Kamis, 15 Januari 2015

Air Mata Pengantin

Nyanyian alat-alat dapur bersahutan. Bertalu-talu di sepanjang sudut rumah. Suara ibu-ibu bercengkerama menambah riuh. Nampak ibu-ibu setengah berbisik. Sesekali tawa terbahak yang tertahan terdengar.
Mata Lisa masih tampak jelas bengkak. Tak terhitung berapa banyak bulir bening yang tumpah dari peraduannnya. Tak tertakar seberapa perih sakit di dadanya. Tersenyum ikhlas pun nyaris ia lupa. Namun ia tetap berusaha tersenyum meskipun kecut tak bisa di pungkiri.
Sepekan lagi acara yang harusnya sakral dalam hidup Lisa akan diadakan. Kehidupan berumah tangga bersama lelaki yang tak pernah ia kenal sebelumnya hampir di depan mata. Tak ada pilihan baginya untuk memilih pasangan hidup. Adat perjodohan di keluarganya memaksa Lisa menurut.
Lelaki yang datang tiga bulan yang lalu untuk melamar Lisa ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Keluarganya tak biasa mendapati seorang lelaki yang datang melamar langsung. Apalagi untuk lelaki dengan jenggot dan celana cingkrangnya. Meskipun ditolak, lelaki itu dan Lisa tidak patah hati. Toh, mereka tidak ada hubungan asmara sebelumnya. Yang mereka sesalkan hanya alasan penolakannya.
“Kasihan bapak, fobia islam masih menggerogotinya” batin Lisa
Selang beberapa bulan setelahnya ada gelagat aneh di rumah Lisa. Tak ada yang memberi tahunya tentang itu. Dua kali di rumahnya ada acara tapi Lisa tak tau jelas dalam rangka apa.
“Syukuran motor baru kakakmu, Indra nak” jawab ibunya saat ditanya Lisa.
Lisa merasa ada yang janggal dari jawaban ibunya. Bukan kebiasaan ibunya memanggil keluarga besarnya hanya untuk sykuran motor baru. Kecurigaan Lisa memuncak saat tidak sengaja ia temukan undangan di depan komputer, lalu buru-buru Indra menyebunyikannya.
Baru beberapa hari yang lalu Lisa di beritau yang sebenarnya terjadi. Itupun dari sepupu dan adik perempuannya. Mereka tak tega melihat Lisa terlalu lama menyimpan tanya. Jika bukan karena ibunya yang melarang mereka sudah memberi tahu Lisa dari dulu. Lisa meradang. Tangisnya pecah. Kecurigaannya selama ini terbukti.
Beberapa hari Lisa mengurung diri di kamar. Meratapi kesedihannya. Lisa masih bisa menerima jika dijodohkan. Yang sulit ia terima adalah sikap orangtuanya yang tidak memberitahukan sejujurnya pada Lisa jauh-jauh hari.
“Ma, kenapa tidak di kasi tau memang dari dulu sama Lisa bilang mauki jodohkanki” tanya adik Lisa pada ibunya.
“Kenapa mesti dikasi tahu, kita juga dulu tidak dikasi tau jaki” jawab ibunya.
***
Tak ada pilihan lain bagi Lisa selain menerima perjodohannya. Dui mendre sudah keluarganya terima. Undangan telah disebar. Keluarganya akan malu jika ia menolak. Bakti kepada orangtuanya jadi alasan kuat dia menerima. Meskipun belum sepenuhnya.
“Jadi bagaimana nak, maumi ini acara pernikahanta” basa-basi ibu Lisa
“Iye, kuterimami. Tapi mauka minta tolong, boleh?” tanya Lisa
“Iye apa nak?” jawab ibunya
“Janganmaka di kellu. Baru di pisah juga pengantin sama tamu laki-laki dengan perempuannya” pinta Lisa
“Bagaimana bisa, adatta itu. Tidak bisa di buang”
“Iye ma, tapi kukira dalam islam tidak boleh orang cukur alis. Nabita bilang” Lisa menjelaskan dengan santun
“Inimi na takutkan bapakta, makanya natolak orang yang dulu datang. Tapi kenapa sekarang masih beginiki”
Lisa hanya menanggapi perkataan ibunya dalam hati. Ia tak ingin berbicara lebih banyak. Takut ibunya tersinggung dengan kata-katanya dan merasai digurui.
***
Ayah Lisa marah besar setelah mendengar permintaan Lisa dari ibunya. Ia tetap akan melaksanakan adat seutuhnya. Tidak peduli Lisa setuju atau tidak. Sebagai anak Lisa harus mengikuti keinginan orangtuanya.
Lisa kembali menangis. Ia berlutut memohon pada ayahnya agar mengabulkan permintaannya. Namun Ayahnya tetap bersikeras menolak.
Ayah Lisa menarik kakinya lalu pergi meninggalkannya. Derai air mata Lisa makin membuncah.
Baru saja ibunya juga hendak meninggalkannya. Buru-buru ia cegah. Menarik tangan ibunya. Lisa meletakkan keningnya di tangan ibunya. Ia memohon agar membujuk ayahnya. “Ma, saya mohon. Kasi tahu bapak. Saya takut dosa, ma”
Lisa tak henti-hentinya memohon. Bulir asin yang tertahan di mata ibunya kini benar-benar tumpah. Ia tak tega. Baru kali ini ia melihat anaknya memohon seperti itu. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan ayah Lisa.
“Sudahlah, terserah kamu saja. Kalau keluarga besar kita marah. Kamu tanggung sendiri” Lisa tersentak dengan suara ayahnya yang tetiba muncul.
Seketika rona wajah Lisa berubah. Lisa lega izin ayahnya telah ia genggam meskipun seperti terpaksa. Selanjutnya ia harus menyiapkan mental karena tau jelas prinsip keluarga besarnya terhadap adat. Ia harus siap dengan segala resikonya. Toh memang seperti itulah sejatinya perjuangan.
Seseorang akan sulit lepas sepenuhnya dari bayang-bayang adat dan budaya. Dimanapun ia berada. Lisa menyadari itu. Ia berjuang untuk meyakinkan keluarganya bahwa adat dan budaya tak boleh memakan keyakinan kita. warisan nenek moyang kita tak perlu di musnahkan seutuhnya. Hanya butuh disesuaikan pada keyakinan agama kita.


Om Google

4 komentar:

  1. kak, kayaknya ngegantung ini cerita. tapi, pengalaman pribadi lebih mudah untuk dituangkan dalam bentuk tulisan memang. *nyinggung diri sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya sudah dua tulisanku yg dikomen gantung di'. sepertinya sy mmng suka mngantung pembaca. membiarkan merka brimajinasi sndiri dengn kelanjutan ceritaya.

      #ngeles, padahal bisa jadi memang sudah tidak tau melanjutkan

      Hapus
  2. Wawa, ih wawa... nda moka saya jadi Lisa. *eh siapa yg nyuruh yah hehe

    Saran: perhatikan awalan 'di' sebagai kata depan dan 'di' sebagai kata pasif. hehehe lumayan tuh yang uncorrect :D

    Insya Allah berkunjung terusma. Wa. Tapi yang fiksi2ji bisa kukomentari. yang lain hands up ma nah. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya thanks sarannya is...sering-seringki memang datang nah dengan komen-komenta

      Hapus

Copyright © 2014 Rumah Baca