Sabtu, 30 April 2016

Ajang Pencarian Bakat, Prestasi Timur untuk Barat


Sejak ajang pencarian bakat Akademi Fantasi Indosiar (AFI) muncul di layar kaca, mulai pula berdatangan ajang pencarian bakat lainnya. Keberhasilannya menarik perhatian pemirsa memberikan ide bagi channel lain untuk membuat program serupa. Misalnya, Indonesian Idol di RCTI dan Kontes Dangdut TPI. Beberapa tahun ketiga kontes nyanyi tersebut saling bersaing memikat hati permirsa TV. Sekitar tujuh tahun berjalan, pesona AFI memudar sehingga memaksanya untuk berhenti menggelar kontes di tahun berikutnya.
Meskipun pioneernya di Indonesia telah pensiun, tidak membuat ajang pencarian bakat lainnya pun ikut gulung tikar. Bahkan semakin lama ajang pencetak bintang TV semakin berjamur. Misalnya, kemunculan X-Factor, Mama mia di Indosiar, The Dream Band, The Voice Indonesia di RCTI, sosial media sensation di Trans TV, dan sekarang yang paling booming Dangdut Akademi di Indosiar.
Ternyata ajang pencarian bakat ini semakin lama semakin beragam, bukan lagi hanya dalam bidang bernyanyi. Tapi juga bermunculan kontes serupa tapi tak sama di bidang lain. Misalnya, di bidang pelawak muncul Audisi Pelawak TPI (API), di bidang sulap ada The Next Mentalist, di bidang masak ada Master Chef, di bidang da’i ada Pemilihan Da’i Cilik (PILDACIL), di bidang koreografi ada The Dance Icon Indonesia di SCTV. Di bidang acting seingat saya juga pernah ada, tapi saya lupa nama acaranya. Satu lagi penghuni terakhir, yang ini saya kesulitan memasukkan dia pada bidang apa.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang punya cita-cita. Ada yang ingin menjadi penyanyi, guru, dokter, astronot, tentara, usahawan, chef, pemain film dan sebaginya. Yang namanya cita-cita menuntut pencapaian. Sehingga, memaksa mereka memanfaatkan berbagai macam cara untuk mencapai impian itu. Tujuan dari semua cita-cita tersebut berujung pada materi dan membahagiakan orangtua.
Munculnya ajang pencarian bakat membawa angin segar bagi para pemimpi tersebut. Hal ini tidak terlepas dari gaya hidup glamor yang dipertontonkan para artis. Ajang ini termasuk cara instan untuk bisa mendapatkan harta yang berlimpah. Jika lolos, hanya hitungan bulan mereka bisa langsung menjadi bintang. Tentu profesi artis sangat menggiurkan. Terbukti setiap audisi ajang pencarian bakat, antrian peserta membludak. Mereka datang dari berbagai latar belakang budaya. Daerah yang belum pernah kita dengar sebelumnya, mendadak terkenal jika ada putra daerahnya yang lolos. Bagi pemerintah setempat hal ini menjadi suatu kebanggan bagi daerahnya. Tak jarang pula pemimpin daerah tersebut menghadiri ajang pencarian bakat untuk memberi dukungan pada puta daerahnya, mengirim sms, menyambut putra daerah tersebut saat pulang kampung. Perlakuan yang istimewa dengan dalih membanggakan daerah.
Saya tidak mengerti standar kebanggan yang ada di masyarakat hari ini. Mereka lebih cenderung bangga ketika ada dari keluarga mereka, teman, atau sedaerah mereka yang menjadi artis. Saya teringat dengan komentar bapak saat ada orangtua peserta yang diminta komentarnya terhadap anaknya yang lolos di panggung dangdut waktu itu. Kata orangtua tersebut” saya bangga memiliki anak sepertinya, dia telah mengangkat derajat orangtuanya” Tapi orangtua saya justru berkata lain “ Ah, saya tidak bangga kalau anak saya jadi penyanyi, kalau mengaji baru saya bangga. Apanya yang perlu dibanggakan jadi penyanyi” kata bapak. Saya hanya tersenyum sambil berdoa dalam hati “Semoga saya bisa memberikan kebanggan itu kepada bapak kelak di akhirat dengan hadiah kemuliaan”
Mamak saya juga selalu berkomentar setiap nonton acara dangdut academi, setiap melihat juri, host, ataupun peserta yang berpakaian tapi dadanya terbuka. Mamak langsung berkomentar “ Sekalian saja tidak usah pakai baju, dia pikir cantik kalau begitu. Padahal jelek sekali dilihat” atau sekali waktu dia juga pernah bilang “Tidak malu-malunya kelihatan ketiaknya” begitulah mama setiap nonton ajang pencarian bakat itu. Selalu saja setiap saya nonton di channel lain, mama minta nonton acara dangdut. Mungkin dia penat, butuh hiburan. Tapi saat nonton dia kebanyakan mengomentari baju pengisi acaranya. Seperti tidak pakai bajulah, membanding-bandingkan pakaian perempuan yang super seksi dan laki-laki yang tertutup rapi, atau meluapkan kekeselan terhadap kegilaan para juri dan hostnya. Saya pun semakin mengompori.
Sumber: Pak Google

