(Salah satu
cerpen yang dimuat dalam website islampos.com)
https://www.islampos.com/terorlah-mereka-dengan-dakwah-dan-cinta-248639/

0 komentar:
Posting Komentar