Selasa, 02 Februari 2016

Meneror dengan Dakwah dan Cinta

sumber gambar: islampos.com
Suara keributan terdengar di depan rumah. Ibu memegang tangan Bapak, erat. Bapak menarik napas, mencoba tenang.
Mereka menggedor-gedor pintu. Meski dengan raut wajah khawatir, perlahan Bapak melangkah menuju pintu. Jantungku berdegup kencang.  Sekelompok lelaki bersenjata lengkap mengepung rumah kami. Mereka tak banyak tanya, hanya tersenyum puas setelah melihatku. Tanganku ditelikung dan dipasangi borgol.
“Ini ada apa pak? Anak saya salah apa” Tanya bapak pada lelaki yang memborgolku.
“Dia kami tahan karena diduga terlibat aksi terorisme Bom hotel Pearls,” jawab lelaki tersebut.
Bapak menatapku tajam. Ini kedua kalinya bapak menatapku dengan sorot mata kemarahan seperti itu. Pertama saat bapak tahu bahwa aku aktif mengkaji islam di sebuah organisasi islam dan kedua, detik ini.
Moncong senapan terarah di kepalaku. Dia menekannya, memaksaku mengadu kesakitan.
“Empat orang periksa seisi rumah, kumpulkan seluruh barang bukti. Sisanya tetap di tempat jangan biarkan penjahat ini lolos” orang itu, berseragam hitam lengkap memberikan perintah.
“Hei, apa yang kalian cari. Tidak akan ada barang bukti. Saya bukan teroris” teriakku protes pada mereka.
Mereka masuk ke dalam kamarku, mengobrak-abrik seluruh isinya. Aku menggeram. Mereka mengambil beberapa barang. Tapi hei, apa maksud mereka mengambil buku-buku, buletin dakwah, al-Quranku dan satu lagi kertas yang bertuliskan La ilaha illallah yang sengaja aku tempelkan di atas meja belajarku. Itukah yang mereka maksud barang bukti. Barang bukti bahwa aku seorang teroris?.
Dia memperlihatkan bukuku pada lelaki itu yang mereka sebut sebagai Komandan.
“Jihad Fi Sabilillah” lirihnya membaca judul buku yang ia pegang sambil tersenyum puas.
Setelah mereka berhasil membuat rumahku tak lagi serapi sebelumnya. Mereka membawaku pergi. Mereka menyeretku sangat keras dan tidak beradab ke dalam mobil Kijang Innova. Ibu terus menangis merengek kepada bapak memberi isyarat untuk mencegah mereka membawaku.
“Sudah bu, biarkan saja dia dibawa pergi. Sudah sering kan bapak peringatkan anakmu itu untuk tidak ikut pengajian. Tapi dia tetap ikut. Lihatlah sekarang, dia betul-betul sudah jadi teroris” 
“Saya bukan teroris Bu, tenang semuanya akan baik-baik saja” lirihku menjawab tatapan iba ibu.
*
Buk,buk,buk. Bogem mentah mendarat di punggungku.
“Dimana tempat persembunyian Muhammad Ridwan?”
“Saya tidak tahu” jawabku singkat yang memang benar-benar tidak tahu. Seingatku nama Muhammad Ridwan yang aku kenal hanya temanku saat di sekolah menengah pertama. Semenjak lulus aku tak pernah lagi bertemu dengannnya.
Tak terima dengan jawaban tersebut, aku kembali dipukuli.
“Kenapa saya dipukul?” aku berteriak protes
“Cengeng” kali ini pipiku yang mendapat pukulan
“Apa yang kau pelajari selama ta’lim?”
Sudah kuduga pertanyaan itu akan keluar dari mulut mereka. Bukankah selama ini kasus penangkapan teroris memang memberikan sinyal perang melawan islam. Seseorang yang menggunakan symbol-simbol islam patut dicurigai sebagai teroris apalagi sering mengikuti ta’lim, halaqah, tarbiyah atau sebutan kajian islam lainnya.  