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dahulu cukup diperhitungkan tapi semakin lama semakin kehilangan kewibawaanya di mata dunia. Berbagai hal telah merusak citranya. Lalu, kini pemuda Indonesia bergerak membangun citra itu kembali. Tapi yang disayangkan, prestasi yang ditorehkan justru prestasi yang semakin merusak kewibawaannya sebagai Negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Indonesia pun mengutus perwakilannya disetiap kontes kecantikan, lalu berusaha agar menjadi pemenang. Setelah menang, dia menyebut bahwa ini membanggakan bangsa. Sadarkah bahwa ini bukan kebanggaan, tapi justru telah mencoreng- moreng kemulian kita di mata dunia.
Bukan hanya itu, pemuda kita juga berusaha menorehkan prestasi dibidang nyanyi. Beberapa penyanyi Indonesia meniti karir di luar negeri. Setelah mereka berhasil, masyarakat menyebutnya membanggakan Indonesia. Tapi sadarkah kita bahwa justru hal ini yang di inginkan barat, menggeser makna prestasi di masyrakat muslim. Pemuda kita digiring memperbanyak figur penghibur. Untuk apa? Ya, untuk menyukseskan jajahannya di bidang fun. Bukannkah sudah jadi rahasia umum, bahwa saat ini kita dijajah di tiga F. Food, fashion dan fun.
Pelan-pelan kitapun tidak lagi menghargai prestasi yang harusnya kita apresiasi. Misalnya, saat adik kita Musa masuk tiga besar di salah satu lomba hafidz quran se dunia. Hal ini harusnya yang membanggakan Indonesia, tapi yang terjadi justru penghargaan terhadap adik kita tidak setinggi apa yang diberikan kepada pemenang Miss univers, pembalap  Rio Haryanto yang bahkan diberi dana khusus, dan masih banyak lagi penghargaan yang salah alamat lainnya.
Melihat fenomena ajang pencarian bakat yang bertebaran di berbagai channel. Muncul pertanyaan, siapa sebenarnya di balik ini. Apakah ini hanya terjadi di Indonesia? Tapi ternyata fenomena ini sudah muncul jauh-jauh hari di luar Negeri. Namun menariknya, beberapa tahun terakhir ajang pencarian bakat memenangkan wanita-wanita berpenutup kepala. Saya tidak menyebutnya kerudung karena memang tidak memenuhi standar kerudung, tidak sampai dada.
Diawali oleh kemenangan fatin di X Factors kemudian di susul Dian Nevertary. Banyak pihak yang mencium agenda zionisme dalam kemenangan wanita berpenutup kepala itu. terelebih ajang-ajang pencarian bakat yang ada adalah keluaran perusahaan hiburan zionis. Tapi disengaja atau tidak, munculnya sosok wanita berpenutup kepala pada ajang pencarian bakat, membuka pandangan baru di tengah masyarakat bahwa wanita ‘berjilbabpun’ bisa turut ambil bagian sebagai penyanyi. Hal ini berbahaya karena masyarakat beranggapan bahwa ini sebagai sosok muslimah modern, dan menurut mereka itu sah-sah saja. Padahal jelas, ketika muslimah menjadi penyanyi banyak rambu-rambu syariat yang dilanggar.
Maka, benarlah pernyataan Gleed Stones mantan Perdana Menteri Inggris. Dia mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an di hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan ummat Muhammad daripada seribu meriam, oleh karena itu, tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”
Tugas kita bukan lagi berlomba-lomba mengangkat derajat Indonesia ataupun Islam di mata dunia dengan prestasi yang justru diinginkan oleh barat. Tapi cobalah kita kembali pada apa yang ditakutkan oleh mereka. Mereka takut dengan bangunnya kita. Menata kembali apa yang selama ini coba ditidurkan dari diri kita. Kegirahan kita dalam mempelajari al-Quran dan hadits serta menerapkannya. 
Tapi jika kau masih tergila-gila dengan 3 F, cobalah arahkan ketiganya agar tidak melanggar rambu-rambu syariat. Maka, dengan sendirinya hal itu yang akan mengurangi ketergantunganmu pada trend F. Dengan begitu barat akan kebakaran jenggot atau bahkan senjata yang mereka tembakan kearah kaum muslim terpantul ke arahnya. Senjata makan tuan.




0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Rumah Baca