Ajang Pencarian Bakat, Prestasi Timur untuk Barat
Sejak
ajang pencarian bakat Akademi Fantasi Indosiar (AFI) muncul di layar kaca,
mulai pula berdatangan ajang pencarian bakat lainnya. Keberhasilannya menarik
perhatian pemirsa memberikan ide bagi channel lain untuk membuat program
serupa. Misalnya, Indonesian Idol di RCTI dan Kontes Dangdut TPI. Beberapa
tahun ketiga kontes nyanyi tersebut saling bersaing memikat hati permirsa TV.
Sekitar tujuh tahun berjalan, pesona AFI memudar sehingga memaksanya untuk berhenti
menggelar kontes di tahun berikutnya.
Meskipun
pioneernya di Indonesia telah pensiun,
tidak membuat ajang pencarian bakat lainnya pun ikut gulung tikar. Bahkan
semakin lama ajang pencetak bintang TV semakin berjamur. Misalnya, kemunculan
X-Factor, Mama mia di Indosiar, The Dream Band, The Voice Indonesia di RCTI, sosial
media sensation di Trans TV, dan sekarang yang paling booming Dangdut Akademi di Indosiar.
Ternyata
ajang pencarian bakat ini semakin lama semakin beragam, bukan lagi hanya dalam
bidang bernyanyi. Tapi juga bermunculan kontes serupa tapi tak sama di bidang
lain. Misalnya, di bidang pelawak muncul Audisi Pelawak TPI (API), di bidang
sulap ada The Next Mentalist, di bidang masak ada Master Chef, di bidang da’i
ada Pemilihan Da’i Cilik (PILDACIL), di bidang koreografi ada The Dance Icon
Indonesia di SCTV. Di bidang acting seingat saya juga pernah ada, tapi saya
lupa nama acaranya. Satu lagi penghuni terakhir, yang ini saya kesulitan memasukkan
dia pada bidang apa.
Tidak
bisa dipungkiri bahwa setiap orang punya cita-cita. Ada yang ingin menjadi
penyanyi, guru, dokter, astronot, tentara, usahawan, chef, pemain film dan
sebaginya. Yang namanya cita-cita menuntut pencapaian. Sehingga, memaksa mereka
memanfaatkan berbagai macam cara untuk mencapai impian itu. Tujuan dari semua
cita-cita tersebut berujung pada materi dan membahagiakan orangtua.
Munculnya
ajang pencarian bakat membawa angin segar bagi para pemimpi tersebut. Hal ini
tidak terlepas dari gaya hidup glamor yang dipertontonkan para artis. Ajang ini
termasuk cara instan untuk bisa mendapatkan harta yang berlimpah. Jika lolos,
hanya hitungan bulan mereka bisa langsung menjadi bintang. Tentu profesi artis
sangat menggiurkan. Terbukti setiap audisi ajang pencarian bakat, antrian
peserta membludak. Mereka datang dari berbagai latar belakang budaya. Daerah
yang belum pernah kita dengar sebelumnya, mendadak terkenal jika ada putra
daerahnya yang lolos. Bagi pemerintah setempat hal ini menjadi suatu kebanggan
bagi daerahnya. Tak jarang pula pemimpin daerah tersebut menghadiri ajang
pencarian bakat untuk memberi dukungan pada puta daerahnya, mengirim sms,
menyambut putra daerah tersebut saat pulang kampung. Perlakuan yang istimewa
dengan dalih membanggakan daerah.
Saya
tidak mengerti standar kebanggan yang ada di masyarakat hari ini. Mereka lebih
cenderung bangga ketika ada dari keluarga mereka, teman, atau sedaerah mereka
yang menjadi artis. Saya teringat dengan komentar bapak saat ada orangtua
peserta yang diminta komentarnya terhadap anaknya yang lolos di panggung dangdut
waktu itu. Kata orangtua tersebut” saya bangga memiliki anak sepertinya, dia
telah mengangkat derajat orangtuanya” Tapi orangtua saya justru berkata lain “
Ah, saya tidak bangga kalau anak saya jadi penyanyi, kalau mengaji baru saya
bangga. Apanya yang perlu dibanggakan jadi penyanyi” kata bapak. Saya hanya
tersenyum sambil berdoa dalam hati “Semoga
saya bisa memberikan kebanggan itu kepada bapak kelak di akhirat dengan hadiah
kemuliaan”
Mamak
saya juga selalu berkomentar setiap nonton acara dangdut academi, setiap
melihat juri, host, ataupun peserta yang berpakaian tapi dadanya terbuka. Mamak
langsung berkomentar “ Sekalian saja tidak usah pakai baju, dia pikir cantik
kalau begitu. Padahal jelek sekali dilihat” atau sekali waktu dia juga pernah bilang
“Tidak malu-malunya kelihatan ketiaknya” begitulah mama setiap nonton ajang
pencarian bakat itu. Selalu saja setiap saya nonton di channel lain, mama minta
nonton acara dangdut. Mungkin dia penat, butuh hiburan. Tapi saat nonton dia
kebanyakan mengomentari baju pengisi acaranya. Seperti tidak pakai bajulah,
membanding-bandingkan pakaian perempuan yang super seksi dan laki-laki yang
tertutup rapi, atau meluapkan kekeselan terhadap kegilaan para juri dan hostnya. Saya pun semakin mengompori.
