Jumat, 06 Juli 2012

Rantai Sesal



Langit mendung. Awan hitam. Perlahan tapi pasti butiran air mulai jatuh menimpa kulit Rani. Ia tak beranjak. Ia tetap di sana menikmati kesedihannya. Menikmati keterpurukannya. Mengingat nasib kakaknya, lemparan kerikil itu semakin jauh. Danau di hadapannya punya sejarah sendiri bersama kakak dan sahabatnya. Mereka bertiga terbiasa menikmati sore bersama di sana. Ada banyak cerita di balik danau itu. Impian, harapan, serta kesedihan mewarnainya.
“Tidak…..dia bukan seorang sahabat!” pikirnya sembari melempar krikil tuk kesekian kalinya. Jauh melewati lemparan sebelumnya.
“Assalamu’alaikum.” terulur tangan Nana tepat di depan tangan kanan Rani yang baru saja melemparkan kerikil.
Rani mencoba mengingat suara yang baru saja di dengarnya, sebelum melihat siapa pemilik suara itu. “Wa’alaikumussalam.” jawabnya lirih hampir tak terdengar.
“Kamu kenapa Ran, ada masalah? Katakan padaku…” Nana memegang pundak Rani ragu.
“Kamu yang kenapa datang ke sini, pergi sana aku tidak kenapa-kenapa. Aku bahagia.” pundaknya ia jauhkan dari tangan Nana. Nana mencari mata sahabatnya yang tak pernah lagi Ia temukan berpapasan dengan matanya.
“Kenapa, apa kamu pikir aku berbohong. Aku sangat bahagia. Hahahahhaha.” ia tertawa seperti terpaksa. Nana diam tak percaya.
“Aku kangen sama kamu Ran, aku rindu kedekatan kita dulu. Meski aku tak ingin kembali ke masa itu. Masa yang menurutku sangat suram.” ucap Nana dalam.
“Apa maksudmu masa suram, kamu pikir aku yang telah membawamu ke masa suram itu. Aku tahu Nan, sekarang kamu sudah punya teman yang lain. Kamu anggap aku ini tak lebih dari syaitan yang mengajarimu berbuat dosa. Iya kan, itu maskudmu?”
“Bukan begitu Ran, mungkin aku menyesal karena pernah menghabiskan waktu hanya untuk perbuatan yang sia-sia bahkan dilarang islam. Tapi….” Belum sempat Nana melanjutkan penjelasannya, Rani memotong.
“Tapi apa, sudahlah aku kecewa sama kamu. Sangat kecewa.” ucapnya lirih menahan air mata yang hampir tumpah. Ia beranjak dari tempat duduknya. Nana hanya memandang diam, tak kuasa menghalanginya pergi. Ia ingin sekali memeluk sahabatnya . Ia urungkan niatnya karena tahu kondisi yang tak mendukung.
Baru beberapa langkah Rani berjalan, ia berhenti. “Inikah yang namanya pengemban dakwah?” ucapnya sebelum melanjutkan langkahnya.
Deg, jantung Nana serasa tertusuk pedang hingga menembus tulang sumsumnya. Nana, terdiam. Ingin Ia panggil Rani kembali menjelaskan apa maskud perkataannya. Mulutnya membisu. Tak sepatah katapun yang mampu keluar. Hatinya menangis. “Ya Rabb, ampuni dosa hambamu ini jika ternyata perkataan hamba kepadanya ada yang salah.” doanya dalam hati. Ia hanya bisa memandangi Rani dengan sejuta tanda tanya. Tanya yang ingin segera ia temukan jawabannya langsung dari mulut Rani.
*
“Inikah maksudmu?” ada butir-butir bening yang jatuh dari mata Nana memandangi layar laptopnya. Ia terisak. Kerah depan bajunya basah karenanya. Ia tengok album foto hijau di depannya. Isakannya semakin keras.
Nana menyender lemas. Kata “DAKWAH hanya sebuah KEDOK” kini menghantuinya. Ia ingin berlari menemui Si empu kata itu. “Tak mungkin keluar, sudah jam sepuluh malam.” pikirnya kecewa.
*
Keduanya membisu. Tak ada kata. Hanya tatapan tajam.
“ Datang tanpa sepatah kata. Aneh…” ujar Rani menusuk mengawali pembicaraan.
“Dakwah hanya kedok.” hanya tiga kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Nana. Air asin yang selama ini ia tahan kembai tumpah.
Rani mulai sadar status yang Ia posting  telah dibaca. Mulutnya terkunci tapi bergerak. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Pandangannya tajam pada Nana.
“Ya, aku memang sengaja tulis itu untukmu. Aku tak habis pikir kau paksa aku memutuskan Arwan. Aku sudah tahu semuanya, Arin  telah menceritakannya padaku. Kau menyuruhnya memberi tahu padaku untuk menjauhi Arwan dengan alasan yang tidak masuk akal.  Aku tahu kau tak mau pacaran. Tapi kenapa kau paksa pula aku meninggalkannya. Dia baik Na, dia tak seperti laki-laki lain. Dia pula yang membantuku membayar biaya rumah sakit kakak aku. Dia bahkan mengajariku agama. Tak seperti dirimu, orang bilang kau pendakwah. Tapi tidak bagiku. kau….fitnah dia, itukah yang namanya seorang pengemban dakwah?” jelas Rani sebelum Ia tutup pintu kosannya, bertambah derai air mata Nana.
Nana hancur, hatinya terasa tercabik-cabik. baru saja orang yang paling ia sayangi membuangnya. Membuang harga dirinya. Paling tidak dimatanya sendiri. pun ia pulang dengan kesakitannya.
Belum lama Nana berlalu, ponsel Rani bergetar. Segera ia buka inboxnya. “Maaf  Ran, aku harus bilang kalau Nana benar. Arwanlah yang jadi dalang dibalik hilangnya keperawanan kakakmu. Aku tahu setelah aku mendengar percakapannya dengan pacar aku. Kalau kamu tak percaya aku akan kirimkan rekaman pembicaraan mereka berdua” Rani tersentak membaca pesan singkat dari salah satu teman kelasnya. Ia membuka pintu kamarnya. Berharap masih ada Nana disana. Sayangnya ia terlambat. 
“Arggggg, aku tak percaya. Bodoh sekali aku. Laki-laki bajingan itu telah merusak semuanya. Merenggut keperawanan kakak, merebut kepercayaanku yang tak layak untuknya dan….merusak  persahabatanku” katanya menekan kepalanya. Sangat keras. Ia tersungkur, jatuh bersama penyesalannya.  



2 komentar:

  1. ckckck manai itu Arwan, cinnaku kandattoi :D

    Wawa, tercabik-cabik saya, bukan tercabit-cabit. Keep writing! :)

    BalasHapus

Copyright © 2014 Rumah Baca