Air Mata Pengantin
Nyanyian alat-alat dapur
bersahutan. Bertalu-talu di sepanjang sudut rumah. Suara ibu-ibu bercengkerama
menambah riuh. Nampak ibu-ibu setengah berbisik. Sesekali tawa terbahak yang
tertahan terdengar.
Mata Lisa masih tampak jelas bengkak.
Tak terhitung berapa banyak bulir bening yang tumpah dari peraduannnya. Tak
tertakar seberapa perih sakit di dadanya. Tersenyum ikhlas pun nyaris ia lupa. Namun
ia tetap berusaha tersenyum meskipun kecut tak bisa di pungkiri.
Sepekan lagi acara yang harusnya
sakral dalam hidup Lisa akan diadakan. Kehidupan berumah tangga bersama lelaki
yang tak pernah ia kenal sebelumnya hampir di depan mata. Tak ada pilihan
baginya untuk memilih pasangan hidup. Adat perjodohan di keluarganya memaksa
Lisa menurut.
Lelaki yang datang tiga bulan yang
lalu untuk melamar Lisa ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Keluarganya tak biasa
mendapati seorang lelaki yang datang melamar langsung. Apalagi untuk lelaki
dengan jenggot dan celana cingkrangnya. Meskipun ditolak, lelaki itu dan Lisa
tidak patah hati. Toh, mereka tidak ada hubungan asmara sebelumnya. Yang mereka
sesalkan hanya alasan penolakannya.
“Kasihan bapak, fobia islam masih
menggerogotinya” batin Lisa
Selang beberapa bulan setelahnya
ada gelagat aneh di rumah Lisa. Tak ada yang memberi tahunya tentang itu. Dua
kali di rumahnya ada acara tapi Lisa tak tau jelas dalam rangka apa.
“Syukuran motor baru kakakmu, Indra
nak” jawab ibunya saat ditanya Lisa.
Lisa merasa ada yang janggal dari
jawaban ibunya. Bukan kebiasaan ibunya memanggil keluarga besarnya hanya untuk
sykuran motor baru. Kecurigaan Lisa memuncak saat tidak sengaja ia temukan
undangan di depan komputer, lalu buru-buru Indra menyebunyikannya.
Baru beberapa hari yang lalu Lisa
di beritau yang sebenarnya terjadi. Itupun dari sepupu dan adik perempuannya. Mereka
tak tega melihat Lisa terlalu lama menyimpan tanya. Jika bukan karena ibunya yang
melarang mereka sudah memberi tahu Lisa dari dulu. Lisa meradang. Tangisnya
pecah. Kecurigaannya selama ini terbukti.
Beberapa hari Lisa mengurung diri
di kamar. Meratapi kesedihannya. Lisa masih bisa menerima jika dijodohkan. Yang
sulit ia terima adalah sikap orangtuanya yang tidak memberitahukan sejujurnya
pada Lisa jauh-jauh hari.
“Ma, kenapa tidak di kasi tau memang
dari dulu sama Lisa bilang mauki jodohkanki” tanya adik Lisa pada ibunya.
“Kenapa mesti dikasi tahu, kita
juga dulu tidak dikasi tau jaki” jawab ibunya.
***
Tak ada pilihan lain bagi Lisa
selain menerima perjodohannya. Dui mendre
sudah keluarganya terima. Undangan telah disebar. Keluarganya akan malu jika ia
menolak. Bakti kepada orangtuanya jadi alasan kuat dia menerima. Meskipun belum
sepenuhnya.
“Jadi bagaimana nak, maumi ini
acara pernikahanta” basa-basi ibu Lisa
“Iye, kuterimami. Tapi mauka minta
tolong, boleh?” tanya Lisa
“Iye apa nak?” jawab ibunya
“Janganmaka di kellu. Baru di pisah
juga pengantin sama tamu laki-laki dengan perempuannya” pinta Lisa
“Bagaimana bisa, adatta itu. Tidak
bisa di buang”
“Iye ma, tapi kukira dalam islam
tidak boleh orang cukur alis. Nabita bilang” Lisa menjelaskan dengan santun
“Inimi na takutkan bapakta, makanya
natolak orang yang dulu datang. Tapi kenapa sekarang masih beginiki”
Lisa hanya menanggapi perkataan
ibunya dalam hati. Ia tak ingin berbicara lebih banyak. Takut ibunya tersinggung
dengan kata-katanya dan merasai digurui.
***
Ayah Lisa marah besar setelah
mendengar permintaan Lisa dari ibunya. Ia tetap akan melaksanakan adat
seutuhnya. Tidak peduli Lisa setuju atau tidak. Sebagai anak Lisa harus
mengikuti keinginan orangtuanya.
Lisa kembali menangis. Ia berlutut memohon
pada ayahnya agar mengabulkan permintaannya. Namun Ayahnya tetap bersikeras
menolak.
Ayah Lisa menarik kakinya lalu
pergi meninggalkannya. Derai air mata Lisa makin membuncah.
Baru saja ibunya juga hendak
meninggalkannya. Buru-buru ia cegah. Menarik tangan ibunya. Lisa meletakkan
keningnya di tangan ibunya. Ia memohon agar membujuk ayahnya. “Ma, saya mohon. Kasi
tahu bapak. Saya takut dosa, ma”
Lisa tak henti-hentinya memohon.
Bulir asin yang tertahan di mata ibunya kini benar-benar tumpah. Ia tak tega.
Baru kali ini ia melihat anaknya memohon seperti itu. Tapi ia juga tak bisa
berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan ayah Lisa.
“Sudahlah, terserah kamu saja.
Kalau keluarga besar kita marah. Kamu tanggung sendiri” Lisa tersentak dengan
suara ayahnya yang tetiba muncul.
Seketika rona wajah Lisa berubah. Lisa
lega izin ayahnya telah ia genggam meskipun seperti terpaksa. Selanjutnya ia
harus menyiapkan mental karena tau jelas prinsip keluarga besarnya terhadap
adat. Ia harus siap dengan segala resikonya. Toh memang seperti itulah
sejatinya perjuangan.
Seseorang akan sulit lepas sepenuhnya
dari bayang-bayang adat dan budaya. Dimanapun ia berada. Lisa menyadari itu. Ia
berjuang untuk meyakinkan keluarganya bahwa adat dan budaya tak boleh memakan
keyakinan kita. warisan nenek moyang kita tak perlu di musnahkan seutuhnya. Hanya
butuh disesuaikan pada keyakinan agama kita.
![]() |
| Om Google |

kak, kayaknya ngegantung ini cerita. tapi, pengalaman pribadi lebih mudah untuk dituangkan dalam bentuk tulisan memang. *nyinggung diri sendiri
BalasHapuskayaknya sudah dua tulisanku yg dikomen gantung di'. sepertinya sy mmng suka mngantung pembaca. membiarkan merka brimajinasi sndiri dengn kelanjutan ceritaya.
Hapus#ngeles, padahal bisa jadi memang sudah tidak tau melanjutkan
Wawa, ih wawa... nda moka saya jadi Lisa. *eh siapa yg nyuruh yah hehe
BalasHapusSaran: perhatikan awalan 'di' sebagai kata depan dan 'di' sebagai kata pasif. hehehe lumayan tuh yang uncorrect :D
Insya Allah berkunjung terusma. Wa. Tapi yang fiksi2ji bisa kukomentari. yang lain hands up ma nah. hehehe
iya thanks sarannya is...sering-seringki memang datang nah dengan komen-komenta
Hapus