![]() |
| Sumber: Pak Google |
Bangsa
Indonesia adalah bangsa yang dahulu cukup diperhitungkan tapi semakin lama
semakin kehilangan kewibawaanya di mata dunia. Berbagai hal telah merusak
citranya. Lalu, kini pemuda Indonesia bergerak membangun citra itu kembali.
Tapi yang disayangkan, prestasi yang ditorehkan justru prestasi yang semakin
merusak kewibawaannya sebagai Negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.
Indonesia pun mengutus perwakilannya disetiap kontes kecantikan, lalu berusaha
agar menjadi pemenang. Setelah menang, dia menyebut bahwa ini membanggakan
bangsa. Sadarkah bahwa ini bukan kebanggaan, tapi justru telah mencoreng-
moreng kemulian kita di mata dunia.
Bukan
hanya itu, pemuda kita juga berusaha menorehkan prestasi dibidang nyanyi.
Beberapa penyanyi Indonesia meniti karir di luar negeri. Setelah mereka
berhasil, masyarakat menyebutnya membanggakan Indonesia. Tapi sadarkah kita
bahwa justru hal ini yang di inginkan barat, menggeser makna prestasi di
masyrakat muslim. Pemuda kita digiring memperbanyak figur penghibur. Untuk apa?
Ya, untuk menyukseskan jajahannya di bidang fun.
Bukannkah sudah jadi rahasia umum, bahwa saat ini kita dijajah di tiga F. Food, fashion dan fun.
Pelan-pelan
kitapun tidak lagi menghargai prestasi yang harusnya kita apresiasi. Misalnya,
saat adik kita Musa masuk tiga besar di salah satu lomba hafidz quran se dunia.
Hal ini harusnya yang membanggakan Indonesia, tapi yang terjadi justru penghargaan
terhadap adik kita tidak setinggi apa yang diberikan kepada pemenang Miss univers,
pembalap Rio Haryanto yang bahkan diberi
dana khusus, dan masih banyak lagi penghargaan yang salah alamat lainnya.
Melihat
fenomena ajang pencarian bakat yang bertebaran di berbagai channel. Muncul pertanyaan, siapa sebenarnya di balik ini. Apakah
ini hanya terjadi di Indonesia? Tapi ternyata fenomena ini sudah muncul
jauh-jauh hari di luar Negeri. Namun menariknya, beberapa tahun terakhir ajang
pencarian bakat memenangkan wanita-wanita berpenutup kepala. Saya tidak
menyebutnya kerudung karena memang tidak memenuhi standar kerudung, tidak
sampai dada.
Diawali
oleh kemenangan fatin di X Factors kemudian di susul Dian Nevertary. Banyak
pihak yang mencium agenda zionisme dalam kemenangan wanita berpenutup kepala
itu. terelebih ajang-ajang pencarian bakat yang ada adalah keluaran perusahaan
hiburan zionis. Tapi disengaja atau tidak, munculnya sosok wanita berpenutup
kepala pada ajang pencarian bakat, membuka pandangan baru di tengah masyarakat
bahwa wanita ‘berjilbabpun’ bisa turut ambil bagian sebagai penyanyi. Hal ini
berbahaya karena masyarakat beranggapan bahwa ini sebagai sosok muslimah
modern, dan menurut mereka itu sah-sah saja. Padahal jelas, ketika muslimah
menjadi penyanyi banyak rambu-rambu syariat yang dilanggar.
Maka,
benarlah pernyataan Gleed Stones mantan Perdana
Menteri Inggris. Dia mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak
akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger
Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an di hati-hati mereka,
baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih
menghancurkan ummat Muhammad daripada seribu meriam, oleh karena itu,
tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”
Tugas kita bukan lagi berlomba-lomba mengangkat derajat Indonesia ataupun Islam di mata dunia dengan prestasi yang justru diinginkan oleh barat. Tapi cobalah kita kembali pada apa yang ditakutkan oleh mereka. Mereka takut dengan bangunnya kita. Menata kembali apa yang selama ini coba ditidurkan dari diri kita. Kegirahan kita dalam mempelajari al-Quran dan hadits serta menerapkannya.
Tapi jika kau masih tergila-gila dengan 3 F, cobalah
arahkan ketiganya agar tidak melanggar rambu-rambu syariat. Maka, dengan
sendirinya hal itu yang akan mengurangi ketergantunganmu pada trend F. Dengan
begitu barat akan kebakaran jenggot atau bahkan senjata yang mereka tembakan kearah
kaum muslim terpantul ke arahnya. Senjata makan tuan.

0 komentar:
Posting Komentar