Jeda sejenak, membiarkan mereka menerka-nerka apa yang akan keluar dari mulut seorang ‘teroris’.
“Mengkaji seluruhnya tentang islam, yaitu agamaku mungkin juga agamamu. Salah satunya, kami diajari untuk menempatkan saudara sebagai saudara dan musuh sebagai musuh”
“Siapa maksudmu saudara, bicara yang jelas” dia kembali memukulku.
“Jika kau dan mereka beragama islam, kalian adalah saudaraku. Aku akan memperlakukanmu layaknya saudara. Sebagaimana perlakuanmu kepada saudara kandungmu”
Dia menelan ludah “Lalu yang kau sebut musuh?”
“Kafir yang telah menampakkan secara nyata permusuhannya pada islam itulah musuh.
“Hah, tidak salah lagi kalianlah yang kami cari. Kalian menganggap kafir adalah musuh”
“Bukan keseluruhan tapi yang hanya menampakkan permusuhannya secara nyata” aku mengoreksi
Keningnya berkerut ­“Kami memang membenci Amerika, Israel serta beberapa Negeri lainnya. Tapi selama mereka tidak menyerang kita secara fisik seperti di Palestina, kita tak perlu melawan dengan fisik. Kita sekarang ada di Negeri yang hanya digempur oleh perang pemikiran. Maka, kitapun melawan dengan perang pemikiran bukan dengan perang berdarah. Seperti itulah yang diajarkan islam” aku menambahkan sebelum dia semakin bingung.
*
Ternyata aku dipindahkan ke Polres. Saat dibawa menuju Polres aku sudah tak sadarkan diri akibat pukulan yang bertubi-tubi di atas mobil. Di Mapolresta mataku ditutup selama 3 hari. Saat mataku dibuka barulah aku melihat sekujur tubuhku dibagian punggung, muka dan paha, telah lebam dan berwarna hitam.
Setelah masa tahanan selama tujuh kali dua puluh empat jam sesuai Undang-Undang terorisme, aku dinyatakan tidak bersalah. Aku dikeluarkan dalam keadaan muka babak belur. Bersama 4 orang yang juga mengalami hal serupa.
*
“Astagfirullah, apa yang mereka lakukan padamu nak sampai babak belur seperti ini?” tanya ibu sambil menempelkan daun obat ke bagian tubuhku yang lebam.
Aku hanya menyeringai. Mataku mencari sesuatu “Bapak mana bu?”
“Sejak kau dibawa mereka, Bapakmu tak henti-hentinya mencari informasi tentang tempat pengajianmu. Dia datangi beberapa orang temanmu. Banyak pula lelaki yang penampilannya sama denganmu, berjenggot dan bercelana cingkrang selalu datang kerumah. Ia berdiskusi dengan bapakmu sesekali mereka malah seperti berdebat”
Terdengar suara pintu terbuka. Suara langkahnya  aku kenal. Dia berhenti di depanku. Dia masih menatapku tidak percaya. Tangannya gemetar menahan marah. Aku mulai menerka-nerka kemarahan model apa lagi yang akan diperlihatkan bapak.
“Dasar biadab” bapak menghardik
Jantungku berdetak lebih kencang.
“Mereka betul-betul biadab. Merekalah peneror yang sebenarnya. Sudah kuduga kau akan mendapat perlakuan seperti ini. Makanya bapak menyuruhmu tidak terlalu ekstrim mempelajarai agama. Tapi sekarang bapak sadar, bahwa bukan kita yang harus menghindar dari rencana jahat para pembenci islam. Tapi kita harus berjuang melawan makar-makar itu. Bapak mendukungmu nak, tetaplah berjuang. Tetaplah meneror mereka dengan dakwah, dengan cinta. Meskipun mereka menerormu dengan peluru”
(Salah satu cerpen yang dimuat dalam website islampos.com)
https://www.islampos.com/terorlah-mereka-dengan-dakwah-dan-cinta-248639/

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca