Ikan Hidup
![]() |
| sumber gambar: http://batam.tribunnews.com |
Ikan itu hidupnya di air. Ada yang hidupnya di air tawar ada pula yang hidupnya di air asin. Ikan jika dibawa ke daratan akan tetap hidup jika suasana tempat ia biasanya hidup dikondisikan. Misalnya dibuat kolam buatan. Atau dibuatkan akuarium yang dimirip-miripin dengan rumahnya sebelumnya. Jika tidak, ikan hanya akan dijadikan santapan manusia atau hewan lain.
Ikan itu seperti manusia punya rumah, punya habitat yang berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia jika dipaksa hidup di air, tidak butuh waktu lama ia mati. Kenapa? Karena memang bukan disitu tempatnya. Tapi yang saya mau bahas kali ini bukan menyoal itu.
Kembali ke ikan. Kenapa ia bisa melawan arus, karena ia hidup. Jika ia mati, arus yang akan membawanya. Coba lihat di sungai, kalau bukan sampah yang terbawa arus, ya pasti ikan mati. Karena dia tak mampu lagi atau tak punya kekuatan lagi untuk melakukan perlawanan.
Begitupun dengan manusia. Jika tak mampu lagi menggunakan kekuatan yang Allah amanahkan ke dia untuk melakukan perlawanan terhadap kemaksiatan, maka nasibnya seperti ikan mati yang akan terbawa arus. Tentu kita tak ingin ini terjadi. Kita ingin hidup seperti ikan hidup. Yang terus mencari rezeki tanpa mengikuti arus.
Tapi sayang hari ini, banyak yang lebih pasrah dengan keadaan. Pemerintah zalim ya mau diapa. Yang berdosa kan dia. Teman bermaksiat, ya kita diam saja. Urus diri sendiri saja. Atasan kita bermaksiat, kita bisa apa. Salah sedikit malah dipecat. Lalu kita mau makan apa. Yang lebih parahnya sikap cueknya terbawa sampai ke dirinya sendiri. Katanya mau diapa lagi, ya dari dulu kita memang sukanya begini, maksiat. Hidup ya woles aja katanya. Ini Cuma dunia, singkatnya.
Mahasiswa banyak yang apatis melihat permasalahan negeri ini. Guru tak sedikit yang acuh-tak acuh melihat kondisi pendidikan yang mengalami degradasi moral serta diselimuti tindak kecurangan. Bahkan ikut ambil bagian dari kecurangan itu. Membantu siswanya menyontek pada saat ujian nasional misalnya. Bagaiamana jika dokter, perawat, apoteker, bidan serta praktisi kesehatan pun cuek dengan maraknya obat-obatan palsu. Lalu mengatakan, kita bisa apa ini sudah turun-temurun. Atau Polisi apatis dengan kondisi suap menyuap. Kita bisa berbuat apa. Jika tidak begini kita tak bisa jadi polisi.
Jika semua eleman bangsa ini acuh tak acuh, cuek, apatis, tidak peduli, lalu kita berharap pada siapa lagi. Tenaga kerja asing, hewan, tumbuhan siapa lagi. Tidak ada, hanya kitalah tumpuan bangsa ini. Jika kita memang ingin melihat bangsa ini baik, peduli terhadap nasib ummat. Kecuali jika memang kita tak peduli. “Bangsa ini baik atau tidak, saya tetap bisa hidup”. Hey, kita ini manusia apa. Hati kita terbuat dari apa?
Maros, Rabu 11 oktober 2017

0 komentar:
Posting Komentar